Pengertian

Candipar adalah sediaan obat untuk mengobati berbagai infeksi jamur, terutama infeksi candida pada vagina, mulut, tenggorokan, dan aliran darah. Candipar mengandung fluconazole yang termasuk golongan triazole generasi pertama. Secara umum, sebagian besar infeksi menyebabkan pembengkakan, kemerahan, demam, dan nyeri. Candipar digunakan untuk membantu mencegah infeksi jamur pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah, termasuk orang-orang dengan neutropenia akibat kemoterapi kanker, orang-orang dengan infeksi HIV lanjut, pasien transplantasi, dan bayi prematur. Fluconazole yang terkandung dalam Candipar bekerja dengan menghambat pembentukan membran sel jamur yang rentan termasuk B.dermatitidis, Candida spp., C. immitis, C. neoformans, Epidermophyton spp., H. capsulatum, Micosporum spp., Trichophyton spp.

Keterangan

  • Golongan: Obat Keras.
  • Kelas Terapi: Antijamur.
  • Kandungan: Fluconazole 150 mg.
  • Bentuk: Kapsul.
  • Satuan Penjualan: Strip.
  • Kemasan: Strip @ 10 Kapsul.
  • Farmasi: PT Genero Pharmaceutical.

Kegunaan

Candipar digunakan untuk membantu mengobati infeksi yang diakibatkan oleh jamur.

Dosis & Cara Penggunaan

Dosis penggunaan Candipar harus dikonsultasikan dengan Dokter terlebih dahulu sebelum digunakan, karena Dosis Penggunaan nya berbeda-beda setiap individu nya tergantung berat tidaknya penyakit yang diderita.

  • Tinea pedis, korporis, kruris, versikolor dan kandidiasis dermal
    • Dewasa: 50 mg sehari. Obat diberikan selama 2-4 minggu, maksimum 6 minggu misalnya pada tinea pedis. Obat diberikan secara oral.
  • Profilaksis infeksi jamur pada pasien immunocompromised, setelah kemoterapi atau radioterapi
    • Dewasa : 50-400 mg / hari disesuaikan dengan risiko infeksi. 400 mg / hari jika terdapat risiko tinggi terjadinya infeksi sistemik, misalnya setelah transplantasi sumsum tulang. Terapi dimulai sebelum terjadinya netropenia dan dilanjutkan sampai 7 hari setelah jumlah netrofil yang diinginkan tercapai.
    • Anak : tergantung dari lama dan beratnya neutropenia, 3-12 mg / kg BB / hari. Obat diberikan setiap 72 jam untuk neonatus usia sampai 2 minggu, dan setiap 48 jam untuk neonatus usia 2-4 minggu.

Efek Samping

Efek samping yang mungkin terjadi selama penggunaan Candipar adalah:
1. Ruam.
2. Sakit kepala, pusing.
3. Mual, muntah.
4. Sakit perut, diare.
5. Peningkatan kinerja enzim hati.
6. Kebotakan.

Kontraindikasi
Sebaiknya tidak digunakan pada pasien hipersensitif, Co-admin dengan terfenadin, cisapride, astemizole, pimozide, quinidine, halofantrine dan erythromycin.

Interaksi Obat
1. Penggunaan bersamaan dengan obat-obat seperti cisapride, astemizol, erythromicin, pimozide, dan quinidine berpotensi meningkatkan risiko cardiotoxicity (interval QT yang berkepanjangan, torsade de pointes) dan kematian jantung mendadak. Kombinasi ini adalah kontraindikasi.
2. Pada dosis 400 mg atau lebih besar tidak boleh digunakan bersamaan dengan terfenadine karena menyebabkan hal yang sama.
Candipar mengurangi metabolisme tolbutamid, glibenclamide, dan glipizide sehingga meningkatkan konsentrasinya di plasma darah. Konsentrasi glukosa darah harus dipantau secara seksama dan dosis obat-obat ini harus disesuaikan seperlunya.
3. Penggunaan dengan antikoagulan warfarin atau kumarin bisa meningkatkan protrombin time sehingga meningkatkan potensi terjadinya perdarahan. Penyesuaian dosis antikoagulan mungkin diperlukan.
4. Candipar meningkatkan konsentrasi plasma fenitoin, teofilin, siklosporin, rifabutin, midazolam, tacrolimus, dan metadon.
5. Rifampisin meningkatkan metabolisme fluconazole sehingga menurunkan efek farmakologisnya. Peningkatkan dosis fluconazole mungkin diperlukan untuk beberapa indikasi.
6. Candipar memiliki potensi untuk meningkatkan eksposur sistemik obat golongan calcium chanel blocker (nifedipin, isradipin, amlodipine, verapamil, dan felodipin). Pemantauan efek samping dianjurkan.

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Candipar ke dalam Kategori C,D:
Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.
Kategori D: Ada bukti positif risiko pada janin manusia, tetapi manfaat obat jika digunakan pada wanita hamil dapat diterima meskipun ada risiko (misalnya, jika obat tersebut diperlukan dalam situasi yang mengancam jiwa atau untuk penyakit serius dimana obat-obatan yang lebih aman tidak dapat digunakan atau tidak efektif).