Kata Penelitian, Mayoritas Pasien COVID-19 Meninggal Kurang Vitamin D!

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 29 Jun 2020, 14:16 WIB
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien infeksi COVID-19 yang meninggal karena kurang vitamin D. Benarkah demikian?
Kata Penelitian, Mayoritas Pasien COVID-19 Meninggal Kurang Vitamin D!

Klikdokter.com, Jakarta Hubungan vitamin D dan virus corona ternyata cukup erat. Penelitian menyebutkan, mayoritas pasien yang terkena virus corona dan kemudian meninggal akibat kurang vitamin D. 

Pasien Virus Corona yang Meninggal Kekurangan Vitamin D

Pejabat kesehatan publik di Inggris telah meluncurkan tinjauan mendesak tentang peran potensial vitamin D dalam melindungi orang yang kena virus corona. 

Mereka mengeksplorasi apakah kekurangan vitamin D dapat membantu menjelaskan mengapa warga kulit hitam dan warga Asia lebih mungkin meninggal karena virus COVID-19.

Ulasan ini muncul setelah data yang mengkhawatirkan bahwa 94% dari dokter yang meninggal karena COVID-19 di Inggris berkulit hitam, ras Asia, dan dari kelompok etnis minoritas lainnya.

"Angka-angka ini sangat mengganggu. Ini adalah angka yang tidak dapat dijelaskan tentang variasi statistik murni," kata dr. Chaand Nagpaul, ketua British Medical Association, kepada BBC

Para ahli sepakat bahwa sistem kekebalan mereka memiliki kadar vitamin D yang rendah. 

Beberapa bukti terbatas bahwa kekurangan semacam itu bisa membuat lebih sulit untuk pulih dari infeksi paru-paru.

Orang dengan kulit yang lebih gelap mungkin membutuhkan lebih banyak sinar matahari untuk mendapatkan kadar vitamin D yang direkomendasikan dibanding orang dengan kulit yang lebih terang. 

Hal ini mendorong teori bahwa warga negara kulit hitam dan Asia di Inggris mungkin tidak mendapatkan cukup vitamin D, yang membuat mereka lebih rentan terhadap COVID-19.

Namun, para ahli mengingatkan bahwa ini hanya teori dan perlu didukung dengan bukti berkualitas tinggi. Sangat bagus kalau uji klinis acak yang dirancang khusus untuk menjawab pertanyaan ini.

Diharapkan ada penelitian yang menunjukkan bahwa kekurangan vitamin D saja tidak mungkin untuk menjelaskan perbedaan mencolok antara kelompok ras dan etnis yang berbeda ketika berhubungan dengan COVID-19.

"Kemungkinan ada banyak alasan berbeda. Orang kulit hitam atau Asia lebih mungkin menderita infeksi COVID-19," kata ahli farmasi Andrew Hill, MD, dari University of Liverpool, Inggris.

"Perumahan yang lebih padat penduduknya, prevalensi diabetes dan hipertensi yang lebih tinggi, lebih mungkin menggunakan transportasi umum dan juga berpotensi menurunkan kadar vitamin D. Saya ragu bahwa kekurangan vitamin D adalah satu-satunya alasan untuk risiko infeksi COVID-19 yang lebih tinggi," sambungnya.

Pemerintah Inggris sedang menjajaki sejauh mana vitamin D mungkin memainkan peran dalam infeksi paru-paru di antara kesehatan warga minoritasnya.

Artikel Lainnya: Benarkah Social Distancing Virus Corona Bisa Dilakukan Sampai 2022?

1 of 4

Vitamin D Bisa Kurangi Efek Badai Sitokin

Ilustrasi Vitamin D
Ilustrasi Vitamin D

Satu hal yang diketahui pasti, vitamin D ternyata bisa mengurangi efek badai sitokin. Menurut dr. Devia Irine Putri, badai sitokin adalah munculnya zat antibodi yang berlebihan pada tubuh. 

"Pada orang normal, kalau ada virus atau kuman lain, kan, merangsang sistem kekebalan tubuh untuk membunuh si virus dan kuman dalam bentuk peradangan lokal di organ yang kena biar mati. Nah, pada beberapa orang, justru sistem kekebalan tubuhnya berlebihan, jadinya malah hiperinflamasi. Tidak cuma di organ yang ada virusnya, tapi bisa kemana-mana," ujar dr. Devia.

