Jumlah Kasus COVID-19 Indonesia Diprediksi Meningkat Pasca Lebaran!

Oleh Tamara Anastasia pada 20 May 2020, 17:09 WIB
Sebelumnya bulan Juni diprediksi jadi bulan berakhirnya pandemi di Indonesia. Kini muncul lagi prediksi baru yaitu jumlah pasien COVID-19 meningkat di Juni.
Jumlah Kasus COVID-19 Indonesia Diprediksi Meningkat Pasca Lebaran! (Foto: Liputan6.com/Faizal Fanani)

Klikdokter.com, Jakarta Tak terasa Lebaran tinggal hitungan hari. Pasti sudah tak sabar, ya, menyambut momen ini! Namun, Lebaran kali ini akan berbeda dari sebelumnya karena ada pandemi virus corona yang menyebabkan banyak orang tidak bisa pulang kampung.

Bahkan, tidak hanya pulang kampung saja yang tidak diperbolehkan oleh pemerintah, tapi bersilaturahmi ke rumah para kerabat pun sebaiknya dihindari karena bisa meningkatkan risiko penyebaran virus corona di wilayah tersebut.

Kabar terbarunya, para ahli memprediksi bahwa akan ada lonjakan kasus positif virus corona di Indonesia pasca Lebaran.

Peningkatan Kasus Positif COVID-19 di Indonesia Bisa Capai 40 Ribu

Sebagian besar masyarakat di Indonesia, khususnya di Jakarta, pasti sudah paham bahwa Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan larangan mudik Lebaran pada momen Idul Fitri tahun 2020.

Meski begitu, para ahli memprediksi bahwa kenaikan kasus di Indonesia akan melambung tinggi saat memasuki minggu ke-2 bulan Ramadan.

Melansir Kompas, prediksi ini dibuat oleh Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono bersama dengan timnnya di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI).

Pandu menyebutkan prediksi ini dibuat berdasarkan kecenderungan tindak mobilitas masyarakat melalui perilaku mudik dan tidak mudik.

Menurutnya, pergerakan yang dilakukan masyarakat selama pandemi berlangsung sangat berpengaruh terhadap bertambahnya jumlah kasus pasien positif di Jakarta maupun non-Jakarta.

Hasil prediksinya ini dibuat melalui pemodelan data estimasi kumulatif berdasarkan data utama terkait orang dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, yang mulai melakukan mudik Lebaran ke provinsi Jawa lainnya.

Berdasarkan hasil survei, potensi pemudik Lebaran tahun 2019 oleh Kementerian Perhubungan, tercatat ada 14,9 juta orang atau sekitar 44,1% dari warga Jabodetabek.

Lalu, survei ini dilakukan kembali pada 2020. Hasilnya memprediksi ada 56% warga Jabodetabek yang tidak mudik, 37% masih mempertimbangkan, dan 7% telah mudik.

Pemodelan ini menunjukkan ada sekitar 20% warga Jabodetabek yang masih bandel untuk mudik keluar provinsi, dan akan tinggal di kampung halamannya selama 7 hari (rata-rata).

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

1 of 4

Kasus COVID-19 Meningkat karena Masyarakat Tidak Patuh

Kasus COVID-19 Meningkat karena Masyarakat Tidak Patuh (dok Humas Pemkot Bogor)
Kasus COVID-19 Meningkat karena Masyarakat Tidak Patuh (dok Humas Pemkot Bogor)

Seperti yang disebutkan sebelumnya, masyarakat bandel yang masih memaksa mudik menjadi salah satu faktor yang menyebabkan meningkatnya jumlah kasus positif virus corona di Indonesia.

Tapi, tidak hanya pemudik bandel yang bisa meningkatkan risiko kenaikan jumlah pasien positif COVID-19 di Indonesia, tapi orang-orang yang masih memaksa pergi ke rumah tetangga juga jadi salah satu faktornya.

