Pengertian

Ketorolac adalah salah satu obat yang masuk ke dalam kelompok terapi obat anti-inflamasi non-steroid (AINS) yang digunakan untuk mengobati peradangan (inflamasi) dan nyeri. Ketorolac lebih efektif dalam mengatasi nyeri akibat peradangan dan non-peradangan dibandingkan obat lain dalam kelompok AINS, seperti ibuprofen, asam mefenamat, paracetamol, dll. Ketorolac bekerja dengan cara menghabat produksi prostaglandin dengan menghambat enzim cyclooxygenase, apabila produksi prostaglandin dihambat maka dapat mengurangi rasa nyeri dan mengurangi pembengkakan.

Keterangan

  1. Ketorolac Tablet
    • Golongan: Obat Keras.
    • Kelas Terapi: Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS).
    • Kandungan: Ketorolac Tromethamine 10 mg.
    • Bentuk: Tablet Salut Selaput
    • Satuan Penjualan: Strip
    • Kemasan: Strip @ 10 Tablet Salut Selaput
    • Farmasi: Etercon Pharma, Guardian Pharmatama, Bernofarm, Futamed Pharmaceutical, Natura Laboratoria Prima.
  2. Ketorolac Injeksi
    • Golongan: Obat Keras.
    • Kelas Terapi: Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS).
    • Kandungan: Ketorolac Tromethamine 30 mg/mL;
    • Bentuk: Ampul.
    • Satuan Penjualan: Ampul.
    • Kemasan: Ampul @ 1 mL.
    • Farmasi: Hexpharm, Natura Laboratoria Prima, Bernofarm, Mersifarma Trimaku Mercusana, Interbat, Meprofarm, Otto Pharmaceutical, Mahakam Beta Farma, Ethica, Phapros, Indofarma, Darya Varia Laboratoria, Novell Pharmaceutical Lab, Bernofarm, Guardian Pharmatama, Dexa Medica, Bernofarm.

Kegunaan

Ketorolac digunakan untuk mengobati nyeri akut sedang sampai berat setelah prosedur bedah.

Dosis & Cara Penggunaan

Ketorolac merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembelian nya harus menggunakan resep dokter. Selain itu, dosis penggunaan ketorolac juga harus dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu sebelum digunakan, karena dosis penggunaan nya berbeda-beda setiap individu tergantung berat tidaknya penyakit yang diderita. Penggunaan ketorolac injeksi harus dibantu oleh tenaga ahli medis.

  • Nyeri pasca operasi (Tablet)
    • Dewasa: 20 mg sebagai dosis awal, dilanjutkan dengan 10 mg setiap 4-6 jam. Dosis maksimum per hari adalah 40 mg, dengan jangka waktu maksimal 5 hari.
    • Lansia: 10 mg sebagai dosis awal, dilanjutkan dengan setiap 4-6 jam. Dosis maksimum per hari adalah 40 mg.
  • Nyeri pasca operasi (Injeksi)
    • Dewasa: Sedang sampai parah: Awalnya, 10 mg, diikuti 10-30 mg 4-6 jam sesuai kebutuhan (hingga 2 jam selama periode pasca operasi awal) melalui Intramuskular atau Intravena bolus selama ≥15 detik. Maksimal: 90 mg setiap hari. Durasi maksimum: 2 hari.
    • Lansia: Maks: 60 mg setiap hari

Efek Samping

Efek samping yang mungkin timbul saat penggunaan ketorolac yaitu:

  • Mengantuk
  • Pusing
  • Sakit kepala
  • Perubahan mental dan sensorik
  • Berkeringat
  • Mulut kering
  • Haus
  • Demam
  • Kejang
  • Nyeri dada

Kontraindikasi
Hindari pemberian kepada pasien dengan kondisi seperti infeksi mata, rheumatoid arthritis, asma atau gangguan pernapasan lainnya, penyakit jantung, hipertensi, gangguan ginjal, stroke, pembengkakan pada kaki atau tangan, dan diabetes.

Interaksi obat

  • Berpotensi meningkatkan risiko fatal, seperti perdarahan, jika digunakan bersama dengan obat antikoagulan, aspirin atau obat antiinflamasi nonsteroid dan pentoxifylline lainnya. Selain itu, obat seperti probenecid juga dapat meningkatkan kadar ketorolac dalam darah.
  • Sebaliknya, ketorolac dapat meningkatkan kadar zat litium.
  • Dapat meningkatkan kadar toksisitas obat methotrexate.
  • Obat-obatan golongan kortikosteroid, selective serotonin reuptake inhibitor (SSRIs), dan anti platelet berpotensi meningkatkan risiko tukak lambung atau perdarahan jika digunakan bersama dengan ketorolac.
  • Ketorolac yang digunakan bersama dengan diuretik, ciclosporin, tacrolimus, penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE inhibitors), atau obat angiotensin II receptor antagonists (ARBs) dapat meningkatkan risiko kerusakan pada ginjal (nefrotoksisitas).
  • Obat-obatan psikoaktif, seperti flouxetine, thiothixene dan alprazolam, dapat memicu halusinasi jika digunakan bersama dengan ketorolac. Dalam kasus yang langka, kejang-kejang dapat terjadi jika ketorolac digunakan bersama dengan obat antikejang, seperti phenytoin dan carbamazepine.

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Ketorolac ke dalam Kategori C pada (Trimester pertama dan kedua):
Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.

Untuk Trimester ketiga atau mendekati hari lahir, kategorinya berubah menjadi Kategori D:
Ada bukti positif risiko pada janin manusia, tetapi manfaat obat jika digunakan pada wanita hamil dapat diterima meskipun ada risiko (misalnya, jika obat tersebut diperlukan dalam situasi yang mengancam jiwa atau untuk penyakit serius dimana obat-obatan yang lebih aman tidak dapat digunakan atau tidak efektif).