Pengertian

Acelaxon Krim mengandung fluocinolone acetonide yang digunakan dalam dermatologi (Penyakit kulit) untuk mengurangi peradangan kulit dan mengurangi rasa gatal. Obat ini digolongkan sebagai Obat hidrokortison sintetis.

Keterangan

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Kortikosteroid Topikal
  • Kandungan: fluocinolone acetonide 0.25 mg
  • Bentuk: Krim
  • Satuan Penjualan: Tube
  • Kemasan: Tube @ 10 gram
  • Farmasi: PT Immortal Pharmaceutical Lab

Kegunaan

Acelaxon adalah obat yang digunakan dalam dermatologi (Penyakit kulit) untuk mengurangi peradangan kulit dan mengurangi rasa gatal.

Dosis & Cara Penggunaan

Acelaxon merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembeliannya harus menggunakan resep Dokter. Selain itu, dosis penggunaan acelaxon juga harus dikonsultasikan dengan Dokter terlebih dahulu sebelum digunakan, karena dosis penggunaannya berbeda-beda setiap individu tergantung berat tidaknya penyakit yang diderita.

Aturan penggunaan: 3 - 4 x Sehari, Oleskan pada kulit yang gatal.

Efek Samping

Semua Obat pasti memiliki Efek samping, namun tidak semua Orang akan mengalami Efek samping dari penggunaan Obat tersebut. Adapun Efek samping dari penggunaan Obat acelaxon Krim sebagai berikut:
- Perubahan warna kulit
- Kulit gatal
- Memar
- Memerah
- Kulit kering dan pecah - pecah
- Kulit mengelupas

Kontraindikasi:
- Ulkus infeksius (bakteri, virus, jamur) primer, hipersensitif (reaksi alergi), akne vulgaris (jerawat).
- Neonatus (Bayi baru lahir sampai usia 28 hari).

Interaksi Obat:
- Aldesleukin (Obat untuk perawatan penyakit ginjal atau kanker)
- Ceritinib (Obat untuk perawatan penyakit ginjal atau kanker)
- Corticorelin (Obat untuk mengobati sindrom Cushing)
- Deferasirox (Untuk mengurangi kelebihan zat besi kronis)
- Hyaluronidase.

Kategori kehamilan:
Keamanan kehamilan menurut FDA (Badan pengawas Obat dan makanan Amerika serikat) Mengkategorikan Obat acelaxon krim sebagai kategori C:

"Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping pada janin (teratogenik atau embriosidal atau efek samping lainnya) dan belum ada studi terkontrol pada wanita, atau studi terhadap wanita dan binatang percobaan tidak dapat dilakukan. Obat hanya dapat diberikan jika manfaat yang diperoleh melebihi besarnya resiko yang mungkin timbul pada janin".