Pengertian

Diuvar merupakan sediaan injeksi yang mengandung zat aktif furosemide. Obat ini digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi. Menurunkan tekanan darah tinggi dapat mencegah dan mengurangi resiko stroke, serangan jantung dan masalah ginjal. Selain itu, obat ini digunakan untuk mengurangi cairan berlebihan dalam tubuh atau pembengkakan (edema) yang disebabkan oleh beberapa kondisi, seperti: ginjal (sindrom nefrotik), gagal jantung, dan penyakit hati, serta terapi tambahan pada edema serebral atau edema paru. Hindari makanan yang banyak mengandung lemak dan terlalu asin, olahraga, istirahat yang cukup hindari konsumsi alkohol dan penurunan berat badan juga membantu kerja dari obat ini.

Keterangan

  • Golongan: Obat Keras.
  • Kelas Terapi: Diuretik.
  • Kandungan: Furosemid 10 mg/mL.
  • Bentuk: Ampul.
  • Satuan Penjualan: Box.
  • Kemasan: Box, 5 Ampul @ 2 mL.
  • Farmasi: PT Gracia Pharmindo.

Kegunaan

Diuvar digunakan untuk pengobatan hipertensi.

Dosis & Cara Penggunaan

Penggunaan Diuvar harus berdasarkan dengan resep Dokter, dan diberikan oleh tenaga medis profesional.

Aturan penggunaan Diuvar adalah:

  1. Edema
    • Dewasa: Awal: di berikan dosis  20-40 mg sebagai dosis tunggal melalui injeksi intravena (melalui pembuluh darah) atau intramuskular (melalui otot). Injeksi intravena di berikan perlahan (1-2 menit). Dosis dapat ditingkatkan sebanyak 20 mg setidaknya 2 jam sesudah pemberian dosis awal hingga efek diuretik yang diinginkan tercapai.
  2. Edema paru: di berikan dosis 40 mg secara intravena (melalui pembuluh darah) lambat (1-2 menit), dapat diulang 1 jam kemudian sampai dosis maksimal 80 mg.
  3. Anak: 1 mg/kg berat badan melalui injeksi intravena (melalui pembuluh darah) atau intramuskular (melalui otot), dosis dapat ditingkatkan 2 jam kemudian hingga dosis maksimal 6 mg/kg BB.

Efek Samping

  • Sakit kepala.
  • Mengantuk
  • Kram otot
  • Hipotensi
  • Mulut kering, haus, kelemahan, lesu, dan gelisah
  • Hiponatremia (kondisi di mana konsentrasi natrium yang rendah di dalam darah).
  • Hipokloremik alkalosis (ketidak seimbangan klorida dalam tubuh).
  • Hipokalemia (suatu keadaan dimana kadar kalium yang terdapat di dalam darah berada pada jumlah yang lebih rendah).
  • Oliguria (jumlah urin yang keluar dibawah normal).
  • Gangguan saluran cerna termasuk mual, muntah, dan diare.
  • Hipovolemia (penipisan volume cairan ekstraseluler), dehidrasi (gangguan dalam keseimbangan cairan atau air pada tubuh).
  • Hiperurisemia (keadaan dimana terjadi peningkatan kadar serum asam urat).

Kontraindikasi
Hindari penggunaan Diuvar pada pasien yang memiliki indikasi:

  • Hipersensitif terhadap furosemid dan sulfonamid.
  • Gagal ginjal.
  • Penyakit Addison (gangguan saat kelenjar adrenal tidak menghasilkan cukup hormon).
  • Dehidrasi.
  • Keadaan yang berhubungan dengan sirosis hati.

Interaksi Obat
Berikut ini adalah beberapa interaksi obat yang umumnya terjadi pada Diuvar:

  • Dapat meningkatkan nefrotoksisitas dari sefalosporin (misalnya sefalotin), dan OAINS.
  • Dapat meningkatkan ototoksisitas dari aminoglikosida, asam ethacrynic, obat ototoksik lainnya.
  • Tingkat serum dapat berkurang bersama penggunaan aliskiren.
  • Dapat meningkatkan efek hipotensi dari inhibitor ACE atau angiotensin II antagonis reseptor.
  • Peningkatan risiko hiperkalemia dengan diuretik K-sparing.
  • Peningkatan resiko kardiotoksisitas jika digunakan bersama dengan glikosida jantung, dan antihistamin.
  • Mungkin mengurangi kadar serum lithium.
  • Mungkin memiliki efek antagonis jika digunakan bersama hipoglikemik dari antidiabetik.
  • Peningkatan efek hipotensif dengan MAO inhibitor.
  • Peningkatan hiponatremia jika digunakan bersama carbamazepine.
  • Mengurangi natriuretik dan efek hipotensi jika digunakan dengan indometasin.
  • Berkurang efek diuretik jika digunakan dengan salisilat.

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Diuvar ke dalam Kategori C:
Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.