Ini Antibodi Penyebab Penggumpalan Darah pada Pasien COVID - Info Sehat Klikdokter.com
searchtext customer service

Ini Antibodi Penyebab Penggumpalan Darah pada Pasien COVID

Studi terbaru menemukan antibodi yang bertanggung jawab mencetuskan pembekuan darah pada pasien COVID-19. Simak temuannya di bawah ini.
Ini Antibodi Penyebab Penggumpalan Darah pada Pasien COVID

Pasien COVID-19 dengan gejala parah berisiko tinggi mengalami pembekuan darah. Kondisi ini dipicu oleh peradangan yang ditimbulkan infeksi virus corona.

Disampaikan dr. Matthew Exline, selaku direktur medis unit perawatan intensif di Ohio State University Wexner Medical Center, di Amerika Serikat, sistem kekebalan tubuh (imun) merespons peradangan dengan mengaktifkan fitur pembekuan darah.

Risiko pembekuan darah COVID kian besar karena pasien positif coronavirus  terkapar dan kurang bergerak.

Melengkapi temuan tersebut, sebuah studi terbaru mengungkapkan peran antibodi khusus yang dihasilkan oleh imun dalam proses pembekuan darah pada pasien COVID-19. Penelitiannya dimuat di dalam jurnal Arthritis and Rheumatology pada Kamis (17/2/2022) lalu.

Artikel Lainnya: Hati-Hati Masalah Penis ini Muncul Pada Beberapa Pasien COVID-19

Antibodi Penyebab Pembekuan Darah pada Pasien COVID-19

Antibodi Penyebab Pembekuan Darah pada Pasien COVID-19

Riset dilakukan dengan menganalisis sampel darah 244 pasien positif COVID-19 yang dirawat di rumah sakit.

Hasil studi mengungkapkan antibodi yang bertanggung jawab terhadap proses pembekuan darah COVID-19 adalah antifosfolipid.

Antibodi merupakan zat kimia yang dihasilkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi patogen. Beberapa jenis antibodi dapat pula diaktifkan sebagai bentuk respons imun tertentu, seperti halnya antibodi antifosfolipid.

Antibodi antifosfolipid merupakan jenis autoantibodi yang menyerang organ dan sistem kekebalan tubuh sendiri.

Umumnya, autoantibodi ditemukan pada pengidap penyakit autoimun, yaitu kondisi ketika imun menyerang sel-sel sehat. Kendati demikian, autoantibodi seperti antibodi antifosfolipid juga bisa dihasilkan tubuh untuk menangkal infeksi virus.

Antibodi antifosfolipid inilah yang bertanggung jawab dalam proses pembekuan darah. Penggumpalan darah merupakan mekanisme pertahanan sistem kekebalan saat merespons peradangan yang ditimbulkan oleh infeksi coronavirus.

Artikel Lainnya: Syarat Pasien COVID-19 Omicron Dinyatakan Sembuh

Antibodi Memicu Pengerasan Pembuluh Darah

Antibodi Memicu Pengerasan Pembuluh Darah

Selain pembekuan darah, para peneliti juga menemukan antibodi yang berperan dalam proses penebalan dan pengerasan pembuluh darah. Antibodi yang dimaksud yaitu imunoglobulin G (IgG).

Riset menemukan pasien yang terjangkit SARS-CoV-2 memiliki kadar IgG lebih tinggi, daripada individu yang tidak terjangkit virus corona.

Imunoglobulin G merupakan salah satu antibodi yang diproduksi tubuh ketika terinfeksi virus ataupun bakteri. Antibodi ini biasanya muncul 14 hari setelah infeksi.

IgG dapat bertahan selama 6 bulan hingga beberapa tahun setelah pasien sembuh dari infeksi. Oleh karena itu, keberadaan antibodi ini bisa menjadi penanda adanya riwayat infeksi sebelumnya.

Peneliti menemukan semakin tinggi kadar imunoglobulin G, semakin parah pula gejala infeksi yang disebabkan coronavirus.

Selain itu, peningkatan kadar IgG meningkatkan risiko pengerasan pembuluh darah. Hal ini disampaikan oleh dr. Yogen Kanthi, kardiolog atau dokter spesialis kesehatan jantung dari Laboratory of Vascular Thrombosis and Inflammation di National Heart, Lung, and Blood Institute.

Dokter Yogen mengatakan pengerasan pembuluh darah akibat lonjakan kadar IgG merupakan salah satu alasan masifnya kerusakan organ tubuh yang dicetuskan infeksi virus corona.

Artikel Lainnya: Perbedaan Sariawan Biasa dengan Gejala COVID-19

Pasalnya, semua organ tubuh memiliki pembuluh darah. Organ yang mengalami kerusakan akibat lonjakan IgG antara lain jantung, paru-paru hingga otak.

Itu dia antibodi yang berperan dalam pembekuan darah serta pengerasan pembuluh darah pada penderita COVID-19.

Kendati pasien positif coronavirus dengan gejala parah lebih berisiko mengembangkan penggumpalan darah, kondisi ini juga mungkin dialami penderita COVID-19 lintas gejala.  

Karena itu, dr. Theresia Rina Yunita menyampaikan pentingnya mencegah pembekuan darah dengan menjalani gaya hidup aktif, menurunkan berat badan jika mengalami obesitas, serta tidak merokok.

“Tetap aktif penting karena gaya hidup tidak banyak bergerak dapat meningkatkan risiko pembekuan darah. Jadi, pastikan untuk berolahraga secara teratur,” katanya.

Menurunkan berat badan berlebih, ditambahkan dr. There, dapat membantu mengurangi risiko terjadinya pembekuan darah.

“Terakhir, aktivitas merokok harus dihindari karena rokok dapat merusak lapisan pembuluh darah dan menyebabkan terbentuknya gumpalan,” tegasnya.

Baca Juga

Guna mencegah infeksi COVID-19, tetap patuhi protokol 5 M dan segera lakukan vaksinasi, ya.

Jika ingin bertanya lebih lanjut seputar COVID-19, konsultasikan kepada dokter via Live Chat.

(OVI/JKT)

Referensi:

Arthritis & Rheumatology. Diakses 2022. Endothelial cell-activating antibodies in COVID-19.

Ohio State University. Diakses 2022. Why COVID-19 could be causing blood clots — and what you can do to lower your risk.

 

Ditinjau oleh dr. Theresia Rina Yunita

KONSULTASI LEBIH LANJUT

avatar

dr. Lusy Olyvia

Dokter Umum
wallet
Rp. 15.000
avatar

dr. Rezyka Anatasia

Dokter Umum
wallet
Rp. 15.000
avatar

dr. Chaerunisa Utami

Dokter Umum
wallet
Rp. 15.000

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Gejala COVID-19, Mild Cold-Like Symptoms

Info Sehat
22 Feb

Beli Alat Tes Antigen Online Jadi Tren, Cermati Hal Berikut

Info Sehat
21 Feb

Syarat Penggunaan Obat COVID-19 Molnupiravir

Info Sehat
18 Feb

Diabetes: Komorbid Berbahaya Pasien COVID-19, Ini Alasannya

Info Sehat
17 Feb

Efektivitas Booster Pfizer dan Moderna Turun Seiring Waktu

Info Sehat
16 Feb

REAKSI ANDA

0 KOMENTAR

Tulis Komentar Anda

Masuk KlikDokter untuk
meninggalkan komentar

Masuk
livechat