Pengertian

Erbifin merupakan obat antijamur yang di produksi oleh Erela. Obat ini mengandung metronidazole yang diindikasikan untuk terapi pengobatan trikomoniasis, infeksi bakteri anaerob, infeksi saluran genital. Metronidazole bekerja dengan cara berinteraksi dengan DNA mikroba untuk memutus untai dan struktur heliks yang mengarah ke penghambatan sintesis protein, degradasi, dan kematian sel.

Keterangan

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Antibiotik lain atau Antiamoebik
  • Kandungan: Metronidazole 500 mg
  • Bentuk: Kaplet
  • Satuan Penjualan: Strip
  • Kemasan: Strip @ 10 Kaplet
  • Farmasi: Erela

Kegunaan

Erbifin diindikasikan untuk terapi pengobatan trikomoniasis (penyakit menular seksual yang disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis), pencegahan infeksi bakteri anaerob pasca operasi, giardiasis (infeksi umum pada usus yang disebabkan oleh Giardia lamblia), amoebiasis (infeksi parasit pada usus yang disebabkan oleh parasit Entamoebae histolytica ), infeksi bakteri anaerob, bacterial vaginosis (penyakit vagina yang disebabkan oleh banyaknya bakteri).

Dosis & Cara Penggunaan

Erbifin merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembelian nya harus menggunakan resep dokter. Selain itu, dosis penggunaan erbifin juga harus dikonsultasikan dengan dokter dan apoteker terlebih dahulu sebelum digunakan, karena dosis penggunaan nya berbeda-beda setiap individu tergantung berat tidaknya penyakit yang diderita.

  1. Trikomoniasis
    • Dewasa: 2.000 mg sebagai dosis tunggal atau 200 mg sehari selama 7 hari. Atau, 400 mg 2 x sehari selama 5-7 hari. Pasangan seksual juga harus diberikan terapi.
    • Anak: 40 mg / kgBB sebagai dosis tunggal atau 15-30 mg / kgBB setiap hari dalam 2-3 dosis terbagi. Maksimal: 2.000 mg / dosis.
  2. Pencegahan Infeksi Bakteri Anaerob Pasca Operasi
    • Dewasa: 400 mg setiap 8 jam dalam 24 jam sebelum operasi dilanjutkan dengan pemberian obat secara intravena atau dosis dubur pasca operasi sampai terapi oral dimungkinkan. Maksimal: 4.000 mg setiap hari.
    • Anak: Bayi baru lahir Anak Usia
  3. Giardiasis
    • Dewasa: 2.000 mg 1 x sehari selama 3 hari atau 400 mg 3 x sehari selama 5 hari atau 500 mg 2 x sehari selama 7-10 hari. Atau, 15-40 mg / kgBB setiap hari dalam 2-3 dosis terbagi.
    • Anak Usia 1-3 tahun: 50 mg 1 x sehari selama 3 hari.
    • Anak Usia > 3-7 tahun: 600-800 mg 1 x sehari selama 3 hari;
    • Anak Usia > 7-10 tahun: 1.000 mg 1 x sehari setiap hari selama 3 hari.
    • Anak Usia > 10 tahun Sama dengan dosis dewasa. Atau, 15-40 mg / kgBB setiap hari dalam 2-3 dosis terbagi.
  4. Amoebiasis
    • Dewasa: 800 mg 3 x sehari selama 5 hari (infeksi usus); 400-800 mg selama 5-10 hari (infeksi ekstra-usus). Atau, 35-50 mg / kgBB setiap hari dalam 3 dosis terbagi selama 5-10 hari. Maksimal: 2.400 mg setiap hari.
    • Anak Usia 1-3 tahun: 200 mg, diberikan selama 5 hari (usus); 100-200 mg 3 x sehari selama 5-10 hari.
    • Anak Usia 3-7 tahun: 200 mg 4 x sehari selama 5 hari (ekstra intestinal); 100-200 mg 4 x sehari selama 5-10 hari.
    • Anak Usia 7-10 tahun: 400 mg 3 x sehari selama 5 hari (ekstra intestinal); 400-800 3 x sehari selama 5-10 hari. Atau, 35-50 mg / kgBB setiap hari dalam 3 dosis terbagi selama 5-10 hari. Maksimal: 2.400 mg setiap hari.
  5. Infeksi Bakteri Anaerob
    • Dewasa: Dosis awal: 800 mg dilanjutakan dengan dosis 400 mg setiap 8 jam biasanya selama sekitar 7 hari.
    • Anak Usia Anak Usia > 8 minggu hingga 12 tahun: 20-30 mg / kgBB sebagai dosis tunggal atau dibagi menjadi 7,5 mg / kgBB setia 8 setiap jam selama 7 hari. Dosis harian dapat ditingkatkan menjadi 40 mg / kg berdasarkan keparahan infeksi.
  6. Vaginosis Bakteri
    • Dewasa: 400 mg 2 x sehari selama 5-7 hari. Atau, 2.000 mg sebagai dosis tunggal.

Efek Samping

Gangguan neurologis berat, kejang-kejang, meningitis aseptik, neuropati perifer dan optik, kesemutan; superinfeksi (misalnya: superinfeksi jamur atau bakteri, diare yang berhubungan dengan C. difficile, nyeri dada, takikardia (detak jantung melebihi 100 kali per menit), mual, mulut kering, muntah, sembelit, sakit perut, diare, sakit kepala, vertigo, inkoordinasi, pusing.

Kontraindikasi:
Tidak boleh diberikan pada pasien yang hipersensitif terhadap metronidazol dan nitroimidazol lainnya. Tidak boleh digunakan bersamaan dengan disulfiram dalam 14 hari terakhir, tidak boleh digunakan bersama dengan alkohol atau produk yang mengandung propilen glikol selama atau 3 hari setelah penghentian terapi, tidak boleh diberikan pada wanita hamil selama trimester pertama dalam pengobatan trikomoniasis.

Interaksi Obat:
Dapat mempotensiasi efek antikoagulan warfarin. Dapat mempertahankan kadar litium serum meningkatkan risiko kerusakan ginjal. Konsentrasi serum menurun jika digunakan bersamaan dengan fenobarbital atau fenitoin. Dapat meningkatkan konsentrasi serum ciclosporin dan busulfan. Dapat mengurangi pembersihan ginjal 5-fluorouracil.

Kategori Kehamilan:
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Erbifin ke dalam Kategori B:
Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) yang tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).