Balita Bisa Lebih Banyak Bawa Virus Corona!

Penelitian terbaru menghasilkan sebuah kejutan. Ternyata, anak di bawah usia 5 tahun bisa membawa lebih banyak virus corona dibanding usia di atasnya.
Balita Bisa Lebih Banyak Bawa Virus Corona!

Klikdokter.com, Jakarta Semua orang memang bisa jadi pembawa virus corona. Akan tetapi, berdasarkan penelitian terbaru, ternyata anak-anak berusia di bawah 5 tahun atau balita bisa lebih banyak membawa virus corona.

Sebelumnya, orang dewasa yang dianggap paling banyak membawa COVID-19 untuk ditularkan. Penelitian yang terbaru justru mengejutkan, rentang usia sangat muda yakni di bawah 5 tahun bisa lebih banyak membawa virus corona.

Anak Usia di Bawah 5 Tahun Banyak Bawa Virus Corona

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Pediatrics menyebutkan anak-anak di bawah usia 5 tahun memiliki tingkat 10 hingga 100 kali lebih tinggi materi genetik dari coronavirus dalam hidung mereka. Hal ini dibandingkan dengan anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa.

Penelitian ini berjudul “Age-Related Differences in Nasopharyngeal Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) Levels in Patients with Mild to Moderate Coronavirus Disease 2019 (COVID-19)”.

"Peneliti mau menjelaskan anak bisa jadi sumber penularan COVID-19 yang tak disadari dan berbahaya. Penelitian ini juga ingin mengetahui apakah gejala ringan pada anak ini disebabkan karena jumlah virusnya sedikit atau sebaliknya. Ini sekaligus untuk mengetahui kemungkinan perbedaan dengan yang dialami orang tua," ungkap dr. Devia Irine Putri setelah membaca hasil penelitian tersebut.

Dalam penelitian itu, peneliti membagi tiga kelompok usia pasien virus corona, yaitu mereka yang usianya kurang dari 5 tahun, rentang usia 5-18 tahun, dan usia 18-65 tahun. 

Artikel Lainnya: Wajib Dipatuhi, Jangan Bawa Anak ke Mal saat New Normal!

Berdasarkan tes swab serta pengecekan jumlah virusnya, ternyata pada anak-anak usia di bawah 5 tahun angkanya lebih tinggi dibandingkan orang dewasa dan anak-anak berusia di atas 5 tahun.

"Jadi, penelitian itu menjelaskan anak-anak di bawah 5 tahun jauh lebih infeksius atau mudah menularkan ke orang lain. Harapannya, saat vaksin sudah bisa diproduksi, target utamanya untuk anak-anak lebih dulu. Ini agar mereka tidak mudah menularkan kepada orang lain," jelas dr. Devia.

1 dari 3

Anak Usia 10-19 Tahun Berisiko Tinggi Menularkan Keluarganya

Anak Usia 10-19 Tahun Berisiko Tinggi Menularkan Keluarganya
loading

Sementara itu, penelitian lain yang berjudul “Contact Tracing during Coronavirus Disease Outbreak, South Korea, 2020”, juga menemukan hasil yang mirip dan memang masih berkaitan dengan anak-anak.

Bedanya, penelitian di Korea Selatan ini menitikberatkan terhadap rentang usia dan kasus penyebarannya.

Dalam penelitian tersebut dijelaskan anak-anak berusia 10-19 tahun berisiko tinggi menularkan COVID-19 bagi keluarganya atau yang tinggal serumah.

Anak dalam rentang usia 10-19 tahun berpeluang menyebarkan virus corona sama seperti orang yang lebih dewasa. Akan tetapi, anak-anak di bawah 9 tahun menularkan virus dengan tingkat yang lebih rendah.

Artikel Lainnya: Lindungi Si Kecil dari Virus Corona dengan Cara Ini Bunda!

"Penelitian kami menunjukkan, transmisi virus COVID-19 di rumah tangga tinggi bila indeks usia pasien ada dalam rentang 10-19 tahun. Dalam strategi mitigasi saat ini yang mencakup menjaga jarak, harus dioptimalkan agar virus tidak menyebar kepada individu, keluarga, dan masyarakat," tulis peneliti.

"Rekomendasi kesehatan masyarakat, termasuk kebersihan tangan dan pernapasan, harus didorong untuk mengurangi penularan virus COVID-19 di dalam rumah tangga yang terkena dampak," sambungnya.

2 dari 3

Sekolah dan Daycare Jadi Tempat Penularan Virus Corona

Sekolah Jadi Tempat Penularan Virus Corona (Foto: Liputan6)
loading

Kalau sudah begini, cita-cita untuk membuka sekolah atau daycare sebaiknya jangan dilakukan dulu hingga kondisi lebih aman. Lebih baik, menjaga anak-anak daripada memaksakan sesuatu yang berbahaya.

"Iya, bisa disimpulkan jangan buka sekolah dan daycare untuk saat ini. Tapi, kalau tidak ada penambahan kasus baru di negara tersebut, sudah boleh untuk buka sekolah. Kalau di Indonesia, sangat tidak disarankan," kata dr. Devia.

Baca Juga

Memang belakangan orang tua juga sudah mulai menjerit akibat aktivitas sekolah online. Akan tetapi, dua penelitian di atas setidaknya menjadi gambaran mengapa sampai sekarang sekolah dan daycare belum juga dibuka.

Jaga kesehatan Anda sekeluarga dan lakukan konsultasi dengan dokter #DiRumahAja pakai LiveChat 24 jam di aplikasi KlikDokter. Gunakan tes coronavirus online, rapid test, dan PCR untuk bantu menentukan gejala.

(FR/AYU)

Live Chat 24 Jam

Ingin konsultasi mengenai artikel di atas?

Masuk

REAKSI ANDA

ARTIKEL TERKAIT

Ini Persiapan Mental untuk Jadi Relawan Vaksin Virus Corona

Info Sehat
04 Agt

Bagaimana Mengetahui Klaim Medis Seseorang Benar atau Tidak?

Info Sehat
04 Agt

Selain Diare, Gejala Virus Corona yang Menyerang Pencernaan

Info Sehat
03 Agt

Ada Kasus COVID-19 di Kantor, Ini yang Harus Dilakukan agar Tak Cemas

Info Sehat
03 Agt

Waspada, Gejala Virus Corona Bisa Menetap Lebih Lama

Info Sehat
30 Jul

0 KOMENTAR

Tulis Komentar Anda

Masuk KlikDokter untuk
meninggalkan komentar

Masuk