Studi Temukan Penyebab Brain Fog pada Penyintas COVID-19 - Info Sehat Klikdokter.com
searchtext customer service

Studi Temukan Penyebab Brain Fog pada Penyintas COVID-19

Para peneliti menemukan faktor penting yang berpotensi jadi penyebab brain fog pada penyintas COVID-19. Apa itu? Ketahui selengkapnya di sini.
Studi Temukan Penyebab Brain Fog pada Penyintas COVID-19

Brain fog atau kabut otak telah menjadi salah satu efek samping infeksi COVID-19 jangka panjang (long COVID). Namun, sebelumnya para peneliti belum mengetahui pasti apa yang menjadi penyebab brain fog pada penyintas COVID.   

Kemudian, sebuah penelitian menemukan kelainan pada cairan serebrospinal (cairan yang mengelilingi otak) yang menyebabkan masalah berpikir atau terjadinya brain fog pada penyintas. Mari cari tahu lebih lanjut seputar brain fog pada COVID-19.

Penyebab Brain Fog pada Penyintas Infeksi COVID-19

Penyebab Brain Fog pada Penyintas Infeksi COVID-19

Sebuah studi oleh para peneliti di University of California, Amerika Serikat, menunjukkan adanya hubungan antara gejala kognitif seperti brain fog pascainfeksi COVID-19 dengan kelainan cairan serebrospinal.

Para peneliti menganalisis cairan serebrospinal dari 13 orang yang memiliki masalah berpikir dan memori setelah terpapar virus corona, dan 4 pasien coronavirus yang pulih tanpa gejala gangguan kognitif.

Artikel Lainnya: Kenapa Infeksi Varian Omicron Sebabkan Gejala Ringan

Usia rata-rata mereka yang memiliki gejala kognitif adalah 48 tahun. Sementara, usia yang masuk dalam kelompok pembanding atau tidak memiliki gejala kognitif adalah 39 tahun.

Sampel cairan serebrospinal dikumpulkan rata-rata sepuluh bulan setelah gejala COVID-19 pada seluruh subjek. Dalam penelitian, semua peserta yang terinfeksi virus corona tidak dirawat di rumah sakit.

Hasil penelitian telah diterbitkan dalam jurnal Annals of Clinical and Translational Neurology pada 19 Januari 2022. Para peneliti melihat keanehan pada cairan serebrospinal dari sepuluh pasien dengan gejala kognitif.

Sebagian besar orang dengan gejala kognitif pascainfeksi COVID-19 memiliki antibodi abnormal di dalam sampel cairan serebrospinal. Sebaliknya, kelainan tersebut tidak ditemukan pada kelompok kontrol.

Cairan serebrospinal pasien dengan gejala kognitif mengalami peningkatan kadar protein, menunjukkan peradangan, dan antibodi tidak terduga ditemukan dalam sistem kekebalan yang diaktifkan.

Beberapa antibodi tersebut ditemukan di dalam cairan serebrospinal dan darah, yang mengindikasikan respons inflamasi sistemik. Terdapat pula antibodi di cairan serebrospinal yang menandakan peradangan otak.

Studi ini juga menemukan pasien yang mengalami gejala kognitif memiliki rata-rata 2,5 faktor risiko gangguan berpikir, dibandingkan dengan rata-rata kurang dari satu faktor risiko untuk peserta tanpa gejala.

Artikel Lainnya: Daftar Penyakit yang Tidak Boleh Divaksinasi COVID-19

Dokter Theresia Rina Yunita mengatakan, sebuah studi di Januari 2021 menemukan peningkatan kadar sitokin inflamasi di dalam cairan serebrospinal. Hal ini bisa memicu peradangan otak. 

“Peradangan di otak dapat menghambat kemampuan neuron Anda untuk berkomunikasi satu sama lain. Ini mungkin salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kabut otak,” ucap dr. Theresia. 

Dokter Elizabeta Mukaetova-Ladinska, seorang profesor psikiatri di University of Leicester, Inggris, mengatakan stres juga bisa menjadi penyebab peradangan pada pasien yang mengalami gejala kognitif setelah terinfeksi COVID-19, selain karena infeksi dari virus corona itu sendiri.

Masih Dibutuhkan Penelitian Lebih Lanjut

Masih Dibutuhkan Penelitian Lebih Lanjut

Melansir Medical News Today, penelitian yang dilakukan tersebut masih dalam skala kecil. Riset yang lebih banyak dan luas diperlukan untuk mendukung hasil penelitian.

Peneliti mengungkapkan, sampel penelitian mungkin tidak mewakili populasi yang lebih luas pada pasien yang mengalami gejala kognitif pascainfeksi COVID-19.

Baca Juga

Para peserta dalam kelompok dengan gejala kognitif juga rata-rata lebih tua dibanding mereka yang berada di kelompok kontrol. Ini berpotensi memengaruhi adanya risiko kognitif sebelum infeksi COVID-19 dan membiaskan hasil.

Update terus informasi mengenai virus corona lewat artikel-artikel di aplikasi KlikDokter. Anda juga dapat berkonsultasi langsung dengan dokter melalui fitur LiveChat.

(FR/AYU)

Referensi:

  • Wawancara dr. Theresia Rina Yunita
  • Medical News Today. Diakses 2022. Long COVID: Antibodies in cerebrospinal fluid linked with brain fog.
  • US News. Diakses 2022. New Clues to Why Some Develop 'Brain Fog' After COVID.
  • Harvard Health Publishing. Diakses 2022. What is COVID-19 brain fog — and how can you clear it?

Ditinjau oleh dr. Theresia Rina Yunita

KONSULTASI LEBIH LANJUT

avatar

dr. Rezyka Anatasia

Dokter Umum
wallet
Rp. 15.000
avatar

dr. Inez Soraya

Dokter Umum
wallet
Rp. 15.000
avatar

dr. Alfania Novita Putri Perdana

Dokter Umum
wallet
Rp. 15.000

ARTIKEL TERKAIT

Studi: Omicron Bertahan Lebih Lama di Plastik dan Kulit

Info Sehat
29 Jan

Varian COVID-19 BA.2, Dijuluki “Son of Omicron”

Info Sehat
27 Jan

Makan Cokelat Bisa Tingkatkan Fungsi Otak

Info Sehat
24 Jan

Apakah Anak Perlu Tes COVID-19 Sebelum Divaksin?

Info Sehat
21 Jan

Kemampuan Infeksi Virus Corona Turun Ketika Berada di Udara

Info Sehat
19 Jan

REAKSI ANDA

0 KOMENTAR

Tulis Komentar Anda

Masuk KlikDokter untuk
meninggalkan komentar

Masuk
livechat