Selingkuh Digerebek, Apa Bikin Pelaku Jera?
search

Pandangan Psikolog Seputar Efek Jera Penggerebekan Pasangan Selingkuh

Penggerebekan kasus selingkuh kerap dilakukan dan di-blow up di media sosial atau berita online. Tapi, perlukah hal itu dilakukan demi memberi efek jera?
Pandangan Psikolog Seputar Efek Jera Penggerebekan Pasangan Selingkuh

Klikdokter.com, Jakarta Bila Anda pernah menyaksikan acara yang menayangkan keseharian pihak berwajib, penggerebekan kasus perselingkuhan di kamar hotel melati mungkin menjadi salah satu kontennya.

Konteks perselingkuhan yang ditangkap basah di sini adalah pasangan suami dan istri, bukan berpacaran. Biasanya, mereka juga akan dimintai KTP dan surat nikah sebagai bukti.

Baru-baru ini juga ada lagi kasus selingkuh digerebek yang menghebohkan warganet. Pelakunya diduga seorang kepala desa wanita  di Jawa Timur dan sudah berkeluarga. Pihak yang menangkap basah di lokasi ialah suaminya sendiri dan warga desa.

Hal itu langsung menarik perhatian masyarakat sekitar. Tak butuh lama bagi kasus penyelewengan untuk menjadi buah bibir karena diliput banyak pemberitaan.

1 dari 3

Ungkap Perselingkuhan ke Publik, Ciptakan Efek Jera?

Ungkap Perselingkuhan ke Publik, Ciptakan Efek Jera?
loading

Melaporkan pasangan resmi kepada pihak berwenang karena melakukan perzinahan merupakan hak individu. KlikDokter tidak membahas tentang hukum dari kasus tersebut.

Hal yang lebih menarik perhatian di sini ialah penggerebekan perselingkuhan dari kacamata psikologi.

Di satu sisi, menyergap dengan membawa banyak orang sekaligus mempublikasikannya seperti melanggar privasi. Tapi, di sisi lain, menangkap basah dan mempermalukan pelaku di depan umum mungkin juga bisa menciptakan efek jera.

Lantas, apa pendapat psikolog mengenai hal ini? Benarkah menangkap basah pasangan selingkuh dan mempermalukannya di depan umum bisa menumbuhkan rasa kapok?

Artikel lainnya: Gemar Selingkuh, Tanda Mengidap Borderline Personality Disorder?

Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog, mengatakan, “Sebenarnya, menangkap basah pasangan selingkuh secara beramai-ramai itu harus dilihat dulu tujuannya apa. Bila tujuannya untuk membalas dendam atas rasa sakit hati yang dialami, maka itu kurang tepat.”

“Kenapa kurang tepat? Karena, konflik yang terjadi tidak terselesaikan dengan baik pada akhirnya. Lagipula, dengan menyebarluaskan masalah keluarga ke publik pada dasarnya tindakan yang kurang tepat dan bijak.”

Menurut Ikhsan, tidak ada jaminan bahwa orang yang ketahuan punya pria atau wanita idaman lain akan kapok dan berhenti melakukan kebiasaan itu. Mungkin setelah ketahuan, di awal-awal saja pelaku merasa malu dan berhenti. Beberapa lama kemudian, ia bisa saja melakukannya kembali.

“Karena sekali lagi, gerebek itu tidak menyelesaikan masalah. Tindakan yang bisa menyelesaikan selingkuh pada suami-istri adalah mencari dan mengomunikasikan akar permasalahannya,” jelasnya.

“Apakah ada kebutuhan-kebutuhan yang memang tidak terpenuhi? Atau karena hal lain? Terlepas dari apa keputusannya nanti, pasutri harus benar-benar saling jujur dan mencari tahu dulu akar penyebabnya,” tambah Ikhsan.

Artikel lainnya: Haruskah Percaya Lagi Pada Pasangan yang Pernah Selingkuh?

2 dari 3

Usai Perselingkuhan Digerebek, Pasutri Butuh Bantuan Psikolog?

Usai Perselingkuhan Digerebek, Pasutri Butuh Bantuan Psikolog?
loading

Akan lebih baik bila pasangan suami dan istri mendapatkan couple therapy atau konseling pernikahan. Hal tersebut sangat membantu bagi pasangan yang sulit jujur satu sama lain.

Konselor pun akan membantu pasangan untuk menemukan pemicu masalah rumah tangga mereka. Terapis atau konselor adalah pihak netral dan punya wawasan serta pengalaman dalam menanggapi masalah hubungan.

Karena itulah, ia bisa membantu mengidentifikasi konflik dan memberikan solusi terbaik bila pasangan masih ingin bersama.

Tak cuma dapat menemukan sumber keretakan, konseling juga bermanfaat untuk melihat ada atau tidaknya masalah baru yang timbul setelah salah satu pihak ketahuan berkhianat di muka umum.

“Bukan tak mungkin salah satu pasangan memiliki dendam yang sangat mendalam atau justru trauma. Kondisi itu harus diatasi agar ke depannya perilaku-perilaku negatif bisa diminimalkan,” saran Ikhsan.

Baca Juga

Jangan abaikan masalah rumah tangga yang terjadi di antara suami dan istri. Hal ini dapat berdampak pada kesehatan mental masing-masing pihak.

Bila Anda membutuhkan saran mengenai keharmonisan hubungan, bisa gunakan layanan Live Chat di KlikDokter bersama psikolog.

(FR/JKT)

KONSULTASI LEBIH LANJUT

avatar

Vindya Anjar Pramesti, S.Psi, M.Psi, Psikolog

Psikolog
wallet
Rp. 25.000
avatar

Prapti Madyo Ratri, S.Psi, M.Psi, Psikolog

Psikolog
wallet
Rp. 25.000
avatar

Wiwin Narti, S.Psi, M.Psi, Psikolog, M.CTC

Psikolog
wallet
Rp. 25.000

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Post-Traumatic Growth, Transformasi Positif Usai Trauma

Info Sehat
28 Mar

Gemar Selingkuh, Tanda Mengidap Borderline Personality Disorder?

Info Sehat
28 Mar

Mengenal Katsaridaphobia, Ketakutan pada Kecoa dan Cara Mengatasinya

Info Sehat
27 Mar

Kesalahan Orangtua saat Berbicara dengan Guru Anak

Info Sehat
27 Mar

Kenali Ciri-Ciri Orang Berbohong Menurut Psikologi

Info Sehat
26 Mar

REAKSI ANDA

0 KOMENTAR

Tulis Komentar Anda

Masuk KlikDokter untuk
meninggalkan komentar

Masuk
livechat