Pengertian

Fexazol merupakan obat berbentuk krim yang di produksi oleh Molex Ayus. Obat ini mengandung Ketoconazole yang diindikasikan untuk mengobati infeksi sistemik yang disebabkan oleh jamur. Mekanisme aksi obat ini adalah dengan mengganggu biosintesis trigliserida dan phopholipid dengan menghalangi CYP450 jamur, sehingga mengubah permeabilitas membran sel pada jamur yang rentan. Ketoconazole juga mampu menghambat enzim jamur lain yang mengakibatkan akumulasi konsentrasi hidrogen peroksida yang beracun.

Keterangan

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Antijamur
  • Kandungan: Ketoconazole 20 mg/g
  • Bentuk: Krim
  • Satuan Penjualan: Tube
  • Kemasan: Dus, Tube @ 5 g
  • Farmasi: Molex Ayus

Kegunaan

Fexazol diindikasikan untuk mengobati infeksi kulit yang disebabkan oleh jamur, dan Pityriasis versicolor (panu).

Dosis & Cara Penggunaan

Fexazol Merupakan obat bebas sehingga untuk pembeliannya tidak memerlukan resep Dokter.

Aturan Pakai:

Oleskan 1-2 x sehari pada daerah yang terinfeksi dan sekitarnya sampai setidaknya beberapa hari setelah hilangnya gejala.

Efek Samping

Ruam, iritasi, dermatitis, sensasi terbakar, gatal, angioedema (pembengkakan di bawah kulit yang disebabkan oleh reaksi alergi), reaksi alergi berat.

Kontraindikasi:
Tidak boleh diberikan pada pasien yang hipersensitif terhadap ketoconazole, tidak boleh diberikan pada penderita penyakit hati yang sudah ada sebelumnya.

Interaksi Obat:

  • Mengurangi penyerapan jika diberikan bersamaan dengan antimuskarinik, antasid, H2-blocker, PPI, dan sukralfat.
  • Konsentrasi plasma berkurang jika diberikan bersamaan dengan rifampisin, isoniazid, efavirenz, nevirapine, fenitoin.
  • Dapat mengurangi konsentrasi isoniazid dan rifampisin.
  • Dapat mengurangi kemanjuran kontrasepsi oral.
  • Dapat meningkatkan kadar substrat CYP3A4 serum, misalnya: digoxin, antikoagulan oral, sildenafil, tacrolimus.

Kategori Kehamilan:

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Fexazol ke dalam Kategori C: Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.