Pengertian

Coartem merupakan obat yang mengandung Arthemether dan lumefantrine. Coartem berfungsi sebagai antimalaria yang diindikasikan pada pasien yang terkena infeksi malaria. Malaria adalah penyakit yang ditularkan oleh nyamuk dari manusia dan hewan lain yang disebabkan oleh protozoa parasit (sekelompok mikroorganisme bersel tunggal) dalam tipe Plasmodium. Gejala malaria yaitu seperti demam, kelelahan, muntah, dan sakit kepala. Dalam kasus yang parah dapat menyebabkan kulit kuning, kejang, koma, atau kematian

Keterangan

  • Golongan: Obat Keras.
  • Kelas Terapi: Antimalaria
  • Kandungan: Arthemether 20mg dan lumefantrine 120mg
  • Bentuk: Tablet
  • Satuan Penjualan: Strip.
  • Kemasan: Strip @ 6 Tablet .
  • Farmasi: PT Novartis Indonesia

Kegunaan

Coartem berfungsi sebagai antimalaria yang diindikasikan pada pasien yang terkena infeksi malaria.

Dosis & Cara Penggunaan

Coartem merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembelian nya harus menggunakan resep Dokter. Selain itu, dosis penggunaan coartem juga harus dikonsultasikan dengan Dokter terlebih dahulu sebelum digunakan, karena dosis penggunaan nya berbeda-beda setiap individu tergantung berat tidaknya penyakit yang diderita.

Dewasa dan anak lebih dari 35 kg : 4 tablet
Bayi dan Anak 25 kg - 35 kg : 3 tablet
Bayi dan Anak 15 -25 kg : 2 tablet
Bayi dan Anak 5-15 kg : 1 tablet

Efek Samping

Efek samping yang mungkin terjadi apabila mengkonsumsi coartem adalah:
Sakit kepala, pusing, gangguan tidur, palpitasi, batuk, nyeri abdomen, anoreksia, diare, muntah, mual, pruritus, ruam kulit, artralgia, mialgia, asteria, lelah.

Kontraindikasi
-Pasien yang memiliki riwayat hipersensitif terhadap

Interaksi Obat
-

Kategori Kehamilan
Menurut FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) mengkategorikan Coartem ke dalam kategori C dengan penjelasan sebagai berikut:

Studi pada hewan percobaan menunjukan adanya efek samping pada janin namun belum ada studi kontrol pada wanita hamil, obat dapat diberikan apabila efek terapinya lebih besar dari resiko pada janin.