Penyakit Penyakit HIV - Gejala, Penyebab, Pengobatan - Klikdokter.com
searchtext customer service
Penyakit HIV

Penyakit HIV

Penyakit

Pengertian

Apa itu HIV? HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus.

Virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh yang selanjutnya melemahkan kemampuan tubuh melawan infeksi dan penyakit.

Obat atau metode penanganan HIV belum ditemukan. Namun, perkembangan penyakit dapat diperlambat dengan menjalani pengobatan tertentu sehingga penderitanya dapat menjalani hidup dengan normal.

AIDS adalah tahap akhir dari infeksi HIV, yaitu ketika kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah tidak ada lagi.

Dengan pendeteksian dan penanganan dini, penderita HIV tidak akan naik kelas menjadi AIDS.

Artikel Lainnya: Ada Anggota Keluarga Mengalami Gejala HIV? Lakukan Ini!

Statistik HIV/AIDS

Menurut data WHO yang tercatat pada akhir 2015, terdapat 36.7 juta penderita HIV di seluruh dunia.

Dari angka tersebut, sebanyak 18.2 juta penderita telah mendapatkan pengobatan antiretroviral.

Di akhir 2015, pertumbuhan pengidap baru mencapai 2.1 juta orang.

Sedangkan, menurut UNAIDS, pada 2015 terdapat 690 ribu pengidap HIV.

Sebanyak 250 ribu di antaranya adalah wanita berusia 15 tahun ke atas. Sedangkan, jumlah anak-anak dan remaja pengidap HIV tercatat sebanyak 17 ribu orang.

Angka kematian akibat AIDS mencapai 35 ribu orang, yang menyebabkan 110.000 anak usia 0-17 tahun menjadi yatim-piatu.

Penyebaran HIV

HIV dapat ditemukan di dalam cairan tubuh orang yang terinfeksi. Cairan tubuh yang dimaksud adalah cairan sperma, cairan vagina, cairan anus, darah, dan ASI.

Namun, HIV tidak dapat tersebar melalui keringat atau urine. HIV termasuk virus yang rapuh, tidak bisa bertahan lama di luar tubuh manusia.

Umumnya, penyebaran virus HIV terjadi melalui hubungan seksual yang tidak aman dan bergantian menggunakan jarum suntik saat memakai narkoba.

Cara penyebaran lainnya termasuk:

  • Penularan dari ibu kepada bayi pada masa kehamilan, pada saat proses melahirkan atau menyusui
  • Melalui seks oral
  • Melalui penggunaan alat bantu seks yang dipakai bergantian
  • Melalui transfusi darah dari orang yang terinfeksi
  • Memakai jarum, suntikan, dan perlengkapan menyuntik lain yang sudah terkontaminasi

Artikel Lainnya: Ini Alasan Tak Perlu Jauhi Teman yang Terkena HIV/AIDS!

Gejala

Gejala HIV

Infeksi HIV muncul dalam tiga tahap:

  • Tahap pertama adalah serokonversi, yakni periode waktu tertentu di mana antibodi HIV sudah mulai berkembang untuk melawan virus
  • Tahap kedua adalah masa ketika tidak ada gejala HIV yang muncul
  • Tahap yang ketiga merupakan tahap akhir infeksi HIV

Tahap Pertama

Orang yang terinfeksi virus HIV akan mengalami sakit mirip seperti flu, beberapa minggu setelah terinfeksi, selama satu hingga dua bulan.

Kemudian, setelah kondisi tersebut, HIV dapat tidak menimbulkan gejala apa pun selama beberapa tahun. Fase ini disebut sebagai serokonversi.

Gejala HIV yang paling umum terjadi adalah:

  • Demam
  • Tenggorokan sakit
  • Muncul ruam
  • Pembengkakan noda limfa
  • Diare
  • Kelelahan
  • Nyeri otot dan sendi

Namun, gejala HIV di atas bisa saja merupakan gejala dari penyakit lain.

Untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi HIV atau tidak, harus dilakukan tes HIV.

