Jadi Pelakor, Apakah Termasuk Gangguan Mental?
searchtext customer service

Jadi Pelakor, Apakah Termasuk Gangguan Mental?

Tak ada wanita yang ingin kehadiran pelakor. Tapi, bagaimana jika ada wanita yang gemar merusak hubungan orang? Apakah ini termasuk gangguan mental?
Jadi Pelakor, Apakah Termasuk Gangguan Mental?

Klikdokter.com, Jakarta Setiap wanita rasanya tak ada yang menginginkan hadirnya pelakor (perebut laki orang) dalam hubungan mereka. 

Tidak hanya satu, ada banyak pelakor yang mungkin sudah berhasil merusak hubungan pasangan kekasih atau bahkan pernikahan.

Apakah pelakor, apalagi jika dilakukan berkali-kali oleh orang yang sama, bisa disebut punya gangguan mental

1 dari 3

Mengapa Ada Wanita yang Jadi Pelakor?

Mengapa Ada Wanita yang Jadi Pelakor?
loading

Setiap perbuatan pasti ada sebabnya. Begitu juga dengan pelakor yang mungkin melakukan aksi karena satu atau dua hal di masa lalunya.

Menurut psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi., perilaku merebut pasangan orang lain dapat dilandasi oleh banyak faktor. Salah satu penyebab pelakor adalah karena adanya perasaan kompetitif dengan orang lain. 

“Kompetitif dalam bidang-bidang tertentu memang baik. Tapi kalau kompetitif dalam merebut pasangan orang lain, tidak boleh diikuti,” ujar Ikhsan. 

“Dengan berhasil mendapatkan pasangan orang lain, rasa percaya diri sang pelaku meningkat. Dia akan merasa lebih hebat, dan merasa lebih dari segala sisi dari sang korban,” dia menambahkan. 

Artikel Lainnya: Dampak Orang Tua Selingkuh terhadap Perkembangan Anak

Tak hanya itu saja, seseorang yang gemar menjadi pelakor juga mungkin membutuhkan kasih sayang yang tidak didapatkan dari orang lain. Hanya saja, pelakor memiliki kontrol diri yang rendah.

Ketika dorongan untuk memenuhi rasa kasih sayang itu ada, pelaku tidak bisa menilai norma yang ada. Pelaku juga merasa tidak bersalah karena tidak tahu norma yang baik seperti apa. 

Tapi perlu diingat terlebih dahulu, tidak hanya wanita saja yang bisa menjadi pelakor. Laki-laki juga bisa melakukan hal yang sama.

Menurut studi yang dipublikasikan dalam Psychology Today, laki-laki di Amerika Selatan, Asia, Afrika, dan Eropa lebih sering mencoba merebut pasangan orang lain, ketimbang wanita. 

Bahkan, kondisi ini hanya dilakukan untuk kesenangan pribadi tanpa melihat perasaan orang lain.

Artikel Lainnya: Tips Menghindari Cemburu Berlebihan dengan Mantan Pacar Pasangan

2 dari 3

Apakah Gemar Jadi Pelakor Termasuk Gangguan Mental?

Apakah Gemar Jadi Pelakor Termasuk Gangguan Mental?
loading

Menanggapi pertanyaan ini, psikolog Ikhsan mengatakan bahwa tidak semua pelakor bisa dikatakan punya gangguan mental. 

Jika memang dilakukan karena tidak sengaja dan sudah terbuai suasana, hal ini tidak bisa dikatakan sebagai gangguan mental.

Namun, jika merebut pasangan orang sudah dijadikan sebagai hobi, rutinitas, dan punya niatan untuk menarik perhatian agar viral, bisa jadi pelaku sudah gangguan kepribadian narsistik. 

Narsistik sendiri merupakan gangguan kepribadian di mana pelaku merasa dirinya lebih baik, lebih penting, serta tidak peduli dengan orang lain dan lingkungan sekitar.

Bisakah Kebiasaan Mencuri Pasangan Orang Dihindari?

Setiap kebiasaan yang buruk memang bisa diatasi asal ada kemauan dari pelaku. Jika pelakor sudah mendapatkan sanksi sosial dari masyarakat, kurang lebihnya pelaku akan merasa jera dan ingin merubah sikapnya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ikhsan. Menurutnya, kebiasaan atau punya keinginan mencuri pasangan bisa ditekan. Caranya adalah dengan mencari tahu dulu kebutuhan yang sebenarnya dicari. 

“Apakah pelaku membutuhkan kasih sayang, ekonomi, atau kebutuhan akan diakui? Ini harus dicari tahu dulu sumbernya. Nantinya bentuk kompensasi dalam pemenuhan kebutuhannya itu dilakukan dengan cara yang tepat, bukan dengan mencuri pasangan orang lain,” ujar Ikhsan.

Artikel Lainnya: Cara Menghadapi Pasangan yang Mudah Marah

Jika memang pelaku membutuhkan kasih sayang, ada baiknya jika mereka mencari kasih sayang dari orang yang tepat dan belum punya pasangan. 

Pelaku bisa membuka hati untuk orang lain melalui aplikasi pencarian jodoh, atau sekadar koneksi dari teman.

Jika memang yang dibutuhkan adalah faktor ekonomi, bekerjalah sesuai bidang yang disukai. Jika memang pemasukan yang didapatkan tidak cukup, coba cari dana lebih dari kerja freelance, magang, dan berbisnis. 

Baca Juga

Meski pelakor tidak selalu bisa dikatakan dampak gangguan mental, perilaku tersebut tetap tidak bisa dimaklumi. Coba posisikan diri menjadi korban, apakah Anda mau merelakan pasangan demi pelakor? 

Lebih baik, cari pria lajang tanpa pasangan untuk mencurahkan kasih sayang. Intip berita lainnya seputar kesehatan mental dengan mengunduh aplikasi Klikdokter.

(HNS/AYU)

KONSULTASI LEBIH LANJUT

avatar

Tengku Sheila Noor Faraza, S.Psi, M.Psi, Psikolog

Psikolog
wallet
Rp. 50.000
avatar

Jessica Christina Widhigdo, S. Psi, M. Psi, Psikolog

Psikolog
wallet
Rp. 50.000
avatar

Sri Ayu Mutmainah Kurniawati, S. Psi, M. Psi, Psikolog

Psikolog
wallet
Rp. 25.000

ARTIKEL TERKAIT

Dampak Buruk Digital Fatigue pada Kesehatan Fisik dan Mental

Info Sehat
19 Feb

Cara Menjaga Kesehatan Mental Remaja di Masa Pandemi COVID-19

Info Sehat
18 Feb

Cara Efektif Mengatasi Serangan Panik

Info Sehat
11 Feb

Terapi Psikologis untuk Korban Kekerasan Seksual

Info Sehat
09 Feb

Post Weaning Depression, Ketika Ibu Depresi saat Menyapih Anak

Info Sehat
09 Feb

REAKSI ANDA

0 KOMENTAR

Tulis Komentar Anda

Masuk KlikDokter untuk
meninggalkan komentar

Masuk
livechat