Pengertian

Inhipump adalah sediaan obat yang mengandung Omeprazole, Inhipump digunakan untuk membantu mengobati masalah perut dan kerongkongan tertentu, seperti naiknya asam lambung, nyeri pada ulu hati dan nyeri pada bagian perut terutama lambung. Inhipump bekerja dengan mengurangi jumlah asam lambung yang diproduksi, sehingga dapat mengurangi gejala seperti sakit maag, kesulitan menelan dan batuk terus-menerus. Inhipump membantu menyembuhkan produksi berlebihan asam pada perut dan kerongkongan, membantu mencegah bisul dan dapat membantu mencegah kanker kerongkongan.

Keterangan

  1. Inhipump Kapsul
    • Golongan: Obat Keras.
    • Kelas Terapi: Antasida, Antirefluks dan Antiulceran.
    • Kandungan: Omeprazole 20 mg.
    • Bentuk: Kapsul.
    • Satuan Penjualan: Strip.
    • Kemasan: Strip @7 Kapsul.
    • Farmasi: Pharos Indonesia PT.
  2. Inhipump Injeksi
    • Golongan: Obat Keras.
    • Kelas Terapi: Antasida, Antirefluks dan Antiulceran.
    • Kandungan: Omeprazole 40 mg.
    • Bentuk: Kapsul.
    • Satuan Penjualan: Strip.
    • Kemasan: Strip @7 Kapsul.
    • Farmasi: Pharos Indonesia PT.

Kegunaan

Inhipump digunakan sebagai Obat untuk mengatasi penyakit Maag kronis.

Dosis & Cara Penggunaan

Inhipump termasuk dalam golongan Obat Keras, maka dari itu penggunaan obat ini harus dengan Anjuran Dokter. Inhipump Injeksi dilakukan oleh Tenaga Medis Profesional:

  1. Nyeri Ulserasi
    Dewasa: 20 mg sekali sehari hingga 8 minggu. Pemeliharaan: 20 mg sekali sehari.
  2. Pengobatan H. pylori terkait dengan penyakit tukak lambung
    Dewasa: 20 mg untuk 1 minggu dalam kombinasi dengan klaritromisin dan dengan amoksisilin atau metronidazol. Atau, 40 mg sekali sehari selama 1 minggu dalam kombinasi dengan amoksisilin dan metronidazol.
    Anak: > 4 tahun 15-30 kg: 10 mg dosis.
    Berat badan 31-> 40 kg: 20 mg dosis. Semua dosis diberikan dalam kombinasi dengan amoksisilin dan klaritromisin selama 1 minggu.
  3. Bisul perut atau luka lambung
    Dewasa: 20 mg atau 40 mg sekali sehari. Durasi pengobatan: 4 minggu (ulkus duodenum), 8 minggu (tukak lambung). Pemeliharaan: 10-20 mg sekali sehari, dapat meningkat hingga 40 mg sesuai dengan respons.
  4. Penyakit refluks gastroesofagus
    Dewasa: 20 mg sekali sehari selama 4-8 minggu. Untuk kasus parah: 40 mg sekali sehari selama 8 minggu. Pemeliharaan: 10 mg sekali sehari, dapat meningkat menjadi 20-40 mg sekali sehari jika perlu.
    Anak: ≥1 tahun dengan berat 10-20 kg: 10 mg sekali sehari, meningkat menjadi 20 mg sekali sehari jika perlu. ≥2 tahun dengan berat> 20 kg: 20 mg sekali sehari, meningkat menjadi 40 mg sekali sehari jika perlu. Durasi pengobatan: 4-8 minggu.
  5. Sindrom Zollinger-Ellison
    Dewasa: Awalnya, 60 mg setiap hari, sesuaikan sesuai kebutuhan. Dosis umum: 20-120 mg setiap hari. Dosis> 80 mg harus diberikan dalam 2 dosis terbagi.

Efek Samping

Efek samping yang mungkin terjadi apabila mengkonsumsi Inhipump, antara lain:
1. Batuk, Pusing, Demam
2. Urtikaria (biduran)
3. Mengantuk dan Kelelahan
4. Ruam pada kulit
5. Nyeri sendi dan otot
6. Depresi, halusinasi dan Insomnia

Kontraindikasi:
Hindari penggunaan Inhipump pada pasien yang memiliki indikasi:
1. Hipersensitif terhadap omeprazole
2. Pasien yang sedang mengkonsumsi obat-obatan yang mengandung Rilpivirine, Nelfinavir, Atazanavir

Interaksi Obat:
Berikut adalah beberapa Interaksi obat yang umumnya terjadi saat penggunaan Inhipump:
1. Peningkatan risiko hipomagnesemia (kurang kadar magnesium dalam darah) dengan diuretik.
2. Peningkatan risiko efek kardiotoksik digoxin-diinduksi.
3. Dapat meningkatkan benzodiazepin plasma konsentrasi (misalnya diazepam), klaritromisin dan methotrexate.
4. Penurunan penyerapan itrakonazol, ketokonazol, posaconazole, dasatinib, garam besi.
5. Dapat memperpanjang eliminasi diazepam, cilostazol, fenitoin dan siklosporin
6. Dapat mengurangi efek antiplatelet clopidogrel.

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Inhipump ke dalam Kategori C:
Studi pada hewan percobaan menunjukan adanya efek samping pada janin namun belum ada studi kontrol pada wanita hamil, obat dapat diberikan apabila efek terapinya lebih besar dari resiko pada janin