Pengertian

Eprex merupakan sediaan obat dalam bentuk injekasi yamg memiliki komposisi Epoetin alfa yang berfungsi untuk pengobatan anemia yang berhubungan dengan gagal ginjal kronik menjalani cuci darah, ginjal tidak berfungsi normal, penurunan kebutuhan transfusi pada pasien kanker yang sedang menjalani kemoterapi dan dapat digunakan pada pasien yang memiliki gejala HIV.

Keterangan

  1. Eprex 10000 IU/mL Injeksi
    • Golongan: Obat Keras.
    • Kelas Terapi: Obat Hematopoietik
    • Kandungan: Epoetin alfa 10000 IU/mL.
    • Bentuk: Cairan Injeksi.
    • Satuan Penjualan: Syringe.
    • Kemasan: Box @ 6 Prefilled Syringe @ 1 mL.
    • Farmasi: Soho Industri Pharmasi
  2. Eprex 2000 IU/0.5 mL Injeksi
    • Golongan: Obat Keras.
    • Kelas Terapi: Obat Hematopoietik
    • Kandungan: Epoetin alfa 2000 IU/0,5 mL.
    • Bentuk: Cairan Injeksi.
    • Satuan Penjualan: Prefilled Syringe.
    • Kemasan: Box @ 6 Prefilled Syringe @ 1 mL.
    • Farmasi: Soho Industri Pharmasi.
  3. Eprex 4000 IU/0.4 mL
    • Golongan: Obat Keras.
    • Kelas Terapi: Obat Hematopoietik
    • Kandungan: Epoetin alfa 4000 IU/0,4 mL.
    • Bentuk: Cairan Injeksi.
    • Satuan Penjualan: Prefilled Syringe.
    • Kemasan: Box @ 6 Prefilled Syringe @ 1 mL.
    • Farmasi: Soho Industri Pharmasi.

Kegunaan

Eprex dapat digunakan untuk pengobatan anemia yang berhubungan dengan gagal ginjal kronik, pasien yang sedang menjalani kemoterapi, dan pasien yang memiliki gejala HIV.

Dosis & Cara Penggunaan

Eprex merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembelian nya harus menggunakan resep dokter. Selain itu, dosis penggunaan eprex juga harus dikonsultasikan dengan dokter dan apoteker terlebih dahulu sebelum digunakan, karena dosis penggunaan nya berbeda-beda setiap individu tergantung berat tidaknya penyakit yang diderita. Penggunaan eprex injeksi harus dibantu oleh tenaga ahli medis.

  • Hemodialisis
    • Dewasa Koreksi fase: 50 IU / kg 3 kali seminggu. Sesuaikan dosis dalam kenaikan 25 IU / kg 3 kali Dosis individual. Total dosis mingguan yang disarankan: 75-300 IU / kgBB.
    • Fase koreksi anak: 50 IU / kg 3 kali seminggu.
    • Fase pemeliharaan:
      • Berat badan > 30 kg: 30-100 IU / kgBB, 3 kali seminggu,
      • Berat Badan 10-30 kg: 60-150 IU / kgBB, 3 kali seminggu,
      • Berat Badan Di berikan melalui injeksi Intravena.
  • Sebelum cuci darah Peritoneum
    • Fase koreksi: 50 IU / kgBB 3 kali seminggu. Fase pemeliharaan: 17-33 IU / kg 3 kali seminggu. Maksimal: 200 IU / kg 3 kali seminggu.
      Di berikan secara injeksi sub kutan (di suntikkan ke bawah kulit)
  • Pasien kanker
    • Dosis awalnya 150 IU / kg 3 kali seminggu.
    • Jika Hb tidak meningkat ≥1 g / dL dan jumlah retikulosit tidak meningkat ≥40.000 sel / mcL setelah 4 minggu, tingkatkan dosis menjadi 300 IU / kgBB, 3 kali seminggu.
    • Jika Hb meningkat pasien bedah dalam program pra-donasi autolog 600 IU / kg 2 kali seminggu selama 3 minggu sebelum operasi.
  • Pasien Bedah
    • Dewasa: 600 IU / kg setiap minggu selama 3 minggu sebelum operasi dan pada hari operasi.
      Di suntikkan melalui injeksi sub kutan.

Efek Samping

  • Dapat meningkatkan tekanan darah
  • Kejang
  • Sakit Kepala
  • Diare
  • Mual, muntah
  • Dapat terjadi reaksi pada kulit.

Kontraindikasi

  • Tidak digunakan pada pasien yang memiliki riwayat hipertensi (tekanan darah tinggi)
  • Pasien yang memiliki riwayat (PRCA) Tidak berkembangnya jaringan tubuh
  • Pasien yang memiliki riwayat penyakit epilepsi/ kejang
  • Pasien yang memiliki penyakit gagal hati kronik
  • Riwayat penyakit kanker
  • Hamil dan menyusui

Interaksi Obat

  • Obat yang mengurangi erythropoiesis dapat menurunkan respons terhadap Eprex.
  • Pantau kadar cyclosporin dalam darah.

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Eprex ke dalam Kategori C:
Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.