Pengertian

Fosamax Plus merupakan obat yang mengandung Alendronate Natrium dan cholecalciferol. Fosamax Plus digunakan untuk mengobati osteoporosis (pengroposan tulang) pada wanita pasca menopause dengan risiko insufisiensi atau kekurangan vitamin D, meningkatkan massa tulang pada pria yang mengalami osteoporosis. Fosamax Plus juga digunakan untuk membantu mengurangi risiko patah tulang belakang dan pinggul.

Keterangan

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Obat yang Mempengaruhi Metabolisme Tulang
  • Kandungan: Alendronate Natrium 70 mg, cholecalciferol 70 mcg
  • Bentuk: Tablet
  • Satuan Penjualan: Strip
  • Kemasan: Strip @ 4 Tablet
  • Farmasi: Merck Sharp dan Dohme Indonesia

Kegunaan

Fosamax Plus digunakan untuk mengobati osteoporosis pada wanita pasca menopause, meningkatkan massa tulang pada pria yang mengalami osteoporosis.

Dosis & Cara Penggunaan

Fosamax Plus termasuk dalam longan Obat Keras, maka dari itu penggunaan obat ini harus dengan Anjuran dan Resep Dokter:

1 tablet, diminum 1 kali seminggu.

Efek Samping

  • Nyeri perut
  • Nyeri otot, tulang, dan sendi yang parah
  • Iritasi mukosa saluran pencernaan bagian atas;
  • Kanker esofagus
  • Sakit kepala, pusing, vertigo
  • Gatal

Kontraindikasi
Hindari penggunaan Fosamax Plus pada pasien:

  • Hipersensitif terhadap bisfosfonat lain dan turunan vitamin D.
  • Hipokalsemia
  • Kelainan kerongkongan (misalnya: archalasia atau striktur)
  • Ketidakmampuan untuk berdiri atau duduk tegak setidaknya selama 30 menit.

Interaksi Obat

  • Obat anti inflamasi non steroid dapat meningkatkan risiko ulserasi saluran pencernaan dan nefrotoksisitas alendronat.
  • Antasida dan garam kalsium dapat menurunkan konsentrasi serum alendronate.
  • Minyak mineral, orlistat, cholestyramine dan colestipol dapat mengganggu penyerapan vitamin D.
  • Antikonvulsan, simetidin, dan diuretik thiazide dapat meningkatkan katabolisme vitamin D.

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Fosamax Plus ke dalam Kategori C:
Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.