Mengenal Efektivitas Vaksin COVID-19 Johnson & Johnson
searchtext customer service

Mengenal Efektivitas Vaksin COVID-19 Johnson & Johnson

Indonesia bakal menerima vaksin COVID-19 Johnson & Johnson. Ketahui cara kerja, efikasi dan efek samping vaksin Johnson and Johnson. Simak di sini.
Mengenal Efektivitas Vaksin COVID-19 Johnson & Johnson

Cms-admin.klikdokter.com, Jakarta Pada September 2021 mendatang, Indonesia akan menerima vaksin Johnson and Johnson.

Menurut Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, vaksin Johnson & Johnson berbeda dengan vaksin COVID-19 lainnya. Sebab vaksin COVID-19 tersebut cukup disuntikkan sebanyak satu kali.

Seberapa efektif vaksin Johnson & Johnson untuk melindungi tubuh dari penularan virus corona? Simak penjelasan lengkapnya di sini.

1 dari 4

Mengenal Vaksin Johnson & Johnson dan Efikasinya

loading

Vaksin Johnson and Johnson diproduksi oleh Janssen Pharmaceuticals Companies of Johnson & Johnson.

Vaksin ini bekerja menggunakan metode viral vector. Selama ini, viral vector merupakan jenis vaksin yang sudah diizinkan dan digunakan di Amerika Serikat.

Artikel Lainnya: Medfact: Benarkah Vaksin COVID-19 Justru Sebabkan Badai Sitokin?

Mengenal Vaksin Johnson & Johnson dan Efikasinya
loading

Berdasarkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), vaksin viral vector menggunakan virus yang telah dimodifikasi untuk mengirimkan instruksi penting ke sel tubuh.

Virus yang digunakan bukanlah coronavirus, melainkan virus lain yang tidak berbahaya.

Ketika memasuki sel tubuh, virus yang telah dimodifikasi akan memanfaatkan mesin sel.

Dokter Theresia Rina Yunita mengatakan, “Viral vector (virus yang dimodifikasi) kemudian akan membentuk protein spike (protein lonjakan) Sars-Cov-2 yang akan merangsang tubuh membentuk antibodi.”

Perlu Anda tahu, protein lonjakan merupakan komponen permukaan virus corona. Meski begitu, protein lonjakan yang diadaptasi oleh sel tubuh tidak berbahaya.

Setelah sel tubuh menghasilkan antibodi, sistem kekebalan tubuh akan melawan infeksi coronavirus di kemudian hari.

Vaksin COVID-19 Johnson & Johnson sendiri direkomendasikan untuk orang berusia 18 tahun ke atas.

Dokter Theresia mengatakan tingkat kemanjuran atau efikasi vaksin Johnson & Johnson adalah 66 persen.

“Tetapi angka ini sangat bervariasi di seluruh wilayah, contohnya 72 persen di AS, 64 persen di Afrika Selatan, dan 61 persen di Brasil,” jelasnya.

Artikel Lainnya: COVID-22, Virus Lebih Berbahaya dari Mutasi COVID-19 Delta

2 dari 4

Hanya Disuntikkan Satu Kali

Hanya Disuntikkan Satu Kali
loading

Berdasarkan laporan Association of American Medical Colleges (AAMC) per 18 Agustus 2021, hampir 14 juta orang di AS yang telah menerima vaksin Johnson & Johnson dosis tunggal.

Sebelumnya, pada bulan Juli, Mathai Mammen, MD, Ph.D., Global Head Janssen Research & Development Johnson & Johnson, merilis hasil penelitian terbaru mereka.

Dua penelitian tersebut menemukan bahwa dosis tunggal vaksin COVID-19 Johnson & Johnson menghasilkan respons antibodi yang kuat dalam melawan infeksi virus corona varian delta.

“Bahkan respons antibodi tersebut tidak berkurang. Selama delapan bulan penelitian, kami menemukan respons imun seluler yang persisten, sangat kuat, dan tahan lama,” klaim Mathai dikutip dari laman resmi perusahaan.

Vaksin Johnson & Johnson disebut punya efektivitas 71 persen mencegah pasien coronavirus delta menjalani rawat inap. Vaksin ini turut diklaim efektif mencegah kematian akibat strain delta sebesar 91 hingga 96 persen.

Data tersebut diperoleh berdasarkan uji klinis yang diikuti nyaris 500.000 petugas kesehatan di Afrika Selatan pada awal Agustus lalu.

AAMC menambahkan, semua vaksin coronavirus, termasuk Johnson & Johnson, sangat efektif melindungi tubuh dari gejala terburuk infeksi virus corona.

Kendati demikian, penelitian masih akan terus dilakukan guna mengetahui perlu atau tidaknya dosis tambahan (booster) vaksin Johnson & Johnson.

Artikel Lainnya: Studi Baru Sebut Vaksin Sinovac Efektif Lawan Varian Delta

3 dari 4

Efek Samping Vaksin Johnson and Johnson

Ilustrasi Vaksin Johnson and Johnson
loading

Seperti vaksin COVID-19 lainnya, vaksin Johnson & Johnson dapat mengakibatkan sejumlah efek samping ringan maupun berat.

  • Efek Samping Ringan

Efek samping ringan vaksin Johnson & Johnson dapat terjadi satu hingga tujuh hari setelah vaksinasi. Respons tubuh tersebut masih dikategorikan normal.

Efek samping ringan merupakan pertanda bahwa tubuh sedang membangun sistem kekebalan. Gejalanya dapat hilang dalam hitungan hari.

Berikut merupakan efek samping yang dapat terjadi di lengan bekas suntikan:

  • Nyeri
  • Kemerahan
  • Pembengkakan

Selain itu, Anda juga dapat mengalami efek samping ringan berikut ini:

  • Kelelahan
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Panas dingin
  • Demam
  • Mual

Efek samping ringan vaksin Johnson & Johnson juga dapat menyebabkan pingsan setelah vaksinasi. Kejadian ini langka dan umumnya tidak serius.

Selain pingsan, peserta vaksinasi juga bisa mengalami kondisi lain yang dipicu oleh kecemasan, seperti tekanan darah rendah, mati rasa, hingga kesemutan.

  • Efek Samping Berat

Anda tidak boleh menerima vaksin Johnson & Johnson jika memiliki reaksi alergi parah (anafilaksis) maupun reaksi alergi langsung, termasuk gatal-gatal, bengkak, atau mengi (gangguan pernapasan).

Reaksi alergi dapat terjadi karena tubuh tidak dapat menoleransi bahan vaksin seperti polysorbate.

Sementara itu, efek samping langka dan serius akibat vaksin Johnson & Johnson dapat menyebabkan pembekuan darah dengan trombosit rendah.

Itu dia serba-serbi vaksin Johnson & Johnson. Apa pun jenisnya, pastikan Anda memperoleh vaksin COVID-19. Sebab vaksinasi COVID-19 merupakan salah satu cara terbaik memutus mata rantai penularan virus corona.

Baca Juga

Jika ingin bertanya lebih lanjut seputar infeksi coronavirus, konsultasi kepada dokter yang kompeten melalui fitur Live Chat di aplikasi Klikdokter.

(OVI/JKT)

ARTIKEL TERKAIT

Kurangi Risiko Kematian COVID-19, WHO Rekomendasi Actemra dan Kevzara

Info Sehat
08 Jul

Naik Kendaraan Umum saat Pandemi, Cuci Tangan Setelah Sentuh Ini

Info Sehat
17 Nov

REAKSI ANDA

0 KOMENTAR

Tulis Komentar Anda

Masuk KlikDokter untuk
meninggalkan komentar

Masuk
livechat