Pengertian

Cendo Polypred adalah obat untuk mengatasi iritasi dan peradangan pada mata, terutama yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Cendo Polypred mengandung Prednisolone asetat, Neomisin sulfat, serta Polimiksin B. Perdisolon asetat bekerja dengan menurunkan respon sistem imun tubuh (yang menyebabkan terjadinya reaksi peradangan sebagai upaya untuk mengeluarkan zat asing dari dalam tubuh). Neomisin sulfat dan Polimiksin B adalah obat-obatan antibiotik (obat yang dapat menahan laju infeksi bakteri). Neomisin adalah antibiotik yang berasal dari golongan Aminoglikosida. Cendo Polypred bekerja dengan menghambat aktivitas enzim tertentu yang diperlukan oleh bakteri untuk membentuk protein. Hal ini secara praktis menghambat pertumbuhan bakteri dan kemampuannya untuk membelah diri. Polimiksin B bekerja dengan merusak dinding sel bakteri dan membunuh bakteri tersebut. Kombinasi keduanya menghasilkan efek antibakteri yang luas.

Keterangan

  • Golongan: Obat Keras.
  • Kelas Terapi: Antibiotik Topikal, Kortikosteroid Mata.
  • Kandungan: Prednisolone acetat, neomycin sulphate, polymyxin B sulphate.
  • Bentuk: Tetes Mata.
  • Satuan Penjualan: Botol Tetes.
  • Kemasan: Botol Tetes 5 mL.
  • Farmasi: PT Cendo Pharmaceutical Industries.

Kegunaan

Cendo Polypred memiliki kegunaan sebagai terapi infeksi mata.

Dosis & Cara Penggunaan

Cendo Polydex termasuk dalam golongan obat keras, sehingga penggunaan obat ini harus dengan anjuran dan resep Dokter.

  • Dewasa: 3 tetes, 3-4 kali. Hentikan jika tidak ada perbaikan klinis setelah 7 hari.
  • Anak: ≥3 tahun Sama dengan dosis orang dewasa.

Efek Samping

Efek samping yang mungkin terjadi pada penggunaan Cendo Polypred adalah:
1. Reaksi alergi.
2. Peningkatan tekanan cairan mata.
3. Melambatnya pemulihan luka.
4. Iritasi, sensasi panas, rasa ngilu, infeksi kulit.

Kontraindikasi
Hindari penggunaan Cendo Polypred pada pasien yang memiliki indikasi:
1. Hipersensitif terhadap neomisin.
2. Gendang telinga berlubang.
3. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri, jamur, atau virus dan pada rosacea (suatu kondisi yang menyebabkan benjolan kemerahan dan biasanya kecil, merah, dan berisi nanah di wajah), jerawat, dermatitis perioral (peradangan kulit pada daerah mulut), dan erupsi serbet (peradangan kulit pada daerah bokong).

Interaksi Obat
Berikut ini adalah beberapa interaksi obat yang umumnya terjadi pada Cendo Polypred:
1. Efek nefrotoksik dan neurotoksik aditif jika digunakan bersama aminoglikosida lainnya, bacitracin, cisplatin, vankomin, amfoterisin B, polimiksin B, colistin dan viomisin.
2. Peningkatan toksisitas dengan diuretic poten.
3. Dapat mengganggu penyerapan fenoksimetilpenisilin, digoksin, metotreksat dan beberapa vitamin.
4. Dapat mengurangi aktivitas kontrasepsi oral.
5. Dapat meningkatkan efek acarbose.
6. Dapat meningkatkan efek relaksan otot non-depolarisasi.
7. Dapat menghambat efek antagonis parasimpatomimetik neostigmi dan piridostigmin.
8. Dapat meningkatkan risiko hipokalsemia pada pasien yang menerima bisfosfonat.
9. Dapat mengubah INR bila diberikan bersama antikoagulan.
10. Dapat menonaktifkan vaksin tifoid oral.

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Cendo Polypred ke dalam Kategori D:
Ada bukti positif risiko pada janin manusia, tetapi manfaat obat jika digunakan pada wanita hamil dapat diterima meskipun ada risiko (misalnya, jika obat tersebut diperlukan dalam situasi yang mengancam jiwa atau untuk penyakit serius dimana obat-obatan yang lebih aman tidak dapat digunakan atau tidak efektif).