Pengertian

Antraks merupakan penyakit infeksi yang ditularkan dari binatang yang membawa bakteri Bacillus anthracis. antraks dapat menimbulkan bermacam-macam gejala dan serangan –bisa pada kulit, saluran pencernaan, dan pernapasan.

Antraks yang menyerang pernapasan umumnya dapat berakibat fatal, bahkan dapat menyebabkan penderitanya meninggal dunia. Kasus antraks sebetulnya sangat jarang terjadi. Namun bakteri penyebab antraks, pada beberapa kondisi, sering digunakan oleh teroris sebagai serangan senjata biologi atau bioterorisme.

Penyakit Anthrax (Urfin/Shutterstock)

Penyebab

Antraks disebabkan oleh infeksi bakteri Bacillus anthracis. Bakteri ini menginfeksi hewan, terutama sapi. Manusia bisa tertular penyakit antraks bila terkena kontak dengan hewan yang sakit atau mempergunakan produk dari hewan yang sakit tersebut (misalnya kulit atau bulunya). Akan tetapi, tidak semua orang dengan begitu mudahnya rentan tertular bakteri ini.

Antraks lebih rentan dialami oleh beberapa orang tertentu, seperti:

  • Peternak
  • Dokter hewan
  • Orang yang bekerja di tempat pengolahan daging
  • Pasukan militer yang rentan terpapar bioterorisme

Diagnosis

Pada tahap awal, dokter akan melakukan wawancara lengkap, terutama terkait kemungkinan adanya kontak pasien dengan hewan atau produk hewan yang menderita antraks. Lalu dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh, termasuk di kulit dan rongga mulut.

Jika gejala antraks muncul di kulit, maka perlu dilakukan teknik pemeriksaan cairan kulit di bawah mikroskop dengan pewarnaan metilen biru atau giemsa. Bila pasien mengalami gejala yang lebih berat seperti demam tinggi atau sesak napas, pemeriksaan kultur (pembiakan) darah juga diperlukan. Selain itu, bila ada gejala gangguan pernapasan, pemeriksaan rontgen dada akan diperlukan untuk memastikan masalah yang terjadi.

Gejala

Jika penderita terpapar bakteri antraks dari hasil kontak dengan hewan yang sakit, maka umumnya gejala antraks yang terjadi berupa gangguan pada kulit. Gejala ini umumnya muncul 1–7 hari setelah bersentuhan dengan hewan yang sakit.

Pada kulit, akan muncul luka terbuka atau lecet yang terasa gatal. Dalam waktu singkat, luka itu menjadi borok yang bernanah. Luka ini biasanya timbul di kulit lengan, kepala, atau leher.

Luka yang berat pada kulit sering menyebabkan kelenjar getah bening di sekitarnya membengkak. Luka dan borok di kulit akibat antraks bisa berlangsung selama dua minggu sebelum akhirnya berubah menjadi jaringan parut yang menimbulkan bekas luka permanen di kulit.

Bakteri antraks yang masuk ke tubuh dengan cara terhirup ke saluran pernapasan umumnya mulai akan menimbulkan gejala 2–7 hari kemudian. Gejala diawali dengan demam dan bengkak di leher. Lalu muncul luka di rongga mulut. Luka tersebut akan melebar dan membentuk semacam membran atau selaput di mulut dalam dua minggu.

Selain itu, pasien umumnya akan mengalami nyeri tenggorokan, kesulitan menelan, dan kesulitan bernapas. Perdarahan di rongga mulut juga bisa terjadi. Gejala-gejala ini yang sering menyebabkan antraks yang masuk ke saluran napas menjadi berbahaya.

Jika bakteri antraks masuk melalui saluran pencernaan, gejala umumnya akan muncul sekitar 2–5 hari setelah bakteri tersebut tertelan oleh penderita. Gejala utamanya berupa demam dan nyeri perut. Selain itu, mual muntah, bahkan muntah darah juga bisa terjadi. Jika muntah darah sangat banyak, pasien pun bisa mengalami syok.

Pengobatan

Pengobatan antraks adalah dengan menggunakan antibiotik. Jenis antibiotik dan lama pemberian antibiotiknya tergantung dari gejala yang dialami oleh pasien. Namun secara umum, antibiotik yang umumnya digunakan adalah doksisiklin atau golongan kuinolon (seperti siprofloksasin dan levofloksasin).

Jika terjadi kondisi sesak napas yang berat atau syok, perawatan di ruang rawat intensif perlu dilakukan.

Pencegahan

Untuk mencegah tertular antraks, mereka yang sehari-hari bekerja dengan hewan atau produk hewan sebaiknya rutin mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun setiap kali selesai bekerja. Selain itu, selama bekerja, penting untuk selalu menggunakan alat pelindung diri yang lengkap berupa masker, goggle (semacam kacamata pelindung), sarung tangan, dan apron.