Terapi untuk Remaja yang Kecanduan Pornografi

Siapa yang tak pusing mengetahui anak remajanya sudah kecanduan pornografi? Yuk, ketahui terapi apa yang cocok untuk mengatasi adiksi tersebut.
Terapi untuk Remaja yang Kecanduan Pornografi

Klikdokter.com, Jakarta Sebagai orang tua, Anda tentu waswas saat anak tak sengaja terpapar konten pornografi, baik dalam bentuk cetak maupun digital. Dari sana, bisa saja mereka terpantik rasa ingin tahunya yang berujung pada kecanduan pornografi.

Kalau sudah kecanduan, mau tak mau jalan terapi harus ditempuh untuk menyembuhkan adiksinya.

Kecanduan Pornografi Itu Apa?

Seseorang disebut mengalami kecanduan pornografi saat konten-konten bermuatan porno, seperti  gambar, foto, suara, tulisan, video, kartun, percakapan, sudah sangat berdampak pada kehidupannya. Termasuk rusaknya hubungan sosial dan terganggunya aktivitas harian.

Sayangnya, gangguan ini tak mengenal usia. Orang dewasa, anak, hingga remaja sangat rentan terpapar konten bermuatan porno.

Berdasarkan catatan Kemenkes RI tahun 2017, misalnya, sebanyak 94 persen remaja sudah terpapar konten pornografi. Sementara pada 2018, angkanya naik hingga 98 persen.

Hal ini tentu menjadi kecemasan sendiri bagi orang tua. Nah, sebelum ortu “kecolongan”, cari tahu tanda-tanda remaja bisa disebut kecanduan pornografi.

Menurut psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi, anak dibilang masuk kategori kecanduan pornografi ketika dia merasa cemas atau tidak nyaman saat tidak bisa menonton konten porno.

“Hal ini dibarengi juga dengan perilaku masturbasi yang terus-menerus. Dia akan merasa sumber kesenangannya bersumber dari konten pornografi. Makanya, ketika dia butuh sesuatu agar mendapatkan kesenangan, dia nonton atau melihat konten pornografi,” ujar Ikhsan.

Selain itu, gejala adiksi pornografi pada anak adalah:

  • Anak terokupasi atau terus-menerus memikirkan pornografi sehingga memengaruhi konsentrasinya.
  • Intensitas menonton film pornografi semakin lama semakin meningkat.
  • Ada perubahan emosi ketika tidak menonton pornografi (jadi cemas atau merasa tidak tenang jika terlalu lama tidak nonton atau menyaksikan konten porno).
  • Adanya perubahan dalam perilaku, seperti lebih cenderung sering menyendiri karena untuk menonton film porno.
  • Meningkatnya aktivitas seksual si anak (masturbasi).
  • Menolak saat diminta melepas gadget-nya. Jika ditegur atau dibatasi pemakaiannya, dia akan marah.

Ikhsan menyarankan agar diberikan terapi pada anak untuk mengatasi gangguan adiksinya tersebut.

Artikel Lainnya: Kenali Tanda-Tanda Seseorang Kecanduan Seks

1 dari 3

Terapi Kecanduan Pornografi untuk Remaja

Ilustrasi Behavioral Modification Therapy
loading

Salah satu cara menghilangkan kecanduan pornografi pada remaja menurut psikolog Ikhsan adalah terapi modifikasi perilaku (behavioral modification therapy).

Terapi modifikasi perilaku adalah pendekatan terapeutik yang dirancang untuk mengubah perilaku negatif tertentu yang tidak diinginkan.

Dengan menggunakan sistem konsekuensi positif atau negatif, seorang individu mempelajari tanggapan yang benar untuk setiap stimulus yang diberikan. Tujuan terapi ini adalah mengubah perilaku yang sudah ada dan berkembang selama bertahun-tahun.

Tak hanya kecanduan pornografi, terapi modifikasi perilaku terbukti berhasil dalam mengobati gangguan kesehatan mental lainnya. Misalnya, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), obsessive-compulsive disorder (OCD), fobia, gangguan kecemasan, dan kondisi lainnya.

“Jadi ditentukan dulu perilaku apa yang akan jadi target perubahan. Setelah ditentukan target perilakunya, nanti ada rangkaian perilaku yang diubah step by step,” ujar Ikhsan.

“Usai atau selama terapi, anak memang tidak langsung pulih (sembuh) dari kecanduan, tapi berproses,” kata psikolog itu.

Keberhasilan terapi ini juga bergantung pada remaja tersebut. Kalaupun sembuh, tetap ada kemungkinan remaja kembali ke adiksi lamanya. Hal ini karena menyembuhkan seorang anak dari kecanduan bukan hal yang mudah.

Di lain sisi, pendampingan dan pengawasan orang tua juga penting untuk mencegah anak kecanduan seks, yakni dengan cara:

  • Menunjukkan kasih sayang, perhatian, serta penghargaan pada anak.
  • Mengenali teman-teman beserta lingkungan sekitarnya.
  • Membuat aturan bersama anak terkait penggunaan gawai.
  • Mendampingi saat anak menggunakan internet.
  • Saat remaja ketahuan mengakses laman porno, ortu harus mengajak berdialog. Jelaskan dengan baik dampak buruk pornografi.
  • Berikan pemahaman tentang penggunaan internet yang sehat dan aman.
  • Pasang aplikasi pengaman di gadget.
  • Memberikan edukasi seks sesuai usia anak.

Artikel Lainnya: Pasangan Gemar Nonton Pornografi? Ini Sebabnya

2 dari 3

Kapan Harus Temui Profesional?

Ilustrasi Kecanduan Nonton Film Porno
loading

Kecanduan konten porno yang tidak ditangani tentu memberikan banyak dampak buruk bagi remaja. Misalnya, turunnya prestasi di sekolah, pola tidur berubah, minim interaksi sosial, mudah marah, dan tersinggung.

Itulah sebabnya, jika anak sudah menunjukkan gejala kecanduan pornografi, dia harus segera diterapi oleh profesional.

“Kalau sudah masuk dalam tahap kecanduan, sebaiknya anak remaja diterapi. Alasannya, karena kecanduan itu akan ada namanya relapse (kambuh). Setelah terapi pun bisa saja (remaja) relapse,” kata Ikhsan.

Baca Juga

Selain itu, ketika remaja sudah mengalami gejala kecemasan, depresi, insomnia, atau kondisi kesehatan mental lain yang terkait dengan adiksinya, jangan tunda minta bantuan profesional.

Masih punya pertanyaan seputar kecanduan dan cara menghilangkan kebiasaan nonton film dewasa pada remaja? Yuk, manfaatkan layanan LiveChat 24 di aplikasi Klikdokter.

(AYU/ARM)

Live Chat 24 Jam

Ingin konsultasi mengenai artikel di atas?

Masuk

REAKSI ANDA

ARTIKEL TERKAIT

Segudang Dampak Negatif Menonton Video Porno pada Anak

Info Sehat
19 Mei

Berdampak Buruk bagi Mental, Ini 6 Tanda Kecanduan Nonton Film Porno

Info Sehat
27 Des

Kiat Lindungi Anak dari Pelecehan Seksual

Info Sehat
24 Jul

4 Cara Hentikan Kebiasaan Masturbasi Berlebihan

Info Sehat
18 Jul

Lakukan 4 Tindakan Ini Saat Ada Konten Mengganggu di Ponsel Anak

Info Sehat
20 Jun

0 KOMENTAR

Tulis Komentar Anda

Masuk KlikDokter untuk
meninggalkan komentar

Masuk