Penyebab Seseorang Bisa ‘Clean Sheet’ dari COVID-19
searchtext customer service

Penyebab Seseorang Bisa ‘Clean Sheet’ dari COVID-19

Beberapa orang cukup beruntung punya catatan bersih belum pernah kena COVID-19. Berikut tiga alasannya menurut medis.
Penyebab Seseorang Bisa ‘Clean Sheet’ dari COVID-19

Dua tahun sudah Indonesia dilanda pandemi COVID-19. Berdasarkan laporan Worldometer, pada Senin (14/3/2022), virus corona telah menginfeksi sekitar 5.890.495 orang di tanah air.

Sementara itu, sebanyak 152.166 jiwa di antaranya, tewas akibat infeksi SARS-CoV-2. Angka tersebut merupakan korban yang tercatat. Para epidemiolog menduga jumlah pasien terinfeksi dan meninggal akibat coronavirus di Indonesia berkali lipat lebih banyak dari data yang berhasil dilaporkan.

Dari jumlah tersebut, terdapat beberapa orang yang cukup beruntung menorehkan “clean sheet” alias catatan bersih belum pernah kena COVID-19

Beberapa faktor diduga menyebabkan seseorang tidak tertular COVID. Faktor yang dimaksud, misalnya punya riwayat terinfeksi virus corona sebelumnya, namun tidak menjalani skrining COVID-19 hingga faktor genetik, berikut penjelasannya: 

1 dari 4

1. Terinfeksi, Tapi Belum Pernah Dites

Terinfeksi, Tapi Belum Pernah Dites
loading

Orang yang pernah terinfeksi virus corona sebelumnya, namun tidak pernah menjalani pemeriksaan COVID-19 berpeluang memiliki catatan bersih tidak pernah terjangkit virus corona.

Pasalnya, studi menemukan bahwa orang dengan kondisi tersebut diduga mengembangkan beberapa jenis memory cells alias sel kekebalan memori.

Artikel Lainnya: Studi Terbaru: Varian Deltacron Ditemukan Keberadaannya

Berdasarkan World Health Organization (WHO), memory cells merupakan sel kekebalan yang dapat berkembang menjadi limfosit (sel darah putih) dengan kemampuan merangsang tubuh menghasilkan long lasting immunity alias zat kekebalan yang sanggup bertahan lama.

Sel kekebalan memori bekerja dengan mengidentifikasi dan mengingat antigen (zat asing dari luar, dalam hal ini coronavirus) yang pernah menginfeksi tubuh. Virus corona tersebut bisa dari jenis apa pun, termasuk coronavirus penyebab flu biasa. 

Ketika di kemudian hari, jenis virus corona lainnya, seperti SARS-CoV-2 menginfeksi tubuh, sel memori akan bertindak lebih cepat dan efektif merangsang sistem kekebalan (imun) membentuk antibodi guna melawan virus.

Berdasarkan penelitian, terdapat dua jenis memory cell yang mungkin dihasilkan orang dengan riwayat terinfeksi virus corona, antara lain:

Sel T

Berdasarkan studi yang digagas peneliti dari Imperial College London, di Inggris, orang pernah terpapar coronavirus sebelumnya, memiliki kadar memory cells sel T yang lebih tinggi. 

Menurut penelitian yang dirilis melalui jurnal Nature Communications tersebut, orang dengan kadar T-cell lebih tinggi, lebih kecil kemungkinannya terinfeksi COVID-19.  

Sel T merupakan sel kekebalan memori yang bekerja dengan menyerang virus corona secara spesifik. Jenis memory cells ini akan menyerang bagian penting dari SARS-CoV-2.

T-cell akan merusak spike protein alias protein lonjakan SARS-CoV-2, yaitu komponen pada bagian permukaan virus, yang berfungsi memasuki sel inang dan membuatnya lebih menular.

Sel kekebalan memori juga akan menghancurkan nukleokapsid, yaitu bagian inti yang menyimpan materi genetik virus corona.

Sel B

Jenis sel kekebalan memori yang dapat menyebabkan seseorang kebal COVID-19 berikutnya adalah B-cell alias sel B.

Menurut riset gabungan yang dimuat jurnal Nature, sel B dapat menyebabkan seseorang memiliki kekebalan super dan berisiko kecil terinfeksi SARS-CoV-2. Terutama, jika  seseorang memiliki riwayat terinfeksi virus corona dan sudah memperoleh vaksinasi.

