Pengertian

Citicoline merupakan obat generik berbentuk injeksi yang digunakan untuk mengobati kehilangan kesadaran akibat kerusakan otak, trauma kepala atau operasi otak dan serebral infark (kondisi kerusakan jaringan di otak akibat tidak mendapatkan cukup suplai oksigen). Citicoline bekerja meningkatkan aliran oksigen dan metabolisme serebral. Untuk pasien dengan gangguan kesadaran pada infark serebri akut (penyumbatan), dianjurkan untuk memulai pemberian injeksi Citicoline dalam dua minggu setelah stroke apopletik.

Keterangan

New Section

  1. Citicoline Kaplet
    • Golongan: Suplemen
    • Kelas Terapi: Nootropics & Neurotonics/Neurotrophics
    • Kandungan: Citicoline 500 mg; Citicoline 1000 mg
    • Bentuk: Kaplet
    • Satuan Penjualan: Strip
    • Kemasan: Strip @ 10 Kaplet; Strip @ 6 Kaplet
    • Farmasi: Hexpharm Jaya; Novell; Promedrahardjo; Dexa Medica; Natura Laboratoria Prima; Mahakam Beta Farma.
  2. Citicoline Injeksi
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Nootropics & Neurotonics/Neurotrophics
    • Kandungan: Citicoline 125 mg/mL
    • Bentuk: Injeksi
    • Satuan Penjualan: Ampul
    • Kemasan: Ampul @ 2 mL
    • Farmasi: Hexpharm Jaya; Dexa Medica; Mahakam Beta Farma; Bernofarm; Mersifarma Tirmaku Mercusana; Natura Laboratoria Prima; Etercon Pharma; Phapros.

Kegunaan

Citicoline digunakan untuk mengobati gangguan serebrovaskular (pembuluh darah otak), cidera kepala, penyakit Parkinson.

Dosis & Cara Penggunaan

Citicoline termasuk dalam golongan Obat Keras, sehingga penggunaan obat ini harus dengan anjuran dan resep Dokter. Aturan penggunaan:

  • Citicoline Kaplet: Dewasa, 500 mg diberikan 1-2 kali sehari. Atau 1000 mg diberikan 1 kali sehari.
  • Citicoline Injeksi: Diberikan dosis 500-1.000 mg setiap hari, melalui injeksi intramuskular (melalui otot) atau injeksi intravena (melalui pembuluh darah) lambat selama 3-5 menit, atau melalui infus 40-60 tetes / menit.

Efek Samping

Efek Samping yang mungkin dapat terjadi selama penggunaan Citicoline adalah:
- Sakit perut
- Kelelahan
- Pusing, sakit kepala
- Ruam
- Bradikardia (denyut jantung lambat)
- Takikardia (detak jantung melebihi 100 kali per menit)
- Diare
- Ketidaknyamanan ulu hati
- Hipotensi (tekanan darah rendah).

Kontraindikasi:
Tidak boleh diberikan pada penderita hipertonia sistem saraf parasimpatis.

Interaksi Obat:
Dapat mempotensiasi efek Levodopa.