Pengertian

Ivanes merupakan salah satu nama dagang dari Ketamine HCl yang diproduksi oleh Ikapharmindo. Obat ini digunakan sebagai zat anestesi ketika pasien yang akan melakukan prosedur pembedahan atau diagnosa medis, prosedur pembedahan yang tidak memerlukan relaksasi otot skelet, prosedur pembedahan jangka pendek (paling sesuai), prosedur pembedahan yang lebih lama (dengan menaikkan dosis), induksi efek anestesi yang diberikan sebelum pemberian anestesi umum yang lain, melahirkan normal yang memerlukan anestesi atau pembedahan cesar. Ivanes bekerja dengan cara menghilangkan kesadaran pengguna dalam jangka waktu tertentu. Obat ini disuntikan melalui intravena dan intramuskular, penggunaan obat ini harus dilakukan oleh Tenaga Medis Profesional dan sesuai dengan Aturan Dokter.

Keterangan

  • Golongan: Obat Keras.
  • Kelas Terapi: Anastesi Lokal dan Total.
  • Kandungan: Ketamine HCl 1000 mg/10 mL.
  • Bentuk: Cairan Injeksi.
  • Satuan Penjualan: Vial.
  • Kemasan: Vial @ 10 mL.
  • Farmasi: Ikapharmindo.

Kegunaan

Ivanes digunakan sebagai zat anestesi ketika pasien yang akan melakukan prosedur pembedahan atau diagnosa medis.

Dosis & Cara Penggunaan

Ivanes merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembelian nya harus menggunakan resep dokter. Selain itu, dosis penggunaan ivanes juga harus dikonsultasikan dengan dokter dan apoteker terlebih dahulu sebelum digunakan, karena dosis penggunaan nya berbeda-beda setiap individu tergantung berat tidaknya penyakit yang diderita. Penggunaan ivanes injeksi harus dibantu oleh tenaga ahli medis.

Intramuskular:

  • Dosis awal: 6.5-13 mg/kg BB.
  • Dosis 10 mg/kg BB biasanya menghasilkan efek anestesi selama 12 sampai 25 menit pada prosedur pembedahan.

Intravena:

  • Dosis awal: 1 mg/kg BB - 4.5 mg/ kg BB. Rata-rata dosis yang diperlukan untuk menghasilkan efek anestesi selama lima sampai sepuluh menit adalah 2 mg/kg BB.
  • Induksi anestesi: 1.0 - 2.0 mg/kg BB dengan kecepatan pemberian 0,5 mg/kg BB/menit, yang diberikan dalam syringe terpisah selama 1 menit.

Efek Samping

  1. Halusinasi
  2. Mimpi buruk
  3. Kebingungan
  4. Agitasi (gangguan kejiwaan)
  5. Perilaku abnormal
  6. Nistagmus (pergerakan mata yang tidak terkendali)
  7. Hipertonia (kekuatan otot dan berkurangnya kemampuan otot untuk berkontraksi).
  8. Tonik-klonik (kejang)
  9. Diplopia (gangguan penglihatan)
  10. Peningkatan tekanan darah dan denyut nadi
  11. Peningkatan laju pernapasan
  12. Mual dan muntah
  13. Eritema (peradangan akut yang terjadi pada kulit dan membran mukosa)
  14. Ruam seperti campak.


Kontraindikasi:

  1. Pasien yang memiliki riwayat hipersensifitas atau alergi.
  2. Penyakit jantung koroner berat atau miokard
  3. Trauma serebral.


Interaksi Obat:

  1. Atrakurium dan Tubokurarin dapat memicu efek hambatan neuromuskular atrakurium dan tubokurarin, termasuk depresi pernapasan dengan apnea.
  2. Anestesi terhalogenasi dapat memperpanjang waktu paruh eliminasi ketamin dan memperlambat pemulihan efek anestesi, meningkatkan risiko terjadinya bradikardi, hipotensi, atau penurunan cardiac output.
  3. Etanol, fenotiazin, penenang H­1-bloker, atau relaksan otot skelet dapat memicu depresi SSP danpeningkatan risiko terjadinya depresi pernapasan (penurunan dosis mungkin dibutuhkan).
  4. Teofilin dapat meningkatkan risiko konvulsi.
  5. Barbiturat dan gonis opiat dapat memperlama waktu pemulihan.
  6. Benzodiazepin dapat memperpanjang waktu paruh ketamin, sehingga waktu pemulihan menjadi lebih lama.
  7. Tiroksin dapat peningkatan tekanan arteri.
  8. Tiopental dapat memberi efek antagonis terhadap efek hipnotik tiopental
  9. Hormon tiroid dapat meningkatkan risiko hipertensi dan takikardi.
  10. Obat hipertensi: meningkatkan risiko terjadinya hipotensi.


Kategori Kehamilan:

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan ivanes ke dalam Kategori B
Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) yang tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).