Pengertian

Lamda injeksi merupakan obat yang di produksi oleh PT. Pharos Indonesia. Obat ini mengandung Amiodaron HCl yang berfungsi untuk gangguan irama jantung (Aritmia supraventrikular) yang tak berdenyut atau ritme ventrikel yang cepat, irama jantung berdetak lebih cepat (Fibrilasi ventrikel yang tak berdenyut atau takikardia ventrikel ) Mekanisme kerja obat ini adalah dengan cara menunda repolarisasi dengan memperpanjang durasi potensial aksi (APD) dan periode refraktori efektif (ERP) dalam jaringan miokard. Selain itu, ia menghambat masuknya transmembran Na melalui saluran cepat, mengurangi laju maksimal depolarisasi yang mirip dengan kelas I. Amiodarone merupakan inhibitor non-kompetitif dari tindakan α- dan β-adrenergik seperti pada kelas II dan menghasilkan efek chronotropic negatif pada jaringan nodal mirip dengan kelas IV.

Keterangan

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Obat Jantung
  • Bentuk: Injeksi
  • Kandungan:Amiodarone HCl 50 mg/mL
  • Satuan Penjualan: Ampul
  • Kemasan: Dus, 5 Ampul @ 3 ml
  • Farmasi: PT. Pharos Indonesia

Kegunaan

Obat ini digunakan untuk gangguan irama jantung (Aritmia supraventrikular) yang tak berdenyut atau ritme ventrikel yang cepat, irama jantung berdetak lebih cepat (Fibrilasi ventrikel yang tak berdenyut atau takikardia ventrikel )

Dosis & Cara Penggunaan

Obat Keras. Harus dengan Resep Dokter.

- Aritmia supraventrikular dan ventrikel
Awal: 5 mg / kg, dapat diulang hingga dosis total 1.200 mg/hari dosis ditingkatkan disesuaikan berdasarkan respons klinis selama 24 jam. Untuk kasus darurat, 150-300 mg dengan inj lambat lebih dari ≥3 menit. Injeksi berikutnya harus diberikan setidaknya 15 menit setelahnya.

- Fibrilasi ventrikel yang tak berdenyut atau takikardia ventrikel
Awal: 300 mg atau 5 mg / kg melalui injeksi cepat. Dosis lebih lanjut 150 mg atau 2,5 mg / kg dapat dipertimbangkan.

Efek Samping

Efek Samping:
Bradikardia (denyut jantung lambat), hipotensi (tekanan darah rendah), neuropati perifer (gangguan pada saraf perifer), gugup, parestesia (kesemutan), tremor, mimpi buruk, sulit tidur, sakit kepala, ataksia (masalah koordinasi fisik), tromboflebitis (peradangan pembuluh darah vena dan menyebabkan penggumpalan), mual, muntah, epididimitis (peradangan pada saluran belakang testis), fosfolipidosis, anemia hemolitik / aplastik, miopati (gangguan otot), neuropati optik / neuritis, kebutaan. berkeringat, perubahan warna kulit biru-abu-abu, kelelahan.

Kontraindikasi:
-Pasien yang memiliki riwayat hipersensitif terhadap amiodarone HCl.
-Pasien yang memiliki riwayat penyakit disfungsi tiroid, sensitivitas yodium, gagal napas berat, kolaps sirkulasi, hipotensi (tekanan darah rendah) berat, syok kardiogenik, sinus bradikardia.

Interaksi Obat:
-Meningkatkan konsentrasi dengan menghambat enzim CYP3A4 (misal. Inhibitor HIV-protease, simetidin).
-Berkurangnya konsentrasi dengan pemicu CYP3A4 (misal. Rifampisin, fenitoin).
-Dapat menginduksi bradikardia dengan β-blocker, Ca channel blocker, dan obat antiaritmia lainnya. -Dapat meningkatkan risiko aritmia dengan obat yang menyebabkan hipomagnesemia (kadar magnesium dalam tubuh rendah) dan hipokalemia (kadar kalim dalam darah rendah) (misal. Diuretik, kortikosteroid sistemik).
-Dapat meningkatkan konsentrasi siklosporin, clonazepam, digoxin, flecainide, fenitoin, procainamide, quinidine, simvastatin, dan warfarin. Dapat mempengaruhi obat yang merupakan
substrat P-glikoprotein.

Kategori Kehamilan
Menurut FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) mengkategorikan Lamda ke dalam kategori D dengan penjelasan sebagai berikut:

Terbukti menimbulkan resiko terhadap janin manusia, tetapi besarnya manfaat yang diperoleh jika digunakan pada wanita hamil dapat dipertimbangkan (misalnya jika obat diperlukan untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa atau penyakit serius dimana obat yang lebih aman tidak efektif atau tidak dapat diberikan).