5 Dampak Pola Asuh Otoriter bagi Mental Anak
search

Dampak Pola Asuh Otoriter bagi Kesehatan Mental Anak

Pola asuh otoriter dapat menimbulkan efek buruk pada psikologis anak. Berikut ini sederet dampaknya bagi kesehatan mental si kecil.
Dampak Pola Asuh Otoriter bagi Kesehatan Mental Anak

Klikdokter.com, Jakarta Terdapat berbagai pola asuh yang diterapkan para orangtua. Salah satu metode agar anak lebih mudah diatur adalah pola asuh otoriter. Meski memiliki keunggulan, dampak pola asuh otoriter juga dapat merugikan anak secara psikologis.

Sebenarnya, apa pengaruh pola asuh otoriter terhadap perkembangan anak? Apakah cara ini baik untuk kesehatan mentalnya? Simak penuturan psikolog lewat uraian di bawah ini.

1 dari 3

Pola Asuh Otoriter, Apakah Baik untuk Kesehatan Mental Anak?

Pola Asuh Otoriter, Apakah Baik untuk Kesehatan Mental Anak?
loading

Dilansir dari Very Well Mind, pola asuh otoriter merupakan cara pengasuhan yang diterapkan berdasarkan ekspektasi tinggi dari orangtua. 

Artikel Lainnya: Manfaat Slow Parenting atau Pola Asuh Lambat Bagi Anak

Namun, mereka tidak memberikan alasan atau feedback yang jelas kepada anak akan suatu hal.

Dalam pola asuh otoriter, anak yang melakukan kesalahan biasanya akan diberi hukuman keras dan sering dimarahi.

Menurut Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog, berikut ini beberapa contoh sikap orangtua yang otoriter:

  • Memberikan aturan yang sangat ketat tanpa menjelaskan kepada anak mengapa aturan itu dibuat.
  • Meminta anak mengikuti apa yang diarahkan orangtua tanpa memberi kesempatan kepada anak untuk mengeksplorasi diri.
  • Tidak menerima pendapat atau saran dari anak.
  • Tidak memberikan kepercayaan kepada anak dalam menentukan pilihannya sendiri.

Diwartakan dari Parents, pada dasarnya pola asuh otoriter memiliki dampak positif. Contohnya, anak dapat bersikap lebih baik dan mudah diatur, disiplin, serta cenderung tidak melakukan hal-hal buruk (atas larangan orangtua).

Selain itu, anak bisa lebih mudah mencapai goal yang diinginkan. Karena, orangtua sudah memberitahu anak apa-apa saja yang harus dilakukan.

“Tetapi kembali lagi, setiap anak berbeda-beda. Ada anak yang bisa diperlakukan demikian dan fine saja, tapi banyak juga yang tidak. Kalau kita mau generalisasikan, sebenarnya pola asuh otoriter kurang baik untuk kesehatan mental anak,” ungkap psikolog Ikhsan.

Artikel Lainnya: Pengaruh Teknologi pada Pola Asuh Anak, Banyak Positifnya?

2 dari 3

Pengaruh Buruk Pola Asuh Otoriter pada Perkembangan dan Mental Anak

Pengaruh Buruk Pola Asuh Otoriter pada Perkembangan dan Mental Anak
loading

Berikut adalah beberapa dampak buruk pola asuh otoriter bagi anak yang perlu Anda ketahui.

  1. Anak Terlalu Bergantung pada Peraturan

Pola asuh otoriter identik dengan serangkaian aturan yang harus dipatuhi anak. Jadi, anak akan lebih terbiasa dengan arahan-arahan yang sudah jelas.

Namun, ketika anak dihadapkan dengan situasi yang tidak memiliki panduan jelas, ia bisa tidak tahu atau ragu harus berbuat apa. Sebab, anak dibiasakan hanya mengikuti aturan dan jarang bertindak sesuai keinginan. 

  1. Mudah Cemas

Menurut psikolog Ikhsan, dampak pola asuh otoriter pada mental lainnya membuat anak menjadi pribadi yang gampang cemas. 

“Karena, anak selalu memikirkan konsekuensi atau hukuman jika melanggar aturan atau ada yang tidak sesuai ekspektasi,” jelasnya.

  1. Kurang Percaya Diri dan Sulit Mengambil Keputusan

Akibat harus selalu menuruti setiap aturan dan konsekuensi, anak dapat kesulitan untuk menentukan pilihannya sendiri. 

Anak-anak yang sering bergantung kepada orangtua dalam membuat keputusan, akan sulit beradaptasi sendiri di kehidupan sosial atau lingkungan baru. 

“Anak juga bisa jadi nggak percaya diri karena sering mendapat hukuman atau dimarahi karena tidak sesuai ekspektasi orangtua,” tambah Ikhsan.

Artikel Lainnya: Bolehkah Memarahi Anak?

  1. Memberontak

Anak yang terbiasa menerima pola asuh otoriter lama-lama dapat merasa tidak tahan dengan segala aturan yang diberlakukan padanya. 

Akibatnya, ia dengan sengaja bisa membangkang kepada orangtua, bahkan melakukan hal buruk.

  1. Sulit Mengungkapkan Perasaan

Karena terbiasa harus selalu menurut, anak menjadi sulit atau ragu untuk mengungkapkan perasaannya.

“Yang paling disarankan dalam pengasuhan anak adalah menggunakan pola asuh autoritatif. Jadi, orangtua membuat aturan jelas, tapi juga mendiskusikan aturan tersebut beserta alasannya kepada anak,” saran psikolog Ikhsan.

Baca Juga

Apabila ingin berkonsultasi lebih lanjut seputar pola asuh anak, gunakan fitur LiveChat dengan psikolog.

Anda juga bisa mendapatkan tips parenting lainnya dengan membaca artikel di Klikdokter.

(OVI/AYU)

KONSULTASI LEBIH LANJUT

avatar

dr. Irma Arniawati, Sp. A

Spesialis Anak
wallet
Rp. 20.000
avatar

Dr. Dr. dr. FX. Wikan Indrarto, Sp. A

Spesialis Anak
wallet
Rp. 30.000
avatar

dr. Ricca Fauziyah, Sp. A

Spesialis Anak
wallet
Rp. 50.000

ARTIKEL TERKAIT

Kondisi Mental Anak Turun Selama Belajar di Rumah, Ini Tips Menjaganya

Info Sehat
03 Jul

Cegah Obesitas, Ini Susu Cair Rendah Gula untuk Anak

Info Sehat
01 Jul

Manfaat Susu Rendah Gula untuk Jaga Daya Tahan Anak

Info Sehat
01 Jul

Ini Pentingnya Inulin dalam Susu bagi Pencernaan Anak

Info Sehat
01 Jul

Mengapa Hanya Anak 12 Tahun ke Atas yang Bisa Vaksinasi Sinovac?

Info Sehat
30 Jun

REAKSI ANDA

0 KOMENTAR

Tulis Komentar Anda

Masuk KlikDokter untuk
meninggalkan komentar

Masuk
livechat