Pengertian

Cialis merupakan obat yang mengandung Tadalafil. Tadalafil merupakan obat untuk membantu mengobati masalah fungsi seksual pria (impotensi atau disfungsi ereksi). Dalam kombinasi dengan rangsangan seksual, cialis bekerja dengan cara meningkatkan aliran darah ke penis untuk membantu pria mendapatkan dan mempertahankan ereksi. Cialis juga digunakan untuk membantu mengobati gejala pembesaran prostat (benign prostatic hyperplasia-BPH). Cialis membantu untuk meringankan gejala BPH seperti kesulitan dalam memulai aliran urin, aliran lemah, dan kebutuhan untuk sering buang air kecil atau mendesak (termasuk saat tengah malam). Cialis diduga bekerja dengan relaksasi otot polos di prostat dan kandung kemih. Cialis tidak melindungi terhadap penyakit menular seksual (seperti HIV, hepatitis B, gonore, sifilis).

Keterangan

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Antihiperlipidemia
  • Kandungan: Tadalafil 10 mg; Tadalafil 20 mg
  • Bentuk: Tablet
  • Satuan Penjualan: Tablet
  • Kemasan: Strip @ 2 Tablet; Strip @ 14 Tablet
  • Farmasi: Bayer Indonesia.

Kegunaan

Cialis merupakan obat untuk membantu mengobati masalah fungsi seksual pria (impotensi atau disfungsi ereksi).

Dosis & Cara Penggunaan

Cialis merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembeliannya harus menggunakan resep Dokter.

Aturan penggunaan Cialis:
Disfungsi ereksi: dosis awal 10 mg, 30 menit sebelum berhubungan seksual. Dosis dapat ditingkatnya menjadi 20 mg, dosis pemeliharaan 5 mg sehari sekali dan dapat diturunkan dosisnya menjadi 2.5 mg. Atau sesuai petunjuk Dokter.

Efek Samping

Efek samping yang mungkin terjadi adalah sakit kepala, pusing, dispepsia, nyeri punggung, hidung tersumbat (kongesti nasal), sensasi panas dan kemerahan pada kulit, penglihatan kabur. Jika salah satu gejala tersebut menetap bahkan memburuk segera hubungi Dokter.

Kontraindikasi:
- Pasien yang memiliki riwayat hipersensitif terhadap tadafil.
- Pasien yang memiliki riwayat penyakit hipotensi, gagal jantung.

Interaksi Obat:
Amlodipine, enalapril, metoprolol, dan bendrofluazide dapat menambah efek hipotensi

Kategori Kehamilan:
Menurut FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) mengkategorikan Safetin ke dalam kategori B:

Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) yang tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).