Pengertian

Profecom Suppositoria merupakan produk obat yang diproduksi oleh Combiphar. Obat ini mengandung Ketoprofen yang diindikasikan untuk Osteoarthritis (sendi-sendi terasa sakit, kaku, dan bengkak), Rheumatoid arthritis (peradangan sendi), ankylosing spondylitis (peradangan sendi pada punggung). Mekanisme kerja obat ini adalah mengurangi peradangan.

Keterangan

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Obat Anti Inflamasi Non Steroid
  • Kandungan: Ketoprofen 100 mg
  • Bentuk: Suppositoria
  • Satuan Penjualan: Strip
  • Kemasan: Strip @ 10 Suppositoria
  • Farmasi: Combiphar.

Kegunaan

Profecom diindikasikan untuk Osteoarthritis (sendi-sendi terasa sakit, kaku, dan bengkak), Rheumatoid arthritis (peradangan sendi), ankylosing spondylitis (peradangan sendi pada punggung).

Dosis & Cara Penggunaan

Obat Keras. Harus dengan Resep Dokter.

Dewasa: 100 mg sekali sehari (malam hari). Maksimal: 200 mg setiap hari.

Efek Samping

Efek Samping yang mungkin terjadi adalah:
Retensi Na dan cairan, efek sistem saraf pusat (misalnya kantuk, pusing), risiko hiperkalemia (kadar kalium dalam darah lebih tinggi dari normal), penglihatan kabur, anemia, diskrasia darah berat yang jarang (misalnya agranulositosis (sumsum tulang gagal membentuk granulosit), trombositopenia (jumlah trombosit kurang dari normal), anemia aplastik), kelainan fungsi hati (misalnya peningkatan kadar enzim transaminase), gangguan ginjal, gagal jantung, tinnitus (bunyi berdenging pada telinga), muntah, mual, sakit perut, pencernaan yg terganggu, perut kembung, sembelit, gastritis, mulut kering, diare, tukak lambung, infeksi saluran kemih, anoreksia (gangguan makan).

Kontraindikasi:
Riwayat proktitis (peradangan pada jaringan lapisan rektum bagian dalam) atau wasir, gangguan ginjal dan hati berat, kehamilan (trimester ketiga).

Interaksi Obat:
Meningkatkan kadar dan risiko toksisitas dengan litium, digoksin, metotreksat. Meningkatkan risiko ulserasi gastrointestinal, perforasi dan perdarahan dengan obat anti inflamasi non steroid, aspirin, kortikosteroid, dan antikoagulan lainnya (misalnya: Warfarin, heparin). Eksaserbasi gagal jantung dengan glikosida jantung. Meningkatkan risiko hiperkalemia dan toksisitas ginjal dengan inhibitor ACE, diuretik, antagonis reseptor angiotensin, heparin, siklosporin, tacrolimus, trimethoprim. Mengurangi efek diuretik dan ACE inhibitor atau agen antihipertensi lainnya. Meningkatkan konsentrasi serum dengan probenesid. Meningkatkan risiko nefrotoksisitas dengan siklosporin dan tacrolimus.