Pengertian

Erythromycin adalah antibiotik digunakan untuk mengatasi infeksi saluran pernapasan, infeksi kulit dan jaringan lunak, infeksi rentan, jerawat, dan mencegah infeksi yang di sebabkan oleh bakteri streptokokus. Penggunaan obat ini harus sesuai dengan petunjuk Dokter. Mekanisme kerja obat ini bekerja dengan menembus membran sel bakteri dan mengikat sub unit ribosom 50 S dan 70 S pada sel bakteri sehingga menyebabkan bakteri mati.

Keterangan

  1. Erythromycin Suspensi
    • Golongan: Obat Keras.
    • Kelas Terapi: Antibiotik Makrolida
    • Kandungan: Eritromisin 200mg/5ml
    • Bentuk: Sirup
    • Satuan Penjualan: Botol
    • Kemasan: Botol @ 60 mL
    • Farmasi: Rama Emerald Multi Sukses, Indofarma, Kimia Farma
  2. Erythromycin Kaplet
    • Golongan: Obat Keras.
    • Kelas Terapi: Antibiotik Makrolida
    • Kandungan: Eritromisin 500 mg
    • Bentuk: Kaplet
    • Satuan Penjualan: Strip
    • Kemasan: Strip @ 10 Kaplet
    • Farmasi: Sanbe Farma, Yarindo Farmatama, Rama Emerald Multi Sukses, Pyridam Farma, Indofarma
  3. Erythromycin Kasul
    • Golongan: Obat Keras.
    • Kelas Terapi: Antibiotik Makrolida
    • Kandungan: Eritromisin 250 mg
    • Bentuk: Kapsul
    • Satuan Penjualan: Strip
    • Kemasan: Strip @ 10 Kapsul
    • Farmasi:  Kimia Farma, Lucas Djaja.

Kegunaan

Erythromycin digunakan untuk infeksi saluran nafas, infeksi kulit dan jaringan lunak, jerawat dan mencegah demam rheumatik yang sering kambuh.

Dosis & Cara Penggunaan

Erythromycin merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembelian nya harus menggunakan resep dokter. Selain itu, dosis penggunaan erythromycin juga harus dikonsultasikan dengan dokter dan apoteker terlebih dahulu sebelum digunakan, karena dosis penggunaan nya berbeda-beda setiap individu tergantung berat tidaknya penyakit yang diderita.

  • Mencegah Infeksi Streptokokus pada Pasien dengan Bukti Demam Rematik atau Penyakit Jantung
    • Dewasa: Untuk pasien yang tidak dapat menggunakan penisilin atau sulfonamid: 250 mg 2 x sehari.
    • Anak: Untuk pasien yang tidak dapat menggunakan penisilin atau sulfonamid: usia 1 bulan - 2 tahun 125 mg 2 x sehari.
  • Infeksi Saluran Pernapasan, Infeksi Kulit dan Jaringan Lunak, Infeksi yang Rentan
    • Dewasa: 1-2 g setiap hari, dalam dosis terbagi 2-4, tingkatkan dosis hingga 4 g setiap hari untuk infeksi berat.
    • Dosis> 1 g harus diberikan dalam lebih dari 2 dosis terbagi.
    • Anak: 30-50 mg / kgBB setiap hari, dalam dosis 2-4 terbagi
    • Anak Usia Anak Usia 2-8 tahun: 1 g setiap hari dalam dosis terbagi.
  • Jerawat
    • Dewasa: 250 mg setiap hari.
    • Kasus yang parah mungkin memerlukan dosis hingga 500 mg 2 x sehari.

Efek Samping

  • Mual, muntah
  • Diare
  • Kembung
  • Flatulensi (Mulas lalu keluar angin dari anus atau kentut)
  • Nyeri dada
  • Nyeri pada perut.
  • Nyeri ulu hati
  • Ruam
  • Tinnitus (denging pada telinga)
  • Vertigo
  • Berpotensi Fatal: Superinfeksi bakteri akibat penggunaan jangka panjang.

Kontraindikasi

  • Tidak boleh di berikan pada pasien yang hipersensitifitas Erythromycin
  • Tidak boleh di berikan pada pasien yang menerima astemizole, terfenadine, cisapride, pimozide, ergotamine atau dihydroergotamine.

Interaksi Obat

  • Meningkatkan risiko toksisitas colchicine.
  • Meningkatkan sedasi jika di berikan bersamaan dengan triazolobenzodiazepin dan benzodiazepin (misalnya: Alprazolam, midazolam).
  • Teofilin dapat menurunkan dan simetidin dapat meningkatkan konsentrasi eritromisin.
  • Efek samping yang meningkat atau berkepanjangan jika di berikan bersamaan dengan siklosporin, carbamazepine, tacrolimus, alfentanil, disopyramide, rifabutin, quinidine, methylprednisolone, cilostazol, vinblastine dan bromocriptine.
  • Meningkatkan risiko toksisitas digoxin.
  • Meningkatkan perdarahan jika di berikan bersamaan dengan obat antikoagulan oral

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan erythromycin ke dalam Kategori B
Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) yang tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).