Setelah Beijing, Giliran Leicester Inggris Lakukan Lockdown Lagi!

Oleh Tamara Anastasia pada 29 Jun 2020, 16:01 WIB
Niat cabut aturan lockdown, Leicester Inggris justru kembali hadapi lonjakan kasus tinggi di bulan Juni. Alhasil, usulan lockdown lokal kembali disarankan.
Setelah Beijing, Giliran Leicester Inggris Lakukan Lockdown Lagi!

Klikdokter.com, Jakarta Setelah Tiongkok dan Jerman, kini giliran kota Leicester di Inggris harus kembali melakukan lockdown. Dilaporkan ada sekitar 658 orang kembali terinfeksi virus corona sejak awal Juni kemarin. 

Hal ini pun membuat pemerintah Inggris berencana menutup akses keluar dan masuk di kota Leicester guna mencegah peningkatan jumlah kasus virus corona

Pemerintah Inggris Berencana Akhiri Lockdown 4 Juli 

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson mengumumkan pada 4 Juli nanti negaranya akan mengakhiri kebijakan lockdown dan mencabut pembatasan-pembatasan di negara tersebut. 

Sejumlah bar, museum, pub, bioskop, dan restoran rencananya akan kembali dibuka untuk umum. 

Para anggota Kabinet Inggris akan bertemu pada hari Selasa besok untuk menandatangani keputusan izin dibukanya aktivitas tempat-tempat umum.

Ini termasuk teater dan salon pada 4 Juli besok. Peresmian ini secara efektif juga menandai berakhirnya lockdown di negeri Ratu Elizabeth tersebut. 

Saat berada di House of Commons nanti, Johnson juga akan untuk menentukan rincian tentang bagaimana pub dan tempat sosial lainnya dapat dibuka dengan aman. 

Salah satunya dengan mengajukan revisi aturan jaga jarak, dari yang sebelumnya 2 meter per orang, dikurangi menjadi 1 meter.

1 of 5

658 Orang di Leicester Positif Virus Corona

Ilustrasi Positif Virus Corona
Ilustrasi Positif Virus Corona

Mengutip BBC, Menteri Dalam Negeri Inggris Priti Patel mengatakan, Leicester bisa menjadi kota pertama di Inggris yang kembali melakukan lockdown lokal akibat meningkatnya infeksi virus corona. 

Selain itu, Walikota Leicester, Peter Soulsby telah berkoordinasi dengan kepala petugas medis untuk mengadakan tes infeksi coronavirus yang lebih luas. 

Ia juga telah memiliki laporan data dari hasil tes COVID-19 yang akan menentukan langkahnya ke depan. 

Menurut laporan dari Guardian, ada sekitar 650-an kasus infeksi virus corona baru di Leicester dalam dua minggu pertama di bulan Juni. 

Karena jumlah kasus meningkat secara signifikan, sejumlah restoran dan sekolah pun kembali ditutup untuk sementara. 

Sebuah laporan juga mengatakan, bahwa kasus penularan terbaru di Leicester mungkin bisa berasal dari orang yang menunggu pesanan takeaway-nya di luar sebuah restoran. 

Profesor Keith Neal, seorang epidemiolog penyakit menular di Universitas Nottingham mengatakan, orang-orang yang kotanya sedang di-lockdown harusnya paham mengapa daerahnya diberlakukan aturan tersebut.

“Mereka harus paham, kenapa kotanya di-lockdown. Berarti ada yang salah juga dari perilaku masyarakatnya. Orang-orang tidak sadar dengan batasan wilayah mereka, dan mereka tidak benar-benar tahu sedang berada di daerah rawan atau tidak,” ujarnya. 

Selain itu, Patel juga khawatir dengan aksi demo yang berlangsung belakangan ini. Aksi demo Black Lives Matter dan fans Liverpool FC yang memenangkan Liga Premier, bisa jadi sumber penyebaran virus corona. 

“Selamat untuk kemenangan yang diraih oleh Liverpool, tapi penggemarnya juga harus sadar bahwa sekarang kita sedang berada di situasi pandemi yang berisiko menularkan penyakit jika berada di kerumunan orang,” kata Patel. 

