Pengertian

Aptor merupakan tablet yang mengandung asetosal sebagai bahan aktif. Acetosal bekerja sebagai analgetik (obat penahan sakit) dan antipiretik (penurun demam) sentral, serta mempunyai efek antiinflamasi (antiradang). Obat ini digunakan untuk pengobatan dan pencegahan angina pektoris dan infark miokard, demam, nyeri pasca vaksinasi, sakit gigi, nyeri otot dan nyeri saraf.

Keterangan

  • Golongan: Obat Bebas
  • Kelas Terapi: Analgesik (non opioid) dan Antipiretik / Antikoagulan ; Antiplatelet, dan Fibrinolitik (Tromoblitik)
  • Kandungan: Tiap tablet mengandung 100 mg asetosal
  • Bentuk: Tablet
  • Satuan Penjualan: Strip
  • Kemasan: Strip @ 10 Tablet
  • Farmasi: PT Nicholas Laboratories Indonesia.

Kegunaan

Kegunaan Aptor adalah untuk pengobatan kondisi-kondisi berikut:

  • Pengobatan demam.
  • Mengobati nyeri ringan sampai sedang.
  • Dalam dosis rendah dan penggunaan jangka panjang, obat ini digunakan untuk membantu mencegah serangan jantung, stroke, dan sebagai antiplatelet (menghambat pembekuan darah) pada orang yang berisiko tinggi terjadinya pembekuan darah. Aspirin (acetosal) bisa diberikan segera setelah serangan jantung untuk mencegah pembekuan dan mengurangi risiko serangan jantung atau kematian jaringan jantung.

Dosis & Cara Penggunaan

Aturan penggunaan Aptor adalah:
Untuk mengurangi risiko morbiditas (keadaan sakit) dan mortalitas (kematian) pada pasien dengan infark miokard sebelumnya, serta mengurangi risiko stroke pada pasien dengan serangan iskemik transien (sepintas): 100-300 mg.

Efek Samping

Efek samping yang mungkin terjadi selama penggunaan Aptor antara lain:

  • Seperti obat-obat golongan OAINS lainnya, aspirin (acetosal) menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan misalnya : perdarahan, ulserasi (peradangan kronis yang terjadi pada usus besar (kolon) dan rektum), dan perforasi (terbentuknya lubang) lambung atau usus yang bisa berakibat fatal.
  • Obat ini diketahui bisa menyebabkan anemia hemolitik (kondisi di mana hancurnya sel darah merah (eritrosit) lebih cepat dibandingkan pembentukannya) pada orang yang secara genetik memiliki penyakit defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase, terutama dalam dosis besar dan tergantung pada beratnya penyakit.
  • Penggunaan dosis besar bisa menyebabkan tinnitus (telinga berdenging). Efek ini hanya sementara.
  • Efek samping aspirin (acetosal) yang paling serius adalah sindrom reye. Meskipun kejadiannya jarang, namun sangat fatal. Sindrom Reye adalah sebuah penyakit yang jarang namun parah yang ditandai dengan ensefalopati akut dan hati berlemak. Penyakit ini dapat terjadi bila anak-anak atau remaja diberikan aspirin (acetosal) untuk demam atau penyakit lain atau infeksi.
  • Untuk beberapa orang yang sensitif, obat ini dapat mengakibatkan gejala seperti alergi, termasuk gatal-gatal, bengkak, dan sakit kepala. Reaksi ini disebabkan oleh intoleransi salisilat.
  • Aspirin dan OAINS lainnya, seperti ibuprofen, dapat menunda penyembuhan luka.

Kontraindikasi:
Hindari penggunaan Aptorpada pasien yang memiliki indikasi:

  • Hipersensitif terhadap aspirin atau golongan OAINS.
  • Ulkus peptikum, penyakit hemoragik (kondisi pecahnya salah satu arteri dalam otak yang memicu perdarahan di sekitar organ tersebut), gangguan koagulasi (hemofilia (penyakit yang menyebabkan gangguan perdarahan karena kekurangan faktor pembekuan darah), trombositopenia (jumlah trombosit rendah)), dan asam urat.
  • Gangguan hati dan ginjal berat.
  • Anak-anak umur 5. Hamil dan menyusui.
  • Menggunakan OAINS lain dan metotreksat.

Interaksi Obat:
Berikut adalah beberapa interaksi obat yang dapat terjadi pada Aptor 100 mg Tablet:

  • Antikoagulan (misalnya, warfarin atau kumarin), karena obat-obat ini jika diberikan bersamaan ibuprofen meningkatkan resiko perdarahan lambung.
  • Asetosal menurunkan efektivitas Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor (misalnya, enalapril) atau diuretik (misalnya, furosemide, hydrochlorothiazide).
    Mengganggu efek antiplatelet aspirin dosis rendah yang menyebabkan efektivitas aspirin menurun bila digunakan untuk cardioprotection dan pencegahan stroke.

Kategori Kehamilan:
Keamanan kehamilan menurut FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) mengkategorikan Aptor ke dalam Kategori C dengan penjelasan sebagai berikut:

Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.