Pengertian

Fortum termasuk golongan obat keras yang mengandung zat aktif Ceftazidime. Ceftazidime adalah golongan obat antibiotik yang digunakan untuk mengobati infeksi akibat bakteri, mencegah infeksi bedah pada pasien yang menjalani operasi prostat, infeksi paru-paru Pseudomonal pada fibrosis kistik (penyakit genetika yang menyebabkan lendir-lendir di dalam tubuh menjadi kental dan lengket), infeksi tulang dan sendi, infeksi intra-abdominal dengan komplikasi, infeksi kulit dan struktur kulit, meningitis (peradangan yang terjadi pada lapisan pelindung otak) bakteri, terapi empiris (penggunaan antibiotik pada kasus infeksi yang jenis bakteri penyebabnya belum diketahui) untuk pasien demam neutropenia, komplikasi infeksi saluran kemih. Obat ini termasuk ke dalam golongan cephalosporin generasi ketiga.

Keterangan

  • Golongan: Obat Keras.
  • Kelas Terapi: Antibiotik.
  • Kandungan: Ceftazidime 1 g.
  • Bentuk: Serbuk Injeksi.
  • Satuan Penjualan: vial.
  • Kemasan: Vial @ 1 g.
  • Farmasi: PT Glaxo Wellcome Indonesia.

Kegunaan

Fortum digunakan untuk mencegah infeksi bedah pada pasien yang menjalani operasi prostat, infeksi paru-paru Pseudomonal pada fibrosis kistik (penyakit genetika yang menyebabkan lendir-lendir di dalam tubuh menjadi kental dan lengket), infeksi tulang dan sendi, infeksi intra-abdominal dengan komplikasi, infeksi kulit dan struktur kulit, meningitis, terapi empiris pada pasien dengan demam neutropenia

Dosis & Cara Penggunaan

Obat Keras. Harus dengan Resep Dokter.

  • Mencegah Infeksi Bedah pada Pasien yang Menjalani Operasi Prostat
    • Dewasa: 1 g pada saat induksi anestesi diulangi jika perlu setelah pengangkatan kateter. Diberikan melalui injeksi intramuskular dalam, injeksi intravena lambat selama 3-5 menit atau infus intravena hingga 30 menit.
    • Lansia usia > 80 tahun: Maksimal: 3 g setiap hari.
  • Infeksi Paru-paru Pseudomonal pada Fibrosis Kistik
    • Dewasa: 100-150 mg / kgBB setiap 8 jam melalui injeksi intramuskular dalam, injeksi intravena lambat selama 3-5 menit atau infus intravena selama 30 menit. Maksimal: 9 g setiap hari.
    • Anak dengan berat badan Lansia usia > 80 tahun: Maksimal: 3 g setiap hari.
  • Infeksi Tulang dan Sendi, Infeksi Intra-abdominal dengan Komplikasi, Infeksi Kulit dan Struktur Kulit
    • Dewasa: 1-2 g setiap 8 jam melalui injeksi intramuskular dalam, injeksi intravena lambat selama 3-5 menit atau infus intravena selama 30 menit.
    • Anak dengan berat badan Lansia usia > 80 tahun: Maksimal: 3 g setiap hari.
  • Bakterial meningitis, terapi empiris untuk pasien-pasien neutropenik demam, pneumonia nosokomial
    • Dewasa: 2 g setiap 8 jam melalui injeksi intramuskular dalam, injeksi intravena lambat selama 3-5 menit atau infus intravena selama 30 menit.
    • Anak berat badan Lansia usia > 80 tahun: Maksimal: 3 g setiap hari.
  • Infeksi saluran kemih dengan komplikasi
    • Dewasa: 1-2 g setiap 8-12 jam melalui injeksi intramuskular dalam, injeksi intravena lambat selama 3-5 menit atau infus intravena selama 30 menit.
    • Anak berat badan Lansia usia > 80 tahun: Maksimal: 3 g setiap hari.

Efek Samping

  • Warna kemerahan pada kulit bekas suntikan
  • Ruam
  • Gatal
  • Demam
  • Mual
  • Sakit perut
  • Muntah
  • Diare
  • Rasa kantuk yang berat
  • Linglung
  • Hilang kesadaran
  • Berhalusinasi
  • Kejang
  • Otot yang berkedut

Bila efek samping menetap bahkan memburuk segera hentikan pengonsumsian dan segera konsultasikan ke Dokter.

Kontraindikasi
Tidak boleh di berikan pada pasien yang hipersensitif (Reaksi Alergi) terhadap seftazidim atau sefalosporin lain.

Interaksi Obat

  • Dapat meningkatkan nefrotoksisitas aminoglikosida.
  • Dapat mengurangi efek terapi BCG (Vaksin untuk Tuberkulosis), vaksin tifoid (Vaksin untuk mencegah demam tifoid), Na picosulfate (Obat untuk sembelit).
  • Dapat meningkatkan efek antikoagulan antagonis vit K (mis. Warfarin).
  • Dapat meningkatkan kadar serum dengan probenesid (Obat untuk meningkatkan eksreksi asam urat dalam urin.

Kategori kehamilan

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Fortum ke dalam Kategori B: Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) yang tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).