Menyebar di Tiongkok, Hati-hati Serangan Virus Tick-Borne!
searchtext customer service

Menyebar di Tiongkok, Kenali Lebih Jauh Tick-Borne Virus

Di Tiongkok kini sudah menyebar virus baru bernama tick-borne. Apakah virus ini juga sama berbahayanya dengan virus corona?
Menyebar di Tiongkok, Kenali Lebih Jauh Tick-Borne Virus

Klikdokter.com, Jakarta Virus corona belum usai, sudah muncul lagi virus lainnya yang bernama tick-borne. Virus ini sudah menyebar di Tiongkok yang notabenenya tempat awal menyebarnya COVID-19. Tetapi, apakah tick-borne juga berbahaya?

Ternyata, virus ini cukup berbahaya. Kasus virus dengan nama lain Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome (SFTS) ini pertama kali muncul pada April 2020. Sejak itu, 37 orang di Provinsi Jiangsu, Tiongkok, sudah terkena.

Selain itu, sebanyak 23 orang juga terinfeksi di Provinsi Anhui, Tiongkok. Sampai saat ini, tujuh orang telah meninggal akibat virus tersebut.

Apa Itu Tick-Borne Virus?

Seperti dalam jurnal yang diterbitkan oleh National Center for Biotechnology Information, tick-borne virus disebabkan oleh phlebovirus, sebuah spesies dalam keluarga bunyavirus.

Penyakit ini ditularkan oleh binatang kutu Asia yang disebut Haemaphysalis iongicornis. Umumnya, jenis kutu ini ditemukan di wilayah Amerika, Asia, Afrika, dan Mediterania.

Tick merupakan kutu pembawa utama virus ini. Virus itu sendiri menyebar dari gigitan hewan yang terinfeksi. Bisa juga ketika orang melakukan kontak dengan darah, lendir, atau luka seseorang yang terinfeksi SFTS.

Virus SFTS telah muncul dari Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan dalam beberapa tahun terakhir. Kasus tersebut telah dilaporkan pada 2009, 2013, dan 2017.

Amerika Serikat juga telah melaporkan kasus dengan gejala yang lebih ringan, tetapi serupa. Studi kasus infeksi SFTS di Vietnam juga dilakukan, dan virus tersebut tidak diketahui menjadi endemi.

Ini menunjukkan, virus berpotensi ditularkan melintasi benua, meskipun sejauh ini hal tersebut belum menjadi perhatian otoritas kesehatan.

Virus ini diperkirakan menyebar dari Maret hingga November dengan infeksi memuncak antara April dan Juli.

Studi lain pada 2018 melihat tingkat penularan dan kematian virus tick-borne. Dilaporkan, 10-30 persen infeksi berakhir pada kematian.

Sesuai laporan, WHO telah mencantumkan virus tick-borne dalam blueprint tentang sepuluh penyakit prioritas teratas karena tingkat penyebaran dan kematiannya yang tinggi.

Artikel Lainnya: Mau Mulai Beraktivitas? Ini Level Risiko Terinfeksi Virus Corona!

1 dari 3

Apa Gejala yang Dialami Pasien Tick-Borne Virus?

Pasien Tick-Borne Virus Mengalami Demam
loading

Orang yang menderita infeksi SFTS menunjukkan gejala yang mirip dengan penyakit lainnya.

Menurut dr. Devia Irine Putri, gejala yang mungkin terjadi adalah demam, badan sakit, kelelahan, sakit kepala, bengkak pada kelenjar getah bening, mual dan muntah, diare, serta nafsu makan menurun.

Pasien dengan kasus demam berdarah SFTSV yang parah biasanya meninggal karena kegagalan multi organ. Menurut The Centers for Disease Control and Prevention (CDC), ada tanda dan gejala yang tak lazim dari virus, serta infeksi tanpa gejala.

Sebuah penelitian yang dilakukan dengan sampel kecil dari tiga belas orang juga sampai pada kesimpulan yang sama, setelah orang terinfeksi akibat bersentuhan dengan pasien yang sakit.

Artikel Lainnya: Hati-Hati, 5 Penyakit Ini Berawal dari Demam

2 dari 3

Terpapar Tick-Borne Virus, Apa yang Harus Dilakukan?

Ilustrasi Tick-Borne Virus
loading

Tidak ada jalan lain kalau sudah terpapar virus selain mendapatkan perawatan, biasanya untuk meredakan gejala. Hal ini terjadi karena belum ada vaksin khusus virus tick-borne.

"Kalau sudah terinfeksi, sebisa mungkin lakukan perawatan. Sebab, kalau tidak, bisa menyebabkan perdarahan hingga infeksi yang meluas ke sistem saraf pusat," ungkap dr. Devia.

Sementara, Anda bisa mencegah infeksi virus ini. Satu-satunya metode pencegahan untuk infeksi dan penularan SFTS yang paling direkomendasikan ialah menghindari gigitan kutu.

"Untuk mencegahnya, hindari bepergian ke daerah tempat kutu tinggal, misalnya ke hutan dan kebun. Jangan gunakan baju berlengan pendek dan bersihkan daerah sekitar secara rutin," kata dokter muda ini.

Baca Juga

Mengapa harus menghindari hutan dan kebun? Ini karena kutu berkembang di tempat-tempat seperti itu. Tindakan pencegahan harus diikuti dengan ketat selama musim panas, karena kutu berkembang biak secara aktif selama waktu itu.

Mulai sekarang, jangan sepelekan gigitan kutu, ya. Konsultasi ke dokter via LiveChat 24 jam di aplikasi KlikDokter bila mengalami keluhan pada kulit atau gigitan serangga.

(FR/AYU)

ARTIKEL TERKAIT

Kena Cacar Monyet, Berapa Lama Akan Sembuh?

Info Sehat
11 Agt

3 Penyebab Penyakit Autoimun yang harus Diwaspadai

Info Sehat
02 Agt

Fase Gejala HIV yang Wajib Anda Tahu

Info Sehat
26 Mei

Tanda dan Gejala HIV pada Minggu Pertama

Info Sehat
06 Mei

Setia pada Pasangan Seksual Belum Tentu Bebas dari Kanker Serviks

Info Sehat
05 Mei

REAKSI ANDA

0 KOMENTAR

Tulis Komentar Anda

Masuk KlikDokter untuk
meninggalkan komentar

Masuk
livechat