Pengertian

Astifen adalah obat antihistamin (mengobati reaksi alergi) yang mengandung Ketotifen 1 mg di tiap tablet. Ketotifen bekerja dengan menghambat zat tertentu di dalam tubuh yang dapat menyebabkan inflamasi (peradangan) dan gejala asma. Ketotifen tidak digunakan untuk serangan asma akut. Astifen terdiri dari 2 macam sediaan yaitu Sirup dan Tablet.

Keterangan

1. Astifen Sirup

  • Golongan: Obat Keras.
  • Kelas Terapi: Preparat Antiasma dan PPOK.
  • Kandungan: Ketotifen 1 mg/5 mL.
  • Bentuk: Sirup.
  • Satuan penjualan: Botol.
  • Kemasan: Botol 60 mL.
  • Farmasi: Kalbe Farma.

2. Astifen Tablet

  • Golongan: Obat Keras.
  • Kelas Terapi: Preparat Antiasma dan PPOK.
  • Kandungan: Ketotifen 1 mg.
  • Bentuk: Tablet.
  • Satuan penjualan: Strip.
  • Kemasan: Strip @ 10 Tablet.
  • Farmasi: Kalbe Farma.

Kegunaan

Astifen digunakan untuk meredakan gejala Rhinitis (peradangan pada rongga hidung dengan gejala pilek, bersin-bersin, hidung tersumbat). Dapat juga digunakan untuk mengurangi frekuensi, durasi, dan tingkat keparahan dari asma.

Dosis & Cara Penggunaan

Astifen termasuk dalam golongan obat keras sehingga penggunaannya harus dikonsultasikan dengan Dokter.

Aturan penggunaan Astifen Sirup:
Anak-Anak di atas usia 2 tahun: 1 mg atau 5 mL sirup dua kali sehari (dengan makanan).

Aturan penggunaan Astifen Tablet:
Dewasa: 1 mg 2 x sehari (bersama makanan). Dosis dapat dimulai dengan 0,5 mg, 2 x sehari atau 1 mg malam hari dan kemudian dinaikkan. Dosis dapat ditingkatkan sampai 4 mg dalam 2 dosis terbagi.

Efek Samping

Efek samping yang mungkin terjadi adalah mulut kering, batuk, diare, demam, sakit kepala, nyeri sendi, nafsu makan berkurang, nyeri otot, mual, muntah, lelah, mengantuk.

Kontraindikasi:
Astifen sebaiknya tidak digunakan pada pasien yang sensitif terhadap Ketotifen.

Interaksi Obat:
Dapat mengurangi jumlah trombosit bila digunakan dengan antidiabetik oral.

Kategori Kehamilan:
Keamanan kehamilan menurut FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) mengkategorikan Astifen kedalam Kategori C:
"Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping pada janin (teratogenik atau embriosidal atau efek samping lainnya) dan belum ada studi terkontrol pada wanita, atau studi terhadap wanita dan binatang percobaan tidak dapat dilakukan. Obat hanya dapat diberikan jika manfaat yang diperoleh melebihi besarnya resiko yang mungkin timbul pada janin."