5 Fakta Varian COVID XE, Lebih Berbahaya dari Omicron?
searchtext customer service

Varian COVID XE, Apakah Lebih Berbahaya dari Omicron?

WHO menyebut varian COVID XE 10 persen lebih menular dibanding Omicron. Berikut 5 fakta coronavirus XE yang perlu Anda ketahui.
Ilustrasi kemunculan varian COVID XE yang diduga lebih menular

Muncul laporan WHO terkini mengenai varian COVID-19 baru yang disebut-sebut jauh lebih menular dibanding Omicron. Mutasi SARS-CoV-2 ini dinamakan COVID XE.

Varian COVID XE merupakan rekombinan dari Omicron BA.1 dan BA.2. Strain dari coronavirus ini pertama kali ditemukan pada pertengahan Januari 2022 lalu di Inggris.

Kini, varian XE dilaporkan sudah menyebar hingga ke beberapa wilayah di Amerika Serikat. 

Lantas, seberapa berbahayakah mutasi COVID-19 tersebut? Mari simak lebih lanjut sederet fakta varian COVID XE berikut:

1 dari 6

1. Diduga Merupakan Varian Paling Menular di Dunia

Ilustrasi varian COVID XE diduga lebih menular
loading

Berdasarkan penelitian awal yang dilakukan WHO, COVID XE diduga sebagai varian SARS-CoV-2 yang paling menular, jika dibandingkan mutasi coronavirus lainnya.

Bahkan, WHO melaporkan coronavirus XE memiliki tingkat penularan 10 persen lebih cepat dibandingkan Omicron BA.2.

Omicron BA.2 merupakan subvarian dari Omicron asli BA.1. Omicron BA.2 memiliki urutan genetik dan kandungan asam amino di dalam protein spike (komponen virus corona untuk memasuki sel tubuh manusia dan membuatnya lebih menular) yang berbeda dengan BA.1.

Perbedaan tersebut membuat BA.2 yang dijuluki “Omicron Siluman” lebih cepat menular dibandingkan Omicron asli BA.1.

Menurut WHO, BA.2 memiliki tingkat penularan 75 persen lebih cepat ketimbang BA.1. 

Sebagai perbandingan, ahli epidemiologi Dicky Budiman dari Griffith Australia University mengatakan Omicron BA.2 juga punya tingkat penularan empat kali lebih cepat dibanding varian Delta.

Artikel Lainnya: Omicron Punya Sub-Varian BA.3, Seberapa Berbahaya? 

Tidak heran, BA.2 sebelumnya didapuk sebagai strain virus corona paling menular di dunia. Namun, rekor tersebut kini diklaim dipatahkan oleh COVID XE.

Bukan tidak mungkin varian XE berpeluang menjadi strain yang paling dominan di dunia. Hal ini disampaikan oleh Hannah Barbian, ahli epidemiologi dari Regional Innovative Public Health Laboratory di Rush University Medical Center, AS. 

“Setiap kali ada mutasi virus yang lebih menular, maka virus terkait selalu berpeluang untuk menjadi yang paling dominan di dunia,” katanya.

Kendati demikian, WHO menegaskan dibutuhkan penelitian lanjutan guna mengetahui pola penularan XE.

2 dari 6

2. Pertama Kali Ditemukan di Inggris

Ilustrasi varian COVID XE pertama ditemukan di Inggris
loading

Menurut laporan Health Security Agency, Inggris, varian XE hingga saat ini telah menjangkiti lebih dari 600 orang. Hal ini terjadi sejak coronavirus XE pertama kali ditemukan pada pertengahan Januari lalu.

Health Security Agency mengungkapkan, tingkat pertumbuhan virus XE di Inggris mencapai 9,8 persen lebih tinggi ketimbang BA.2.

3 dari 6

3. Sudah Menyebar hingga Amerika Serikat

Ilustrasi varian COVID XE diduga sudah menyebar di AS
loading

Beberapa kasus COVID-19 XE bahkan dilaporkan terjadi di AS. Hal ini berdasarkan laporan Chicago Department of Public Health.