Semakin cepat kondisi diketahui, maka tingkat keberhasilan pengobatan akan semakin tinggi.

Tahap Kedua

Setelah gejala awal menghilang, biasanya HIV tidak menimbulkan gejala lebih lanjut selama bertahun-tahun.

Dalam periode ini infeksi HIV berlangsung tanpa menimbulkan gejala.

Virus terus menyebar dan merusak sistem kekebalan tubuh. Pengidap akan tetap merasa sehat.

Bahkan, ia bisa saja sudah menularkan infeksi kepada orang lain. Tahap ini dapat berlangsung hingga 10 tahun atau lebih.

Tahap Ketiga

Tahap ini disebut juga sebagai tahap HIV simtomatik. Apabila pengidap HIV tidak mendapat penanganan tepat, virus akan melemahkan tubuh dengan cepat.

Pada tahap ketiga ini, pengidap lebih mudah terserang penyakit serius. Tahap akhir ini dapat berubah menjadi AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome).

Berikut adalah gejala-gejala HIV yang muncul

  • Demam terus menerus lebih dari sepuluh hari
  • Merasa lelah setiap saat
  • Sulit bernapas
  • Diare parah
  • Infeksi jamur pada mulut, tenggorokan, dan vagina
  • Muncul bintik ungu pada kulit yang tidak akan hilang
  • Hilang nafsu makan sehingga berat badan turun drastis

Penyakit mematikan yang dengan mudah menyerang penderita AIDS antara lain kanker, pneumonia, dan TB. Pada tahap ini, pengobatan HIV tetap dilakukan.

Artikel Lainnya: Fase Gejala HIV yang Wajib Anda Tahu

Penyebab

Penyebab HIV

Umumnya, penyebaran virus HIV yang terjadi di negara Indonesia adalah melalui hubungan seksual yang tidak aman dan bergantian menggunakan jarum suntik saat memakai narkoba. Seseorang yang terinfeksi HIV bisa menularkannya kepada orang lain, bahkan sejak beberapa minggu sejak tertular.

Semua orang berisiko terinfeksi HIV. Namun, beberapa penyebab HIV, antara lain:

  • Hubungan seks tanpa kondom, baik sesama jenis kelamin maupun heteroseksual.
  • Sering membuat tato atau melakukan tindik, dengan alat yang tidak steril.
  • Berhubungan seksual dengan pasangan yang memiliki penyakit kelamin
  • Suntikan Narkoba
  • Berhubungan seksual dengan pengguna narkotika.

Artikel Lainnya: Mengenal Obat Pencegahan HIV

Diagnosis

Diagnosis HIV

Satu-satunya cara untuk mengetahui seseorang mengidap HIV atau tidak adalah dengan melakukan tes HIV yang disertai konseling.

Segeralah mengunjungi fasilitas kesehatan terdekat (klinik VCT) untuk tes HIV jika Anda memiliki risiko terkena virus tersebut.

  • Konseling

Layanan tes HIV dan konseling ini disebut sebagai VCT (Voluntary Counseling and Testing) atau KTS (Konseling dan Tes HIV Sukarela).

Tes bersifat sukarela dan rahasia. Pertama, konseling akan diberikan terlebih dahulu.

Hal ini bertujuan untuk mengetahui tingkat risiko infeksi, pola hidup keseharian, serta cara menghadapi hasil tes jika terbukti positif.

  • Tes darah

Setelah itu akan dilakukan tes HIV, yakni tes darah untuk melihat adanya antibodi terhadap HIV di dalam sampel darah.

Jika hasil tes negatif tetapi konseling menyimpulkan bahwa yang bersangkutan memiliki faktor risiko cukup besar, tes HIV akan diulang satu sampai tiga bulan setelah tes pertama dilakukan.

Hasil Tes Positif HIV

Apabila hasil tes darah kembali positif, konselor atau dokter akan menyampaikannya kepada pengidap.

Mereka juga akan menjelaskan detail mengenai situasi yang sedang terjadi, termasuk cara menghadapinya.

