Pengertian

Dextafen merupakan obat yang memiliki kandungan zat aktif Dexamethasone dan Dexchlopheniramin. Dextafen termasuk dalam gologan obat antihistamin dan antialergi. Dextafen di gunakan untuk mengobati gangguan alergi yang responsif terhadap kortikosteroid, seperti: dermatitis (gangguan kulit), konjungtivitis alergi, rinitis alergi (inflamasi hidung yang terjadi karena sistem imun menurun), urtikaria atau biduran.

Keterangan

  • Golongan: Obat Keras.
  • Kelas Terapi: Anti Inflamasi.
  • Kandungan: Dexamethasone 500 mg dan Dexclorpheniramine maleat 2 mg.
  • Bentuk: Kaplet.
  • Satuan Penjualan: Strip.
  • Kemasan: Strip @ 10 Kalpet.
  • Farmasi: PT Otto Pharmaceutical Industries.

Kegunaan

Dextafen digunakan untuk mengobati alergi pada saluran pernafasan, kulit dan mata, mengatasi alergi yang responsif terhadap kostikosteroid.

Dosis & Cara Penggunaan

Dextafen merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembeliannya harus menggunakan resep dokter. Selain itu, dosis penggunaan dextafen juga harus dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu sebelum digunakan, karena dosis penggunaan nya berbeda-beda setiap individu tergantung berat tidaknya penyakit yang diderita.

Aturan penggunaan Obat Dextafen :

  • Dosis dewasa : 1 kaplet, di minum 3 kali sehari.
  • Dosis anak usia 6-12 : ½ kaplet, di minum 3 kali sehari.
  • Dosis anak usia 2-6 tahun : 1/4 kaplet, di minum 3 kali sehari.

Efek Samping

  • Retensi garam dan cairan
  • Susah buang air kecil
  • Gangguan pencernaan
  • Nafsu makan meningkat
  • Menghambat pertumbuhan
  • Gangguan haid
  • Pelemasan otot

Kontraindikasi
Hindari penggunaan Dextafen pada pasien yang memiliki indikasi:

  • Pasien yang memiliki riwayat penyakit Hipersensitif pada obat Dexamethasone dan dexchlorpheniramine maleate dan obat golongan kortikosteroid dan anti histamin lainnya, sebaiknya tidak menggunakan obat ini
  • Kortikosteroid tidak boleh digunakan dalam aktif okular herpes simpleks.
  • Karena risiko obat-obat antihistamin yang lebih tinggi untuk bayi pada umumnya dan untuk bayi baru lahir dan prematur pada khususnya, terapi dengan antihistamin dikontraindikasikan pada ibu menyusui.
  • Sebaiknya tidak digunakan untuk bayi baru lahir dan prematur, penderita tukak peptik, atau penderita infeksi jamur sistemik.


Interaksi Obat

  • Aminoglutethimide : menurunkan kadar Dexamethasone, melalui induksi enzim mikrosomal sehingga mengurangi efek farmakologisnya.
  • Agen Kalium-depleting : jika diberikan bersamaan dengan obat-obat kalium-depleting agen (misalnya, amfoterisin B, diuretik), pengamatan ketat harus dilakukan terhadap kemungkinan terjadinya hipokalemia.
  • Antibiotika makrolida : menurunkan klirens Dexamethasone sehingga meningkatkan kadar/efek farmakologisnya.
  • Antidiabetik : kortikosteroid dapat meningkatkan konsentrasi glukosa darah, oleh karena itu penyesuaian dosis obat anti diabetes mungkin diperlukan.
  • Isoniazid : Konsentrasi serum isoniazid mungkin akan menurun jika diberikan bersamaan dengan kortikosteroid.
  • Cholestyramine dan efedrin : Cholestyramine meningkatkan klirens kortikosteroid sehingga menurunkan kadar/efek farmakologisnya.
  • Vaksin hidup : Dexamethasone menurunkan sistem imun tubuh sehingga meningkatkan resiko terjadinya infeksi. Penggunaan vaksin hidup pada pasien yang menggunakan Dexamethasone sebaiknya dihindari.
  • Anti jamur azole seperti ketoconazole : mengurangi metabolisme kortikosteroid sehingga dapat meningkatkan kadar dan efek farmakologisnya.
  • NSAID : aspirin atau NSAID lainnya meningkatkan resiko efek samping perdarahan pada saluran pencernaan.
  • Penggunaan bersamaan dengan agen antikolinesterase dapat menyebabkan kelemahan yang parah pada pasien myasthenia gravis. Jika memungkinkan, agen antikolinesterase harus ditarik setidaknya 24 jam sebelum memulai terapi kortikosteroid.
  • Pasien yang menggunakan glikosida digitalis mungkin mengalami peningkatan risiko aritmia karena hipokalemia.
  • Estrogen, termasuk kontrasepsi oral, dapat menurunkan metabolisme hepatik kortikosteroid tertentu, sehingga meningkatkan efeknya.
  • Enzim hati reagen (misalnya, barbiturat, fenitoin, carbamazepine, rifampin) dapat meningkatkan metabolisme kortikosteroid. Dosis kortikosteroid mungkin perlu ditingkatkan.
  • Dexchlorpheniramine Maleate memiliki efek aditif dengan alkohol dan depresan sistem saraf pusat lainnya (barbiturate, opioid analgesics, hipnotik, sedatif, tranquilizers).
  • MAO inhibitors memperpanjang dan mengintensifkan efek antikolinergik (pengeringan) antihistamin.

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Dextafen ke dalam Kategori B:
Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) yang tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).