Perbedaan Hipomania dan Mania pada Bipolar - Info Sehat Klikdokter.com
searchtext customer service

Perbedaan Hipomania dan Mania pada Bipolar

Mania dan hipomania adalah gejala dari gangguan kesehatan mental bipolar. Cari tahu perbedaan diantara keduanya di sini.
Perbedaan Hipomania dan Mania pada Bipolar

Klikdokter.com, Jakarta Orang dengan gangguan bipolar dapat mengalami perubahan mood atau suasana hati yang ekstrem. Perubahan suasana hati bisa berubah dalam waktu cepat, dari perasaan sedih atau depresi menjadi sangat bersemangat yang disebut mania. 

Namun, sebagian penderita bipolar mungkin sulit membedakan gejala mania dan hipomania. Untuk mengetahui perbedaan antara mania dan hipomania, Anda bisa membaca ulasan di bawah ini. 

Apa Itu Mania dan Hipomania?

Apa Itu Mania dan Hipomania?

Mania maupun hipomania adalah periode ekstrem ketika orang dengan gangguan bipolar memiliki energi yang tinggi. Berikut ini beberapa gejala dari mania dan hipomania:

  • Memiliki harga diri tinggi.
  • Berbicara dengan cepat, keras, atau merasakan tekanan untuk terus bercakap-cakap.
  • Merasa mudah terganggu.
  • Melakukan banyak kegiatan sekaligus, seperti melakukan pekerjaan sembari membuat gerakan yang tampaknya tidak bertujuan.
  • Melakukan aktivitas berbahaya, seperti menggunakan alkohol atau obat-obatan, membelanjakan uang secara berlebihan, melakukan hubungan seksual, atau mengemudi ugal-ugalan. 

Artikel Lainnya: Mengenal Penyebab dan Gejala Hipomania

Pemicu mania dan hipomania cenderung sama, yakni:

  • Sedang mengalami stres.
  • Kurang tidur atau mengalami perubahan pola tidur.
  • Menggunakan obat-obatan atau alkohol.
  • Mengalami trauma atau pelecehan.

Perbedaan Mania dan Hipomania

Perbedaan Mania dan Hipomania

Dijelaskan oleh  Ikhsan Bella Persada, M.Psi, Psikolog, perbedaan yang paling mencolok adalah gejala mania lebih intens dan lebih mengganggu daripada hipomania.

“Gejala mania memang cenderung lebih kuat perilaku impulsifnya dan mudah terlihat dari perilakunya yang selalu aktif dan penuh energi. Kalau hipomania, cenderung aktif namun tidak sampai sekuat dan seaktif mania,” ucap Ikhsan.  

Menurut psikolog Ikhsan, gejala mania ditandai dengan perubahan suasana hati yang bertahan lebih lama ketimbang hipomania. Selain itu, keduanya sama-sama menimbulkan gejala, seperti tidak bisa tidur, gelisah, atau bersemangat. 

Sementara itu, menurut American Psychiatric Association, gejala mania berlangsung setidaknya selama seminggu dan biasanya merupakan tanda gangguan bipolar tipe I. 

Sedangkan hipomania berlangsung dalam waktu lebih singkat, yakni 4 hari berturut-turut dan dapat dialami penderita gangguan bipolar tipe I atau bipolar II.

Berikut beberapa perbedaan lain dari mania dan hipomania:

  • Episode mania dapat menyebabkan kehidupan sosial, pekerjaan, atau pribadi seseorang terganggu. Sedangkan episode hipomania tidak menyebabkan gangguan saat beraktivitas sehari-hari.
  • Gejala mania dapat ditandai dengan adanya halusinasi atau delusi.
  • Mania biasanya dapat menyebabkan Anda berujung ke rumah sakit. Sedangkan hipomania tidak. 

Artikel Lainnya: Gejala Manik dan Tips Mengatasinya

Cara Mengatasi Mania dan Hipomania

Cara Mengatasi Mania dan Hipomania

Psikiater dapat mendiagnosis episode mania dan hipomania setelah mengesampingkan penyebab medis lain, seperti adanya penyakit hipertiroidisme atau efek samping obat yang dikonsumsi penderita gangguan bipolar. 

Perawatan dan cara mengatasi gejala mania dan hipomania umumnya sama. Psikiater dapat memberikan pengobatan dan terapi sebagai cara mengatasi gangguan bipolar. 

Orang dengan gejala mania mungkin memerlukan perawatan yang lebih intens, seperti kunjungan ke rumah sakit jika memiliki risiko melukai diri sendiri atau orang lain.

Saat gejala mania muncul, ada beberapa cara untuk mencegahnya agar tidak semakin parah. Berikut penanganannya:

  • Perhatikan tanda-tanda peringatan bahwa episode perubahan mood akan datang. Memperhatikan gejalanya sejak dini dapat membantu Anda mencegah gejala mania semakin parah.
  • Hindari menggunakan obat-obatan tanpa resep dokter dan konsumsi alkohol.
  • Istirahat cukup dan pertahankan pola tidur yang sehat serta teratur.
  • Gunakan teknik manajemen stres, seperti terapi atau olahraga.
  • Lanjutkan minum obat bahkan jika Anda merasa sehat selama episode mania.
Baca Juga

Itu dia tadi perbedaaan mania dan hipomania, jika Anda memiliki pertanyaan lain, gunakan layanan LiveChat di aplikasi KlikDokter.

(OVI/AYU)

Referensi:

  • Wawancara Ikhsan Bella Persada, M.Psi, Psikolog
  • Psych Central. Diakses 2022. Mania vs. Hypomania: What’s the Difference?
  • Healthline. Diakses 2022. What You Should Know About Mania vs. Hypomania.
  • Medical News Today. Diakses 2022. What are mania and hypomania?
  • Very Well. Diakses 2022. Hypomania vs. Mania: What's the Difference?

 

KONSULTASI LEBIH LANJUT

avatar

Mentari Ilmi Fahmiati Avicenia, S. Psi, M. Psi, Psikolog

Psikolog
wallet
Rp. 75.000
avatar

Laksmi Andhiyani, S. Psi, M. Psi, Psikolog

Psikolog
wallet
Rp. 50.000
avatar

Niko Puri Diyanti, S. Psi, M. Psi, Psikolog

Psikolog
wallet
Rp. 50.000

ARTIKEL TERKAIT

Kenali Gejala Depresi Terselubung dan Cara Mengatasinya

Info Sehat
01 Mar

Sejumlah Fakta Obat Antidepresan yang Penting Diketahui

Info Sehat
07 Feb

Hubungan Antara Depresi dan Kecanduan Pornografi

Info Sehat
04 Feb

Kenali Tanda-Tanda Sindrom Baby Blues

Info Sehat
04 Feb

Penyebab Penderita TBC Rentan Depresi

Info Sehat
29 Jan

REAKSI ANDA

0 KOMENTAR

Tulis Komentar Anda

Masuk KlikDokter untuk
meninggalkan komentar

Masuk
livechat