Pengidap HIV juga harus melakukan tes darah secara rutin untuk memantau perkembangan virus sebelum pengobatan dilakukan.

Pengobatan dimulai setelah virus mulai melemahkan sistem kekebalan tubuh pengidap. Kondisi ini dapat dilihat dengan memeriksa kadar sel CD4 dalam darah.

Pengobatan biasanya disarankan jika CD4 sudah mendekati 350. T

ujuannya adalah untuk menurunkan kadar virus HIV serta untuk mencegah penyakit yang terkait dengan HIV. Kemungkinan untuk menyebarkannya juga menjadi lebih kecil.

Artikel Lainnya: Pengembangan Vaksin HIV, Ini Update-nya!

Yayasan dan Organisasi di Indonesia

Di Indonesia, ada yayasan dan organisasi yang fokus mengurus HIV/AIDS, di antaranya:

  • Komunitas AIDS Indonesia
  • ODHA Indonesia
  • Yayasan Spiritia
  • Yayasan Orbit
  • Yayasan AIDS Indonesia

Sedangkan lembaga pemerintah yang dibentuk khusus untuk menangani HIV/AIDS adalah Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN).

Jika hasil tes positif, Anda akan dirujuk ke klinik atau rumah sakit spesialis HIV.

Anda juga mungkin akan menjalani beberapa tes darah lain untuk melihat dampak dari HIV terhadap sistem kekebalan tubuh.

Pengobatan

HIV

Belum ada obat HIV, tetapi ada pengobatan HIV yang bisa memperlambat perkembangan penyakit HIV.

Perawatan ini bisa membuat orang yang terinfeksi untuk hidup lebih lama dan bisa menjalani pola hidup sehat.

Ada berbagai macam jenis obat HIV yang dikombinasikan untuk mengendalikan virus.

1. Obat-obatan Darurat Awal HIV

Apabila seseorang merasa atau mencurigai dirinya dalam rentang waktu 3x24 jam baru terinfeksi virus, dapat mengonsumsi obat anti HIV yang bisa mencegah terjadinya infeksi.

Obat ini bernama post-exposure prophylaxis (PEP). Profilaksis adalah prosedur kesehatan yang bertujuan mencegah daripada mengobati.

PEP harus segera dimulai, maksimal tiga hari setelah terpapar terhadap virus. Pengobatan memakai PEP berlangsung selama sebulan. Tidak ada jaminan bahwa pengobatan HIV akan berhasil.

Artikel Lainnya: Cara Mencegah HIV Menular ke Bayi dengan Orang Tua Positif HIV

2. Obat-obatan Antiretroviral

Antiretroviral (ARV) adalah beberapa obat HIV yang digunakan untuk mengobati infeksi HIV. ARV akan memperlambat pertumbuhan virus.

Seiring berjalannya waktu, HIV bisa menjadi kebal terhadap satu golongan ARV. Oleh karena itu, kombinasi golongan ARV akan diberikan pada penderita. Misalnya:

  • NNRTI (Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitors). Berfungsi untuk menghilangkan protein yang dibutuhkan virus HIV untuk menggandakan diri.
  • NRTI (Nucleoside reverse transcriptase inhibitors). Berfungsi untuk menghambat perkembangan HIV di dalam sel tubuh.
  • Protease inhibitors. Berfungsi untuk menghilangkan protease, jenis protein yang dibutuhkan HIV untuk menggandakan diri.
  • Entry inhibitors. Menghalangi HIV masuk ke dalam sel CD4.
  • Integrase inhibitors. Jenis ARV ini menghilangkan integrase, protein yang digunakan HIV untuk memasukkan materi genetik ke dalam sel-sel CD4.
  • Pengobatan kombinasi ini lebih dikenal dengan nama terapi antiretroviral (ART). Biasanya pasien akan diberikan tiga golongan obat ARV. Kombinasi obat yang diberikan berbeda-beda pada tiap pengidap.

Begitu pengobatan HIV dimulai, obat tersebut harus dikonsumsi seumur hidup.

Jika satu kombinasi ARV tidak berhasil, bisa dikonsultasikan untuk menggantinya ke kombinasi ARV lain.

