Pengertian

Depersonalisasi terjadi ketika seseorang merasa jiwanya terlepas dari raganya. Orang yang mengalami gangguan depersonalisasi merasa bahwa ia berada di luar raganya dan sedang mengawasi raganya tersebut, atau merasa seolah ia sedang bermimpi. 

Sebenarnya sebagian besar orang pernah mengalami kondisi ini secara singkat, namun tidak semuanya merasa terganggu. Keseharian pun tetap berjalan normal. 

Bila kondisi ini hanya dialami sesaat dan tidak mengganggu hidup sehari- hari, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Akan tetapi bila kondisi ini berkelanjutan hingga mengganggu aktivitas, apa yang dialami bisa jadi merupakan gangguan depersonalisasi. 

Tidak jarang gangguan depersonalisasi ini menimbulkan stres hingga depresi. Itulah sebabnya orang yang mengalami kondisi ini harus segera mencari bantuan. Gangguan depersonalisasi memerlukan terapi khusus, baik terapi psikis maupun obat-obatan medis.

Meskipun bisa dialami siapa saja, gangguan depersonalisasi ini umumnya terjadi pada remaja hingga dewasa muda. Anak-anak dan lansia relatif jarang mengalami gangguan ini.

Penyakit Gangguan Depersonalisasi (Natalia Lebedinskaia/Shutterstock)

Diagnosis

Gangguan depersonalisasi didiagnosis melalui wawancara medis-psikiatrik, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium.

Pada wawancara medis umumnya seseorang akan mengungkapkan perasaanya, di mana ia menganggap jiwanya berada di luar raganya. Seolah- olah ia sedang bermimpi dan melihat raganya berjalan sendiri. 

Dokter akan menelusuri lebih jauh kaitan antara kondisi tersebut dengan adanya trauma psikis tertentu. Misalnya kehilangan orang yang ia sayangi, bencana alam, dan sebagainya. 

Setelah itu, perangkat wawancara psikiatrik berupa Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) dapat digunakan untuk memastikan diagnosis gangguan depersonalisasi lebih lanjut.

Pada kasus tertentu, gangguan depersonalisasi juga dapat disebabkan oleh adanya gangguan kesehatan tertentu, misalnya penyakit otak. Atau penyebab lain seperti penggunaan obat- obat tertentu, penyalahgunaan obat dan alkohol. 

Untuk mengevaluasi kemungkinan ini, dilakukan pemeriksaan fisik dan juga pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan seperti pemeriksaan laboratorium darah, urine, pencitraan berupa Computed Tomography (CT) Scan maupun Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Penyebab

Penyebab gangguan depersonalisasi sebenarnya belum diketahui pasti. Beberapa orang memiliki kecenderungan mengalami gangguan ini dibandingkan dengan orang yang lain. 

Peningkatan risiko ini diperkirakan berhubungan dengan faktor genetik dan adanya tekanan negatif dari lingkungan. Dengan faktor ini, seseorang berpotensi lebih besar mengalami gangguan depersonalisasi, terutama setelah menghadapi peristiwa besar di hidupnya yang sifatnya tidak menyenangkan. Peristiwa tersebut dapat berupa trauma psikis masa kecil, kehilangan, peperangan, penganiayaan, pemerkosaan, pencabulan, atau bencana alam.

Walau umumnya dialami akibat trauma psikis, gangguan depersonalisasi juga dapat muncul akibat adanya penyakit lain dalam tubuh. Contoh penyakit lain dan kondisi yang dapat memicu gangguan depersonalisasi adalah kejang, tumor dan penyakit lain dalam otak, gangguan kejiwaan lain hingga penyalahgunaan obat.

Gejala

Gejala yang umumnya dialami seseorang dengan gangguan depersonalisasi meliputi:

  • Perasaan bahwa jiwanya berada di luar raganya. Ia merasa seolah-. Olah sedang bermimpi atau sedang mengontrol pikiran dan gerakannya dari luar.
  • Merasa tangan, kaki atau bagian tubuh lain mengecil dan kepalanya terbekap kain.
  • Apatis terhadap lingkungan sekitar.
  • Kerap bersikap datar, sulit merasa sedih, gembira atau marah.

Gejala ini dapat berlangsung dalam hitungan jam, hari, minggu atau bahkan bulan dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Pengobatan

Penanganan terhadap gangguan depersonalisasi bisa dilakukan dengan metode terapi dan penggunaan obat-obatan.

  • Psikoterapi

Modalitas utama pengobatan gangguan depersonalisasi adalah psikoterapi. Psikoterapi atau terapi kejiwaan bertujuan untuk menelusuri penyebab yang mendasari munculnya gangguan. 

Terapi ini juga akan membantu penderita gangguan depersonalisasi berdamai dengan masa lalunya, mengumpulkan keutuhan jiwanya, dan kembali menjalankan kehidupan pribadi dan sosial sehari-hari.

  • Obat-obatan medis

Selain psikoterapi, pada kasus tertentu juga dibutuhkan terapi tambahan berupa obat medis. Obat medis ini terutama diperlukan jika gangguan depersonalisasi juga disertai dengan depresi atau gangguan cemas.

  • Terapi keluarga

Dukungan dan peran serta keluarga dalam membantu penderita gangguan depersonalisasi juga dibutuhkan. 

Keluarga harus memahami bahwa proses pemulihan ini mungkin memakan waktu lama. Penting agar setiap orang memastikan dirinya bersikap positif selama fase pemulihan ini berlangsung.

  • Terapi musik dan seni

Terapi musik dan seni juga bisa menjadi pengobatan pendukung dalam mengatasi gangguan depersonalisasi, Terapi ini akan membuat penderitanya lebih bebas mengungkapkan ekspresi dengan cara positif.

  • Hipnosis klinis

Sebagai terapi alternatif, pada penderita gangguan depersonalisasi juga dapat diberikan hipnosis klinis. 

Hipnosis ini dilakukan dengan teknik tertentu guna membuat penderitanya rileks. Selain itu, melalui terapi ini penderita diajak untuk mengalihkan konsentrasinya, mengeksplorasi hal-hal yang mendasari gangguannya tersebut dengan santai untuk kemudian secara bertahap mengatasinya.

Komplikasi

Bila tidak ditangani, gangguan depersonalisasi dapat membuat penderitanya sulit fokus dalam mengerjakan pekerjaan. Selain itu, ia juga akan sulit mengingat sesuatu, sulit berkomunikasi dengan keluarga dan orang di sekitar, dapat memicu gangguan cemas, depresi hingga merasa tidak lagi memiliki masa depan.

Pencegahan

Dukungan dan intervensi psikis secara cepat sangat diperlukan ketika seseorang mengalami kejadian traumatis untuk menghindari gangguan depersonalisasi.