Pengertian

Emla obat ini mengandung 2 jenis anestesi lokal (pembiusan lokal) yaitu Lidocaine 2.5% dan Prilocaine 2.5%. Obat ini digunakan untuk anestesi topikal (pembiusan lokal) pada kulit yang normal. Lidocaine merupakan obat anti nyeri dengan cara memblokir pelepasan ion natrium pada saraf sehingga tidak terjadi rasa sakit. Prilocaine bekerja sebagai anestesi lokal yang bekerja dengan ion natrium yang diperlukan pada pergerakan otot sehingga otot menjadi rileks dan proses pemulihan menjadi cepat. Krim ini digunakan pada kulit normal, kulit yang tidak rusak, atau pada daerah organ intim luar untuk mencegah rasa sakit sebelum prosedur tertentu seperti memasukkan jarum, cangkokan kulit, atau operasi laser kulit. Bekerja dengan cara membuat kulit mati rasa secara sementara.

Keterangan

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Anestesi Lokal
  • Kandungan: Lidocaine 2.5% dan Prilocaine 2.5%
  • Bentuk: Krim
  • Satuan Penjualan: Tube
  • Kemasan: Tube @ 5 G
  • Farmasi: Astra zeneca indonesia.

Kegunaan

Emla digunakan untuk anestesi topikal (pembiusan lokal) pada kulit yang normal.

Dosis & Cara Penggunaan

Emla merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembelian nya harus menggunakan resep dokter

Oleskan tipis-tipis pada kulit yang mau dibius.

Efek Samping

Efek samping yang dapat timbul saat menggunakan Emla:

  1. Hiperpigmentasi (Warna kulit lebih terang atau putih yang tidak normal di bagian tubuh tertentu).
  2. Eritema.
  3. Gatal.
  4. Ruam Kulit.
  5. Rasa terbakar.


Kontraindikasi:

Neonatus (bayi baru lahir) 

Interaksi obat:
Efek toksik jika digunakan dengan obat-obat jantung terkhususnya obat antiaritmia.

Katagori Kehamilan:
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Emla ke dalam Kategori B
Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) yang tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).