Kasus Virus Corona Meningkat, Giliran XinJiang Lockdown
searchtext customer service

Muncul Kasus Virus Corona Baru di Kota Xinjiang, Adakan Tes Massal!

Muncul 17 kasus baru di XinJiang, China. Pemerintah adakan tes massal ke seluruh kota. Perlukah dilakukan?
Muncul Kasus Virus Corona Baru di Kota Xinjiang, Adakan Tes Massal!

Klikdokter.com, Jakarta Beberapa waktu lalu, muncul puluhan kasus virus corona baru di Kota Beijing dan Anxin, Tiongkok. Kini, giliran Kota Xinjiang yang terdapat kasus baru COVID-19. 

Wabah coronavirus terbaru ini telah menyebar ke dua wilayah di barat laut Xinjiang. Untuk memutus rantai penyebaran COVID-19, Pemerintah Tiongkok sampai harus melakukan lockdown wilayah dan tes COVID-19 massal.

Sebanyak 17 Kasus Virus Corona Ditemukan di Xinjiang

Pemerintah Tiongkok melaporkan dalam satu hari telah ditemukan 17 kasus baru virus corona di wilayah Xinjiang. 

Kasus ini muncul sejak Minggu (19/7) kemarin dan merupakan kasus domestik atau kasus yang berasal dari penularan di tengah masyarakat. 

Dari 17 kasus tersebut, satu kasus terdapat di kota Kashgar dan 16 lainnya ada di wilayah Urumqi. Pihak berwenang Urumqi telah berusaha mencegah penyebaran dengan menutup komunitas dan memberlakukan pembatasan perjalanan.

1 dari 4

Xinjiang Harus Lakukan Lockdown

Xinjiang Harus Lakukan Lockdown
loading

Sejak minggu lalu, Urumqi telah mencatat 50 kasus tanpa gejala. Menurut aturan di Tiongkok, infeksi tanpa gejala ini tidak dianggap sebagai kasus yang dikonfirmasi.

Selain itu, pada Jumat (17/7), setelah Urumqi melaporkan ada penambahan 6 kasus baru dalam dua hari, pihak berwenang langsung melakukan lockdown semua perumahan dan tempat umum yang ada di Urumqi.

Masyarakat dilarang untuk meninggalkan komplek perumahan dan seluruh pusat perbelanjaan maupun hotel juga kembali ditutup. 

Pada hari Sabtu, Pemerintah Xinjiang menyatakan wilayah Urumqi telah masuk ke "masa perang". 

Artinya,pemerintah setempat melarang semua pertemuan publik dan mengatur penduduk untuk tetap berada di rumah. 

Mereka yang harus pergi ke luar rumah harus terlebih dahulu melakukan tes negatif untuk virus corona.

Menanggapi hal ini, dr. Devia Irine Putri mengatakan langkah yang diambil oleh pemerintah setempat sebenarnya termasuk langkah yang efektif untuk memutus rantai penyebaran COVID-19. 

Namun sayangnya, tidak semua negara bisa langsung melakukan sistem lockdown

“Sebenarnya kalau memang kasusnya masih sedikit, bisa dilakukan tracing kontak dengan siapa-siapa saja. Kalau untuk pertimbangan lockdown sebenarnya bisa, tapi ini bergantung lagi dengan kebijakan pemerintah. Tidak serta merta ada kasus baru, semua negara bisa langsung melakukan sistem lockdown,” ujar dr. Devia.

Artikel Lainnya: Presiden Joko Widodo: Puncak COVID-19 di Bulan Agustus-September!

2 dari 4

Xinjiang Lakukan Tes Massal Virus Corona

Ilustrasi Tes Massal Virus Corona di Xinjiang
loading

Tidak hanya melakukan sistem lockdown, tapi Xinjiang juga melakukan tes massal pada seluruh warganya. 

Tes massal virus corona ini dimulai dengan lingkungan atau satu kelompok yang dianggap berisiko tinggi tertular. 

Lebih dari 1.600 pekerja kesehatan di Urumqi diarahkan untuk melakukan tes dan 200 pekerja medis dari 10 provinsi dikirim ke Xinjiang untuk membantu proses tes massal virus corona. 

Pemerintah yang mengatur regulasi kota juga telah memeriksa 75 pasar makanan, 237 supermarket, serta 638 restoran. Hasilnya, semua karyawan, pedagang, dan produk di pasar dinyatakan negatif virus corona. 

Pada Minggu pagi, masyarakat Urumqi melakukan tes di bawah pengawasan medis rumah sakit dan diisolasi sendiri di rumah. Pemerintahnya pun masih melacak sumber lonjakan dalam kasus.

“Untuk tes massal sendiri memang bisa jadi alternatif. Karena pastinya suatu negara pasti ingin cari aman dari infeksi virus corona. Tes massal ini bisa dilakukan untuk orang yang sudah kontak langsung atau belum kontak langsung, sehingga bisa dapat hasil yang pasti,” ujar dr. Devia.

Artikel Lainnya: Apa Orang Indonesia Bisa Adaptasi dengan New Normal COVID-19?

3 dari 4

Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia?

loading

Jika dibandingkan dengan Indonesia, pergerakan Tiongkok untuk menanggapi pandemi virus corona memang tergolong sangat cepat. 

Bahkan, baru belasan kasus yang muncul saja, pemerintah setempat langsung memberlakukan sistem lockdown dan tes massal. 

Namun, menurut dr. Devia, setiap negara memang memiliki caranya masing-masing untuk mengatasi pandemi virus corona. 

Jika pelajaran apa yang bisa diambil, dr Devia mengatakan bahwa Indonesia sebenarnya sudah ikut melakukan tes massal. Sayangnya, tes ini masih kurang maksimal jumlahnya. 

“Sebenarnya di Indonesia sendiri sudah lakukan tes massal. Namun, memang kurang maksimal jumlah dan jangkauannya. Belum lagi ada orang-orang yang menolak untuk melakukan pemeriksaan COVID-19. Padahal, ini bisa bermanfaat untuk tatalaksana selanjutnya,” ujar dr. Devia. 

Untuk itu, dr. Devia mengimbau agar masyarakat tetap waspada dan jangan menganggap remeh pandemi virus corona. Semakin banyak masyarakat yang cuek, maka kasus penambahan virus corona di Indonesia akan semakin tinggi. 

Baca Juga

Masih penasaran seputar virus corona? Anda bisa langsung bertanya langsung ke dokter melalui fitur LiveChat 24 jam di aplikasi KlikDokter atau langsung membaca artikel yang tersedia. 

Untuk menekan angka persebaran virus corona, KlikDokter, BNPB, dan Kemenkes RI membuat komitmen tinggi bersama. Semoga masalah COVID-19 segera diatasi bersama. 

(OVI/AYU)

ARTIKEL TERKAIT

Mengapa Masih Banyak yang Skeptis dengan COVID-19? Ini Kata Psikolog

Info Sehat
20 Jul

Melakukan Rapat Temu Muka di Kantor, Ini Aturan Kesehatannya!

Info Sehat
20 Jul

Lampaui China, Jumlah Kasus COVID-19 Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara

Info Sehat
20 Jul

Benarkah Pandemi COVID-19 Bisa Sebabkan Gairah Seksual Menurun?

Info Sehat
19 Jul

Bocah 1,5 Tahun Tewas Setelah Alat Tes Swab COVID-19 Patah di Hidung

Info Sehat
19 Jul

REAKSI ANDA

0 KOMENTAR

Tulis Komentar Anda

Masuk KlikDokter untuk
meninggalkan komentar

Masuk
livechat