B-cell merupakan sel kekebalan memori yang diproduksi di kelenjar getah bening manusia. Jenis memory cell ini bekerja dengan mengikat dan membunuh mutasi protein lonjakan virus secara lebih cepat, sehingga mencegah infeksi coronavirus.

Artikel Lainnya: Studi: Mutasi Omicron Diduga Terjadi pada Tikus

2 dari 4

2. Genetik

genetik
loading

Penelitian lain yang dilakukan Imperial College London menemukan bahwa faktor genetik dapat menyebabkan seseorang tidak tertular COVID-19.  

Hasil studi yang belum dipublikasikan tersebut menduga terdapat beberapa jenis gen human leukocyte antigen (HLA) yang dapat mengurangi gejala infeksi virus corona.

Human leukocyte antigen alias antigen leukosit manusia merupakan sekelompok protein yang diproduksi oleh supergen, yaitu kompleks histokompatibilitas utama. Protein di permukaan sel ini berperan mengatur sistem kekebalan.

Meski begitu, peneliti mengatakan terdapat pula beberapa jenis HLA yang justru bisa memperburuk gejala infeksi SARS-CoV-2. Jenis yang dimaksud adalah gen HLA-DRB1*1302.

3 dari 4

3. Vaksinasi dan Menjalani Protokol Kesehatan

Vaksinasi dan Menjalani Protokol Kesehatan
loading

Vaksinasi COVID-19 merupakan salah satu cara terbaik untuk mengurangi risiko penularan virus corona.

Andrew Freedman, akademisi dari Cardiff University Medical School di Inggris, menduga vaksinasi dapat memperbesar peluang seseorang menorehkan clean sheet tidak pernah tercatat terinfeksi virus corona.

“Mungkin saja, seseorang pernah terinfeksi, namun karena mengalami gejala ringan jadi tidak melakukan pemeriksaan. Boleh jadi, gejala ringan tersebut disebabkan karena sebelumnya menjalani vaksinasi COVID-19,” paparnya.

Vaksinasi terbukti dapat mengurangi tingkat keparahan infeksi coronavirus, maupun menurunkan risiko rawat inap dan kematian akibat SARS-CoV-2.

Artikel Lainnya: Daftar Orang yang Tidak Dapat Menerima Vaksin Booster

Selain vaksinasi, kemungkinan seseorang tidak pernah mengidap COVID-19 lainnya menurut dr. Devia Irine Putri bisa dikarenakan yang bersangkutan memiliki daya tahan tubuh yang baik, serta disiplin dan ketat menjalankan protokol kesehatan.

Penerapan protokol kesehatan yang dimaksud, antara lain disiplin menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga kebersihan rumah, menetap di hunian dengan ventilasi baik, menjaga jarak, serta mengurangi mobilitas. 

Itu dia sederet alasan seseorang tidak tertular COVID-19. Untuk mencegah penularan dan mengurangi tingkat keparahan infeksi virus corona, tetap terapkan prokes, serta lakukan vaksinasi dan booster COVID-19.

Baca Juga

Jika ingin tanya lebih lanjut seputar COVID-19, konsultasi ke dokter via Live Chat

(OVI/NM)

 

Referensi:

  • Wawancara dr. Devia Irine Putri
  • Nature Communications. Diakses 2022. Cross-reactive memory T cells associate with protection against SARS-CoV-2 infection in COVID-19 contacts.
  • Nature. Diakses 2022. COVID super-immunity: one of the pandemic’s great puzzles.
  • Nature. Diakses 2022. Remembrance of Things Past: Long-Term B Cell Memory After Infection and Vaccination.
  • Worldometer. Diakses 2022. Indonesia Coronavirus Update.
  • WHO. Diakses 2022. BAGAIMANA SISTEM IMUNITAS BEKERJA.
  • CNBC. Diakses 2022. Why do some people get Covid when others don't? Here’s what we know so far.

 

ARTIKEL TERKAIT

Sudah Tak Berjarak, Ini Tips Aman Naik KRL Pada Masa Pandemi COVID-19

Info Sehat
11 Mar

Syarat Terima Vaksin COVID-19 untuk Penderita Hipertensi

Info Sehat
11 Mar

Nose Sanitizer dengan Oksida Nitrat Ampuh Atasi COVID-19?

Info Sehat
10 Mar

Olahraga Setelah Vaksinasi Bisa Tingkatkan Imunitas

Info Sehat
09 Mar

Tips Berhubungan Seks Aman saat Pandemi COVID-19

Info Sehat
05 Mar

REAKSI ANDA

0 KOMENTAR

Tulis Komentar Anda

Masuk KlikDokter untuk
meninggalkan komentar

Masuk
livechat