Pengertian

Artrodar Kapsul merupakan obat yang mengandung Diacerein yang masuk ke dalam golongan terapi antiinflamasi non-steroid lainnya dan antirematik. Diacerein merupakan turunan antrakuinon yang telah digunakan dalam pengobatan osteoarthritis. Obat ini diduga bekerja melalui cara penghambatan interleukin-1β.

Keterangan

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Obat-obatan Lain yang Bertindak pada Sistem Musculo-Skeletal
  • Kandungan: Diacerein 50 mg
  • Bentuk: Kapsul
  • Satuan penjualan: Strip
  • Kemasan: Strip @ 10 Kapsul
  • Farmasi: Combiphar.

Kegunaan

Artrodar Kapsul meredakan gejala-gejala pada terapi jangka panjang osteoartritis.

Dosis & Cara Penggunaan

Penggunaan Artrodar Kapsul harus dikonsultasikan dahulu dengan Dokter. Aturan penggunaan obat ini yaitu berikan 1 kapsul 2 kali per hari selama minimum 6 bulan.

Efek Samping

Efek samping yang mungkin terjadi adalah percepatan transit intestinal, diare, nyeri epigastrium dan gangguan epigastrium, mual, muntah, melanosis koli, pruritus, eksim, erupsi kulit.

Kontraindikasi:
Artrodar Kapsul tidak boleh diberikan pada pasien:
1. Hipersensitivitas terhadap komponen ini
2. Gangguan enterokolik terutama iritasi intestinal
3. Insufisiensi hati atau ginjal berat
4. Obstruksi intestinal atau pseudoobstruksi
5. Penyakit inflamasi usus (kolitis ulseratif, penyakit Crohn)
6. Hamil dan menyusui
7. Anak.

Interaksi Obat:
1. Absorpsi obat menurun jika diberikan bersama antasid yang mengandung Al &/atau Mg hidroksida
2. Risiko diare meningkat jika diberikan bersama laksatif, antibiotik
3. Hindari pemberian bersama dengan serat makanan/fiber dan fitat.

Keamanan Kehamilan:
Keamanan kehamilan menurut FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) mengkategorikan Artrodar Kapsul ke dalam kategori B dengan penjelasan sebagai berikut:

Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) yang tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).