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

2 of 5

Leicester Terpaksa Ikuti Lockdown Lokal

Lockdown di Leicester
Lockdown di Leicester

Karena peningkatan kasus virus corona sangat tinggi, kota Leicester di Inggris dikabarkan akan di-lockdown lokal. Puluhan pasien telah dirawat di rumah sakit, dan memicu lonjakan kasus yang tinggi. 

Melansir dari Metro, ada infeksi baru di Sainsbury, pabrik sandwich, dan ada  lima sekolah yang kini telah ditutup untuk sementara. 

Laporan dari The Sunday Times juga menjelaskan Pemerintah Inggris sedang bersiap untuk memutuskan apakah diperlukan lockdown lokal di Leicester atau tidak, dan Sekretaris Kesehatan, Matt Hancock dikabarkan akan meninjau ulang rencana tersebut.

Departemen Kesehatan dan Perawatan Sosial pada hari Minggu pun menuturkan Kota Leicester merupakan daerah yang memprihatinkan. Ini karena penduduk kotanya banyak yang terjangkit virus corona. 

“Kami mendesak masyarakat Leicester untuk terus berlatih menjaga jarak sosial, mencuci tangan secara teratur, dan segera melakukan test jika mengalami gejala-gejala COVID-19,” ujar seorang Juru Bicara Departemen Kesehatan dan Perawatan Sosial di Leicester.

Tidak hanya itu, mereka juga telah mengerahkan empat unit mobile testing ke seluruh kota dan menyediakan ribuan alat tes COVID-19 yang bisa dilakukan di rumah. 

Dinas kesehatan setempat meminta masyarakat untuk melakukan physical distancing sekitar 2 meter dengan orang lain. 

Artikel Lainnya: Benarkah Social Distancing Virus Corona Bisa Dilakukan Sampai 2022?

3 of 5

Ada Kemungkinan Bukan Kasus Lokal

Ilustrasi Wanita Memakai Masker untuk Mencegah Penularan Virus Corona
Ilustrasi Wanita Memakai Masker untuk Mencegah Penularan Virus Corona

Masih menurut laporan dari The Sunday Times, Patel sendiri tidak memberikan tahu persis berapa orang yang mungkin tertular di daerah Leicester tersebut. Namun sebagai informasi, populasi di Leicester saat ini ada sekitar 330.000 orang. 

Lonjakan kasus dikhawatirkan terjadi akibat beberapa komunitas besar yang tinggal di daerah Leicester.

Menanggapi hal ini, dr. Devia Irine Putri mengatakan, adanya komunitas-komunitas besar dari luar kota yang masuk ke Leicester memang bisa jadi sumber penyebaran virus corona. 

Namun, dirinya tidak bisa banyak berkomentar, sebab belum ada informasi atau data valid yang menjelaskan sumber penularan virus corona tersebut. 

Negara Inggris sendiri memiliki angka kematian akibat virus corona tinggi di Eropa, dengan total 43.550 korban jiwa (29/6). 

Akibatnya, Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson dikritik keras dan dianggap punya respons lambat serta kacau saat mengatasi pandemi.

4 of 5

Perlukah Lockdown Lokal di Leicester?

Menurut dr. Devia, dengan adanya lonjakan kasus yang sangat tinggi dalam 2 minggu pertama di bulan Juni, lockdown lokal memang seharusnya kembali diberlakukan. 

Bukan untuk mematikan perekonomian suatu kota atau negara, tapi guna memutus rantai penyebaran COVID-19 yang ada di kota tersebut. 

“Jadi selama lockdown lokal, tim medis, dan sejumlah pihak yang bersangkutan akan fokus menyembuhkan pasien COVID-19 dan melakukan contact tracking ke seluruh kota, agar tiap orang yang positif virus corona bisa langsung diobati dan disembuhkan,” tutup dr. Devia. 

KlikDokter juga telah bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk menekan angka persebaran virus corona. 

Apabila penasaran atau ada pertanyaan soal COVID-19 gunakan fitur LiveChat untuk konsultasi langsung dengan dokter. Sedangkan untuk mengetahui gejala, Anda bisa mencoba tes coronavirus online di sini. 

(OVI/AYU)

Lanjutkan Membaca ↓