Pengertian

Cefotaxime adalah obat yang digunakan untuk infeksi saluran napas, termasuk hidung dan tenggorokan, infeksi pada telinga, infeksi kulit dan jaringan lunak. Jenis infeksi lain yang bisa ditangani dengan cefotaxim beragam. Di antaranya adalah septikemia (infeksi dalam darah), meningitis (peradangan pada selaput pelindung yang menutupi saraf otak dan tulang belakang), peritonitis (infeksi pada selaput yang melapisi rongga perut), serta osteomielitis (infeksi pada tulang). Pencegahan infeksi pada luka operasi juga bisa menggunakan antibiotik ini.

Keterangan

  • Golongan: Obat Keras.
  • Kelas Terapi: Antibiotik Sefalosporin.
  • Kandungan: Cefotaxime 1 gram.
  • Bentuk: Injeksi.
  • Satuan Penjualan: Vial.
  • Kemasan: Vial 1 gram.
  • Farmasi: Hexpharm Jaya

Kegunaan

Cefotaxim adalah antibiotik yang digunakan untuk membantu mengobati Infeksi pada saluran nafas bagian bawah, sistem saluran kemih dan saluran kelamin, infeksi alat kelamin, infeksi saluran cerna, infeksi tulang dan sendi, infeksi sistem syaraf, serta infeksi sel darah.

Dosis & Cara Penggunaan

Dewasa dan anak > 12 tahun : 1 gram setiap 12 jam.
Pada infeksi berat dosis 2 kali 2 gram/hari biasanya cukup.
Interval pemberian obat dapat diperpendek menjadi setiap 6 - 8 jam.

Efek Samping

Gastrointestinal: coIitis, diare, mual, muntah, nyeri abdomen.
Susunan saraf pusat: sakit kepala, pusing.

Kontraindikasi
Tidak dapat digunakan untuk pasien yang memiliwiki hipersensitif terhadap antibiotik cephalosporin (antibiotik untuk membunuh bakteri dengan cara menghambat pembentukan dinding sel bakteri).

Interaksi Obat
- Dapat memperlambat ekskresi jika diminum bersama probenesid (obat asam urat)
- Dapat meningkatkan risiko nefrotoksik (obat yang mengganggu fungsi ginjal) jika diminum bersama aminoglikosida dan diuretik poten.

Kategori Kehamilan
Keamanan kehamilan menurut FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) mengkategorikan Cefotaxime ke dalam kategori B dengan penjelasan sebagai berikut:

“Studi pada sistem reproduksi binatang percobaan tidak memperlihatkan adanya resiko terhadap janin, tetapi studi terkontrol terhadap wanita hamil belum pernah dilakukan. Atau studi terhadap reproduksi binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping obat (selain penurunan fertilitas) yang tidak diperlihatkan pada studi terkontrol pada wanita hamil trimester I (dan tidak ada bukti mengenai resiko pada trimester berikutnya).”

Penelitian pada hewan tidak selalu bisa dijadikan dasar keamanan pemakaian obat terhadap wanita hamil. Belum adanya penelitian klinis yang memadai dan terkendali dengan baik pada ibu hamil membuat pemakaian obat-obat yang mengandung Cefotaxime selama kehamilan tetap harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.