Melansir kumparan, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menjelaskan antisipasi kemungkinan terjadinya penularan virus corona akibat aktivitas masyarakat saat Lebaran harus dilakukan.

Menurutnya, jika Lebaran nanti banyak orang yang keluar rumah dan beramai-ramai berkeliling seperti tahun-tahun sebelumnya, maka penyebaran virus corona bisa kembali seperti di bulan Maret.

Kalau kondisinya sampai seperti di bulan Maret, itu sudah masuk dalam gelombang kedua (second wave).

Menanggapi hal ini, dr. Devia Irine Putri mengatakan, “Lonjakan bisa terjadi karena pemudik bandel. Mengingat kota-kota besar seperti Jakarta sudah jadi zona merah dan daerah transmisi lokal virus corona. Akibatnya, kalau para pemudik ini balik ke kampung halaman, bisa saja virus corona jadi menyebar luas.”

“Ditambah lagi kalau yang mudik itu sudah berdesakkan di bandara maupun tempat lainnya, seperti terminal dan pelabuhan. Ini bisa semakin meningkatkan risiko penularan. Kalau ada orang yang nekat mudik padahal positif tapi tidak bergejala, ya, ini bisa jadi carrier untuk banyak orang,” tambahnya.

Artikel Lainnya: Waspada! WHO Peringatkan Adanya Peredaran Obat Virus Corona Palsu!

2 of 4

Negara-Negara Perketat Penjagaan Lebaran saat Pandemi COVID-19

Ilustrasi COVID-19
Ilustrasi COVID-19

Tidak hanya di Indonesia yang memperketat penjagaan Lebaran saat pandemi virus corona, tapi beberapa negara seperti Turki, Arab Saudi, dan Mesir juga perketat negaranya.

1. Turki

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengumumkan akan menerapkan jam malam di seluruh negeri selama libur hari raya Idul Fitri, mulai dari 23-26 Mei.

Erdogan menuturkan jam malam ini diterapkan demi memutus rantai penyebaran penularan virus corona yang sudah menginfeksi lebih dari 150.000 warganya.

2. Arab Saudi

Arab Saudi juga memutuskan untuk menerapkan lockdown di seluruh wilayah saat perayaan Idul Fitri tahun ini. Lockdown akan diterapkan pada 23-27 Mei mendatang untuk menurunkan jumlah kasus COVID-19 di sana.

3. Mesir

Perdana Menteri Mesir, Mostafa Madbouly mengumumkan akan memberlakukan jam malam penuh yang dimulai dari tanggal 24-26 Mei. Toko, restoran, taman, dan pantai akan ditutup untuk liburan panjang di akhir bulan Ramadan.

Sedangkan, pembatasan pergerakan warganya akan tetap berlaku, setidaknya dua pekan sesudahnya.

3 of 4

Apa yang Harus Dilakukan agar Peningkatan Tak Terjadi?

Ilustrasi Physical Distancing
Ilustrasi Physical Distancing

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah tidak mudik dan tetap physical distancing. Namun, bila memang sudah terlanjur mudik, lakukanlah isolasi mandiri yang bisa bantu menekan angka positif COVID-19 di Indonesia.

“Kalau sudah terlanjur, ya, orang-orang yang pulang ke kampung halaman setidaknya isolasi mandiri. Hindari berkerumun di tempat ramai dan tetap physical distancing. Bila ada gejala, segera lapor ke puskesmas untuk pendataan dan pemeriksaan lanjut,” tutup dr. Devia.

Jangan khawatir, KlikDokter bersama Kementerian Kesehatan RI dan BNPB menyediakan layanan cek risiko virus corona online dan rapid test yang bisa Anda manfaatkan untuk periksa gejala.

Lakukan konsultasi dengan dokter #DiRumahAja pakai fitur Live Chat 24 jam di aplikasi KlikDokter.

(FR/AYU)

Lanjutkan Membaca ↓