Pengertian

Erphafillin merupakan obat yang di produksi oleh Erlimpex. Obat ini mengandung Aminophylline yang diindikasikan untuk mengobati asma bronkial. Aminophylline bekerja dengan memblokir phosphodiesterase-3 (PDE III), enzim yang mendegradasi 3'-5-adenosin monofosfat (cAMP), mempromosikan stimulasi katekolamin dari lipolisis, glikogenolisis, dan glukoneogenesis dan menginduksi pelepasan epinefrin dari sel medula adrenal. Sehingga menghasilkan bronkodilatasi (memperlebar luas permukaan bronkus dan bronkiolus pada paru-paru, dan membuat kapasitas serapan oksigen paru-paru meningkat), diuresis, sistem saraf pusat dan stimulasi jantung, dan sekresi asam lambung.

Keterangan

  • Golongan: Obat Bebas Terbatas
  • Kelas Terapi: Antiasmatik dan Sediaan untuk COPD
  • Kandungan: Aminophylline 200 mg
  • Bentuk: Tablet
  • Satuan Penjualan: Botol Plastik
  • Kemasan: Botol Plastik @ 100 Tablet
  • Farmasi: Erlimpex

Kegunaan

Erphafillin diindikasikan untuk mengobati asma bronkial dan bronkospasme (penyempitan saluran udara di bronkus) kronis.

Dosis & Cara Penggunaan

Erphafillin merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembelian nya harus menggunakan resep dokter. Selain itu, dosis penggunaan erphafillin juga harus dikonsultasikan dengan dokter dan apoteker terlebih dahulu sebelum digunakan, karena dosis penggunaan nya berbeda-beda setiap individu tergantung berat tidaknya penyakit yang diderita.

  • Dewasa
    Dosis awal: 2 x sehari 225-450 mg, dosis ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan.
  • Anak dengan berat badan > 40 kg
    Dosis awal: 2 x sehari 225 mg, tingkatkan dosis menjadi 2 x sehari 450 mg setelah 1 minggu sesuai kebutuhan.
  • Lansia
    Pengurangan dosis mungkin diperlukan.

Efek Samping

Mual, muntah, sakit kepala; hipokalaemia (kadar kalium dalam darah kurang dari normal), hipofosfatemia (kadar fosfat dalam darah kurang dari normal), hipernatremia (kadar natrium dalam darah lebih tinggi dari normal), hiperglikemia (kadar gula darah lebih tinggi dari normal), gangguan asam / basa; kecemasan, insomnia, kebingungan, gelisah, lekas marah, vertigo / pusing, tremor, kejang; gangguan visual; hipotensi (tekanan darah rendah); sakit perut, diare, refluks gastroesofagus, perdarahan saluran pencernaan; gatal seluruh tubuh, gatal biduran.

Kontraindikasi:
Tidak boleh diberikan pada penderita porfiria akut. Tidak boleh digunakan bersamaan dengan turunan xanthine lainnya.

Interaksi Obat:

  • Meningkatkan clearance jika digunakan bersamaan dengan aminoglutethimide, carbamazepine, moracizine, phenytoin, rifampicin, sulfinpyrazone, dan barbiturat.
  • Mengurangi clearance jika digunakan bersamaan dengan alopurinol, carbimazole, cimetidine, ciprofloxacin, clarithromycin, diltiazem, disulfiram, erythromycin, flukonazol, interferon, isoniazid, isoprenalin, metotreksat, mexiletine, nabroksulfon,  oksidoksidol, oksidoksol, oksidol, daparlaminol, daparlaminol, daparlaminol, daparlaminol, daparlaktan dan OC. Dapat meningkatkan konsentrasi fenitoin dalam kondisi stabil.
  • Berpotensi fatal: Peningkatan risiko toksisitas bersama turunan xanthine lainnya.