Periode Berisiko bagi Penyintas COVID-19: Sepuluh Hari Pertama Usai Sembuh

Dalam sebuah studi, sebagian pasien COVID-19 yang selesai dirawat inap berpotensi dirawat kembali dan bahkan meninggal dunia. Bagaimana faktanya?
Periode Berisiko bagi Penyintas COVID-19: Sepuluh Hari Pertama Usai Sembuh

Klikdokter.com, Jakarta Studi terbaru menyebut, sepuluh hari--atau satu setengah minggu--pertama setelah meninggalkan rumah sakit merupakan periode berbahaya bagi penyintas COVID-19. Mereka berpotensi kembali dirawat atau bahkan berhadapan dengan kematian.

Dilansir dari Deccan Herald, para peneliti menemukan, pasien COVID-19 berisiko 40-60 persen lebih tinggi dirawat kembali di rumah sakit atau meninggal. Tingkat risiko itu dibandingkan dengan pasien penyakit lain, misalnya, mereka yang dirawat karena gagal jantung atau pneumonia.

Lantas, bagaimana faktanya?

1 dari 3

Kenapa 10 Hari Pertama Usai Sembuh Berbahaya bagi Penyintas?

Kenapa 10 Hari Pertama Usai Sembuh Berbahaya bagi Penyintas?
loading

Studi tersebut diterbitkan dalam Journal of American Medical Association (JAMA). Para peneliti membandingkan hasil pasca rumah sakit dari sekitar 2.000 pasien COVID-19 yang dirawat inap di 132 rumah sakit dengan 1.800 pasien pneumonia, dan 3.500 pasien penyakit jantung.

Selama dua bulan pertama, 9 persen dari penyintas COVID-19 yang sembuh dan selesai rawat inap sudah meninggal. Lalu, kurang lebih 20 persen dari mereka kembali sakit sehingga terpaksa dirawat lagi di rumah sakit.

Menurut penulis utama studi, yang juga ahli epidemiologi di University of Michigan, John P. Donnelly, pola risiko itu tampak lebih besar dalam 1-2 pekan pertama. Kesimpulan itu diperoleh melalui perbandingan hasil jangka panjang pasien COVID-19 dengan pasien penyakit parah lainnya.

Perbedaan pada studi tersebut dipengaruhi secara signifikan oleh faktor usia. Sekitar setengah dari pasien berusia 70-an dan 80-an meninggal dunia dalam 60 hari setelah meninggalkan rumah sakit.

Artikel lainnya: Update WHO: Kriteria Baru Pasien Virus Corona yang Bisa Sudahi Masa Isolasi

Dari 2.179 pasien COVID-19, diperkirakan menghabiskan total 27.496 hari di rumah sakit. Kemudian, 354 yang dirawat kembali menghabiskan total 3.728 hari tambahan di rumah sakit.

Terkait studi tersebut, dr. Sara Elise Wijono, MRes, menyimpulkan, meskipun seseorang sudah pernah terkena COVID-19, bukan berarti ia akan kebal.

“Karena ada kasus-kasus bisa tertular kembali. Jadi, walaupun sudah pernah kena, sebaiknya tetap jalankan protokol,” jelas dr. Sara.

2 dari 3

Sembuh dari COVID-19, Ketahui Hal Ini!

Sembuh dari COVID-19, Ketahui Hal Ini!
loading

Menurut dr. Sara, penyintas COVID-19 perlu memahami bahwa antibodi terhadap penyakit tersebut tidak akan bertahan selamanya.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Immunity, orang yang pulih dari COVID-19 ringan menghasilkan antibodi yang dapat melindungi dari infeksi setidaknya 5-7 bulan. Namun, para peneliti masih terus melakukan studi, mengingat COVID-19 tergolong penyakit baru.

Kemudian, jangan lupa soal mutasi virus corona. Salah satu ciri khas virus adalah bermutasi atau berubah seiring waktu.

Karena seseorang telah mengembangkan antibodi untuk satu jenis virus corona, tidak berarti antibodi tersebut akan efektif melawan versi yang lebih baru. Maka dari itu, sangat penting untuk tetap menerapkan protokol kesehatan.

Untuk mencegah kemungkinan infeksi ulang, seorang penyintas COVID-19 tetap harus rajin mencuci tangan, menjaga jarak, dan mengenakan masker.

Selain untuk keamanan diri sendiri, langkah-langkah tersebut juga penting untuk melindungi orang lain bila ada kemungkinan seseorang masih bisa menularkan virus.

Artikel lainnya: Orang Terdekat Sembuh dari Virus Corona, Amankah Mendekatinya?

Bagaimana seseorang menentukan apakah masih bisa menularkan virus? Berikut pedoman dari CDC:

  • Infeksi umum atau ringan: Individu sehat yang tidak mengalami infeksi parah dianggap aman berada di sekitar orang lain setelah berlalunya 10 hari sejak timbulnya gejala awal, dan mereka telah bebas dari gejala selama setidaknya 24 jam.
  • Kelainan imun dan/atau infeksi parah: Orang yang mengalami gangguan kekebalan dan/atau mengalami infeksi parah harus menunggu hingga 20 hari sejak timbulnya gejala, dan bebas dari gejala setidaknya selama 24 jam sebelum berada di sekitar orang lain.
  • Kelainan imun parah: Seseorang mungkin perlu berkonsultasi dengan tim medis untuk memastikan bahwa pengujian tambahan sudah tidak diperlukan lagi sebelum ia dapat mulai bersosialisasi kembali.
Baca Juga

Jadi, tetap waspada dan lakukan protokol kesehatan dengan ketat. Bila ingin konsultasi lebih cepat ke dokter ketika mengalami gejala yang dicurigai COVID-19, manfaatkan Live Chat 24 Jam di KlikDokter.

(FR/JKT)

KONSULTASI LEBIH LANJUT

avatar

dr. Ganda Martua Leonard Samosir, Sp. P

Spesialis Paru
wallet
Rp. 60.000

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Metode Tes Virus Corona dengan Rapid Antigen

Info Sehat
17 Des

Mutasi Baru Virus Corona, Mampukah Vaksin Menangkalnya?

Info Sehat
16 Des

Waspada, Gen Ini Bisa Membuat Virus Corona Makin Berbahaya

Info Sehat
15 Des

Efikasi dan Efektivitas Vaksin COVID-19, Ini Bedanya

Info Sehat
15 Des

Delirium, Gejala Baru COVID-19

Info Sehat
14 Des

REAKSI ANDA

0 KOMENTAR

Tulis Komentar Anda

Masuk KlikDokter untuk
meninggalkan komentar

Masuk