Pengertian

Indanox mengandung Clindamycin yang merupakan antibiotik untuk membantu mengobati infeksi serius yang disebabkan oleh bakteri, dengan cara menghentikan pertumbuhan bakteri. Beberapa kondisi yang dapat ditangani oleh Indanox di antaranya adalah infeksi pada sistem pencernaan, sendi dan tulang, darah, kulit, paru-paru, organ reproduksi wanita, serta infeksi pada organ-organ dalam lainnya. Selain itu, Indanox juga dapat digunakan untuk mengobati infeksi gigi yang tidak dapat diatasi oleh antibiotik lainnya. Hindari penggunaan Indanox pada ibu hamil dan menyusui.

Keterangan

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Antibiotik
  • Kandungan: Clindamycin 150 mg ; Clindamycin 300 mg
  • Bentuk: Kapsul
  • Satuan Penjualan: Kapsul
  • Kemasan: Box, 10 Strip @ 6 Kapsul
  • Farmasi: Guardian Pharmatama.

Kegunaan

Indanox digunakan sebagai Antibiotik untuk mengatasi infeksi bakteri.

Dosis & Cara Penggunaan

Obat Keras. Harus dengan Resep Dokter. Dosis akan disesuaikan dengan kondisi pasien, tingkat keparahannya, dan respons tubuh terhadap obat.

  • Dewasa: dosis 150-450 mg tiap enam jam.
  • Anak-anak: 8-16 mg/kg BB/hari dibagi dalam 3-4 dosis.

Efek Samping

Efek samping yang umum terjadi setelah mengonsumsi antibiotik ini adalah:
1. Iritasi tenggorokan.
2. Ruam di kulit yang terasa gatal.
3. Rasa tidak nyaman atau nyeri pada perut.
4. Diare.

Kontraindikasi:
Pasien yang hipersensitif terhadap Clindamycin atau Lincomycin.

Interaksi Obat:

  • Menghambat efek makrolida, ketolida, streptogramin, linezolid, dan kloramfenikol.
  • Meningkatkan aksi Atracurium.

Kategori Kehamilan:
FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) mengkategorikan Albiotin ke dalam Kategori B:
Studi pada sistem reproduksi binatang percobaan tidak memperlihatkan adanya resiko terhadap janin, tetapi studi terkontrol terhadap wanita hamil belum pernah dilakukan. Atau studi terhadap reproduksi binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping obat (selain penurunan fertilitas) yang tidak diperlihatkan pada studi terkontrol pada wanita hamil trimester I (dan tidak ada bukti mengenai resiko pada trimester berikutnya).