Meski begitu, otoritas terkait tidak mengungkapkan lebih detail kawasan di AS yang terjangkit XE. Ketika artikel ini dipublikasikan, setidaknya varian XE belum ditemukan di wilayah Chicago maupun Illinois.

4 dari 6

4. Potensi Bahayanya Masih Diselidiki

Ilustrasi potensi bahaya varian COVID XE diselidiki
loading

Varian XE merupakan virus corona rekombinan. Hal ini dikarenakan XE memiliki materi genetik dari dua galur (keturunan).

COVID XE mengandung materi genetik BA.1 sekaligus BA.2. Peneliti masih menyelidiki lebih lanjut dampak dari rekombinasi virus tersebut.

Disampaikan Chief Medical Advisor Health Security Agency, Susan Hopkins, hingga saat ini belum ada bukti yang cukup kuat untuk menyimpulkan kemampuan rekombinasi virus XE.

“Pasalnya, tingkat pertumbuhan virus XE bervariasi. Jadi, kami belum bisa menyimpulkan apakah rekombinasi virus meningkatkan potensi bahaya XE lainnya,” paparnya.

Artikel Lainnya: Studi Terbaru: Varian Deltacron Ditemukan Keberadaannya 

Susan menambahkan, kemunculan varian COVID-19 rekombinan lazim terjadi di tengah pandemi. Terutama, karena ada beberapa mutasi virus yang beredar.

“Beberapa rekombinasi virus sebelumnya telah berhasil diidentifikasi, dan sebagian besar di antaranya mati lebih cepat,” jelasnya.

Karenanya, ditegaskan pula oleh WHO bahwa para peneliti masih terus mempelajari lebih jauh soal efek rekombinasi virus pada kasus XE.

5 dari 6

5. Vaksinasi Tetap Diutamakan untuk Mencegah Penularan XE

Ilustrasi vaksinasi cegah penularan varian COVID XE
loading

Karena potensi bahaya varian COVID XE masih terus diselidiki, maka belum diketahui apakah strain ini kebal terhadap vaksinasi yang sudah ada. 

Vaksinasi COVID-19 masih menjadi pilar utama pencegahan infeksi virus corona.  Hal ini disertai pula dengan penerapan protokol kesehatan 5M, yaitu mengenakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, mengurangi mobilitas, dan menjauhi kerumunan.

Disampaikan dr. Muhammad Iqbal Ramadhan, vaksinasi dan penerapan prokes bermanfaat membentuk herd immunity atau kekebalan kelompok. Keduanya juga berperan membantu mengurangi risiko perburukan gejala infeksi coronavirus

[bacajuga:Baca Juga](3654835 3654834 3654626)

Karena itu, dapatkan vaksinasi termasuk booster dan terapkan prokes secara disiplin untuk mencegah infeksi COVID XE maupun varian SARS-CoV-2 lainnya.

Dapatkan info paling update seputar virus corona hanya di aplikasi KlikDokter. Untuk konsultasi kepada dokter secara daring, gunakan LiveChat.

(FR/JKT)

Referensi:

WHO. Diakses 2022. COVID-19 Weekly Epidemiological Update.

WHO. Diakses 2022. Statement on Omicron sublineage BA.2.

Ditinjau oleh dr. Muhammad Iqbal Ramadhan

 

ARTIKEL TERKAIT

Makanan yang Harus Dihindari Pasien COVID-19

Info Sehat
05 Apr

Cara Mempercepat Penyembuhan Pasien COVID-19 Omicron

Info Sehat
01 Apr

Alasan Vaksin Covid dari Tembakau Covifenz Ditolak WHO

Info Sehat
31 Mar

Obat Paxlovid, Dianggap Ampuh Lawan Berbagai Varian COVID

Info Sehat
29 Mar

Vaksin COVID Diperpanjang Masa Kedaluwarsanya, Efektifkah?

Info Sehat
24 Mar

REAKSI ANDA

0 KOMENTAR

Tulis Komentar Anda

Masuk KlikDokter untuk
meninggalkan komentar

Masuk
livechat