"Cytokines storm ini biasanya berhubungan dengan penyakit yang infeksi [pas zaman flu burung dan flu babi dilaporkan juga ada kejadian ini] sama penyakit non-infeksi, seperti multiple sclerosis," sambungnya.

Badai sitokin yang terjadi akibat infeksi virus, terutama virus corona, dapat mengakibatkan kematian dikarenakan sitokin yang merespon berlebihan dan mengakibatkan peradangan hebat pada paru-paru. Hal ini lebih berbahaya daripada virus corona itu sendiri. 

Tak hanya itu, fungsi paru-paru dapat menurun seiring dengan tidak terkendalinya sitokin pada area yang sedang terjadi peradangan. Maka dari itu, sering pada pasien penderita COVID-19 membutuhkan ventilator untuk membantu pernapasannya.

Dalam kondisi ini, vitamin D disebut berperan penting sebagai imunoregulasi agar menekan sistem kekebalan tubuh merespon berlebihan peradangan yang diakibatkan infeksi virus corona sehingga badai sitokin tidak terjadi. Dengan begitu, kematian akibat badai sitokin bisa lebih ditekan.

Dengan mengonsumsi vitamin D yang cukup, dapat membantu Anda terlindung dari berbagai penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang diakibatkan oleh bakteri, organisme patogen berbahaya, dan virus, terutama virus corona yang dapat menyebabkan komplikasi serius atau bahkan kematian.

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

2 of 4

Perlukah Tingkatkan Vitamin D dalam Tubuh?

Ilustrasi Wanita Minum Suplemen Vitamin D
Ilustrasi Wanita Minum Suplemen Vitamin D

Meningkatkan vitamin D dalam tubuh menurut dr. Devia sangat penting. Selain itu, vitamin D disebut-sebut mampu memproteksi orang dari COVID-19. 

Vitamin D sangat penting untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan, terutama untuk tulang, gigi, dan otot. 

Ini mengatur simpanan kalsium dan fosfat tubuh dan membantu kita menjaga sistem kekebalan tubuh yang sehat. 

Kita bisa mendapatkan vitamin D dari ikan berminyak, kuning telur, daging merah, dan makanan tambahan dalam makanan kita. Sebagian besar vitamin D dalam tubuh diproduksi di kulit karena paparan sinar matahari.

"Iya, vitamin D juga berperan membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Kita bisa berjemur, konsumsi makanan mengandung vitamin D seperti susu, telur, sereal, ikan, atau minum suplemen vitamin D atau multivitamin," ungkap dr. Devia.

Konsentrasi vitamin D lebih rendah pada orang obesitas, orang yang memiliki tekanan darah tinggi atau diabetes, dan mereka yang merokok. 

Pola makan yang buruk pada penderita penyakit jantung serta gaya hidup yang tidak aktif dan jauh dari sinar matahari berkontribusi pada penurunan konsentrasi vitamin dalam darah. Sementara, merokok memengaruhi pengaturan vitamin D dan kalsium.

Kondisi di atas sangat dikaitkan dengan peningkatan risiko COVID-19 dan bentuk penyakit yang lebih parah. 

Karena itu, telah disebutkan sejak lama bahwa orang dengan vitamin D rendah berisiko lebih tinggi terhadap infeksi atau memiliki hasil yang lebih buruk terkait COVID-19.

3 of 4

Bila Terinfeksi COVID-19, Bagaimana Tingkatkan Vitamin D?

Nah, kalau pasien COVID-19 memang benar-benar perlu memerhatikan asupan vitamin D. Dokter Devia menegaskan, ini bisa didapatkan dari makanan dan minuman. 

"Selain itu, bisa tambahkan suplemen vitamin D atau beli suplemen multivitamin yang ada vitamin C dan D-nya," kata dr. Devia.

Pada akhirnya, vitamin D membantu pemulihan pasien COVID-19 agar bisa mendapatkan kembali kondisi yang fit. Jadi, vitamin D memang diperlukan baik yang tidak terinfeksi maupun yang sudah terkena COVID-19.

Jangan lupa jaga asupan vitamin D dan vitamin lainnya agar sistem kekebalan tubuh kita terjaga. Bila ingin konsultasi seputar konsumsi vitamin kepada dokter, pakai fitur LiveChat di aplikasi KlikDokter.

(FR/AYU)

Lanjutkan Membaca ↓