Hasil CT Pasien COVID 1,8, Tanda Infeksi Varian Mu? - Info Sehat Klikdokter.com
search

Hasil CT Pasien COVID 1,8, Tanda Infeksi Varian Mu?

Pasien RLSI Surabaya dikabarkan memiliki CT Value 1,8. Benarkah kondisi tersebut merupakan indikasi gejala COVID-19 varian Mu? Berikut ini faktanya menurut dokter.
Hasil CT Pasien COVID 1,8, Tanda Infeksi Varian Mu?

Sebuah fenomena langka terjadi pada seorang pasien positif COVID-19 yang dirawat di Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI), Surabaya. Pasien tersebut diketahui memiliki hasil CT value yang sangat rendah, yaitu 1,8.

CT value merupakan jumlah siklus yang diperlukan untuk mendeteksi virus di dalam tubuh. Selama ini, indikator tersebut juga digunakan untuk mendeteksi viral load atau jumlah virus di dalam darah pasien.

Menurut dr. Alvin Nursalim, Sp.PD, CT value rendah umumnya menunjukkan volume virus yang lebih besar di dalam tubuh.

Temuan kasus dengan CT Value 1,8 mematik kekhawatiran RLSI Surabaya. Pasalnya, pasien yang berprofesi sebagai pekerja migran Indonesia tersebut memiliki hasil CT value yang sangat rendah, meski sudah dirawat nyaris dua pekan.

Selain itu, pasien bersangkutan terinfeksi selepas pulang dari luar negeri. Hal ini menimbulkan berbagai spekulasi, salah satunya dugaan bahwa pasien tersebut terinfeksi COVID-19 varian Mu.

Spekulasi tersebut semakin kuat, karena pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia, dr. Dicky Budiman, mengungkapkan bahwa COVID varian Mu mungkin sudah memasuki Indonesia.

Artikel Lainnya: Benarkah Urine Sapi Bisa Sembuhkan COVID-19?

1 dari 3

Hubungan Hasil CT Value 1,8 dengan Varian Mu

Hubungan Hasil CT Value 1,8 dengan Varian Mu
loading

Badan Kesehatan Dunia (WHO) sudah memasukkan varian Mu ke dalam kategori variant of Interest (VoI). Artinya, mutasi coronavirus yang satu ini perlu mendapatkan perhatian lebih.

Sejak pertama kali ditemukan di Kolombia pada Januari 2021, COVID-19 Mu sudah menyebar ke lebih dari 40 negara, menilik laporan Healthline.

Ditambah, sebuah riset terbaru mengungkapkan bahwa varian yang dikenal sebagai B.1.621 itu berpotensi lebih menular dan kebal terhadap vaksin dibandingkan dengan varian lainnya.

“Meski begitu, karakteristik varian Mu sendiri masih perlu dipelajari. Ada sumber mengatakan bahwa varian ini lebih resisten terhadap antibodi dari vaksin. Namun, penelitian lebih besar diperlukan untuk benar-benar memastikannya,” tegas dr. Alvin.

Karakteristik varian Mu tersebut lantas memicu dugaan bahwa pasien RLSI Surabaya terinfeksi B.1.621. Terlebih, hingga saat ini sangat jarang pasien positif coronavirus memiliki hasil CT value yang sangat rendah.

Sebagai informasi, berdasarkan Amari.itb.ac.id, semakin kecil hasil CT value, semakin banyak pula jumlah virus yang ada di dalam tubuh. Misalnya, jika seseorang memiliki CT value 12, artinya tubuhnya mengandung viral load 10 juta kali lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang punya hasil CT value 35.

Semakin besar viral load, semakin tinggi pula kemampuan penularan dan tingkat keparahan penyakit yang disebabkan oleh virus.

Untuk perbandingan, sebuah penelitian pada jurnal Virological mengungkapkan bahwa orang yang terinfeksi COVID-19 varian delta memiliki viral load 1.260 kali lebih banyak jika dibandingkan dengan pasien terinfeksi varian asli COVID-19.

Artikel Lainnya: Perlu Tahu, Ini Arti Warna di Aplikasi PeduliLindungi

2 dari 3

Masih Kontroversi

Tes PCR
loading

Hingga saat ini belum ada studi yang memaparkan seberapa cepat dan masif replikasi virus corona varian Mu di dalam tubuh pasien. Terlebih, B.1.621 masih dianggap kalah ganas dibandingkan varian Delta yang masuk kategori Variant of Concern (VoC) atau mutasi coronavirus yang perlu diwaspadai.

Selain itu, dr. Siti Nadia Tarmizi, selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML), menegaskan bahwa dibutuhkan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) guna mengetahui jenis varian COVID-19 yang menjangkiti pasien di RLSI Surabaya.

Jadi, jenis mutasi virus corona tersebut tidak bisa diketahui hanya melalui hasil CT value semata.

Disampaikan pula oleh peneliti dari Tufts University, CT value tidak dapat dijadikan patokan utama. College of American Pathologists bahkan mewanti-wanti agar tetap berhati-hati dalam menafsirkan hasil CT value.

Pasalnya, penggunaan mesin PCR berbeda untuk sampel yang sama bisa menghasilkan CT value yang berbeda.

Di samping itu, perbedaan waktu pengambilan sampel usap dapat pula memberikan hasil CT value yang berbeda meski diambil dari pasien yang sama.

Baca Juga

Kesimpulannya, hingga artikel ini diterbitkan, masih belum diketahui pasti apakah COVID varian Mu benar-benar sudah mewabah di Indonesia. Meski begitu, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter jika Anda mengalami sejumlah gejala yang berhubungan dengan infeksi virus corona.

Anda bisa berkonsultasi kepada dokter secara daring dengan memanfaatkan layanan LiveChat 24 jam atau aplikasi Klikdokter.

(NB/JKT)

ARTIKEL TERKAIT

Overdosis Ivermectin Sebabkan Kemandulan pada Pria, Benarkah?

Info Sehat
10 Sep

Perlu Tahu, Ini Arti Warna di Aplikasi PeduliLindungi

Info Sehat
09 Sep

Alasan Orang Lakukan Revenge Travel Usai Lockdown

Info Sehat
08 Sep

Benarkah Urine Sapi Bisa Sembuhkan COVID-19?

Info Sehat
07 Sep

Konsultasi Dokter Gratis Tanpa Keluar Rumah Saat Pandemi, Ini Caranya

Info Sehat
02 Sep

REAKSI ANDA

0 KOMENTAR

Tulis Komentar Anda

Masuk KlikDokter untuk
meninggalkan komentar

Masuk
livechat