Pengobatan HIV baru bisa berhasil jika pengidap mengonsumsi obat secara teratur (pada waktu yang sama setiap kali minum obat). Jika melewatkan satu dosis saja, efeknya bisa meningkatkan risiko kegagalan.

Artikel Lainnya: Jenis-jenis Tes HIV yang Wajib Anda Tahu

3. Pengobatan HIV Wanita Hamil

Tersedia obat ARV khusus wanita hamil yang digunakan untuk mencegah penularan HIV dari ibu kepada bayinya.

Ada perbandingan 25 dari 100 bayi akan terinfeksi HIV jika tidak dilakukan pengobatan. Risiko ini bisa diturunkan jika diberikan pengobatan sejak awal.

Pemberian ARV bisa menekan risiko menularkan virus melalui persalinan normal, tetapi pada beberapa kasus proses melahirkan yang disarankan adalah melalui operasi cesar.

Ibu yang terinfeksi HIV sebaiknya tidak memberikan ASI kepada bayinya. Virus bisa menular melalui proses menyusui.

Efek Samping Pengobatan

Semua pengobatan pasti memiliki efek samping. Tak terkecuali pengobatan untuk HIV ini.

Berikut ini contoh efek samping yang umumnya terjadi:

  • Kelelahan
  • Mual
  • Ruam
  • Diare
  • Perubahan suasana hati

Pencegahan

Pencegahan HIV

Sangat penting untuk melakukan pencegahan terhadap infeksi HIV karena obat utama spesifik untuk mengatasi virus tersebut masih belum ditemukan.

Terapkan beberapa upaya pencegahan berikut.

1. Lakukan hubungan seksual yang sehat

Hindari berhubungan seksual dengan lebih dari satu pasangan. Dengan melakukan upaya ini, risiko terinfeksi HIV akan lebih rendah.

2. Hindari berhubungan ketika ada infeksi kelamin

Terlepas dari apapun penyebab infeksi kelamin yang dialami, sangat disarankan untuk menghindari berhubungan seksual ketika sedang mengalami infeksi pada kelamin.

Hal ini disarankan karena infeksi kelamin paling sering disebabkan oleh infeksi menular seksual yang tinggi risiko mengalami infeksi HIV.

Artikel Lainnya: Siapa Saja yang Harus Melakukan Tes HIV?

3. Menghindari penggunaan jarum suntik berulang

Apa pun alasan yang mendasarinya, penggunaan jarum suntik hanya boleh satu kali dan hanya untuk satu orang.

Tidak disarankan untuk menggunakannya berulang karena dapat meningkatkan risiko infeksi, salah satunya HIV.

4. Menghindari tindik dan tato di tempat yang kurang bersih

Sangat penting untuk memperhatikan kebersihan alat dan tempat untuk tindik maupun tato. Jarum yang tidak steril dapat meningkatkan risiko infeksi, termasuk HIV.

5. Edukasi

Sangat penting untuk memberikan edukasi pada masyarakat dari berbagai lapisan dan usia terkait HIV agar disadari sejak dini dan terhindar dari infeksi tersebut.

Komplikasi

Infeksi Paru Karena HIV

Ketika seseorang mengalami HIV, maka daya tahan tubuh juga dapat menjadi jauh lebih lemah dan rentan terkena berbagai penyakit, seperti:

1. Infeksi paru

Orang yang terinfeksi HIV lebih rentan terkena infeksi paru seperti tuberkulosis dan gejala yang muncul dapat jauh lebih berat dibandingkan dengan orang tanpa infeksi HIV.

2. Toksoplasmosis

Ketika infeksi parasit toksoplasma menyerang orang dengan infeksi HIV dapat menyebar hingga ke otak dan dapat memicu kejang hingga penurunan kesadaran.

3. Herpes

Infeksi herpes pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah dapat menyebabkan gejala yang lebih berat.

Infeksi dapat menyebabkan kerusakan pada mata, saluran pernapasan dan saluran pencernaan.

4. Candidosis

Pasien dengan daya tahan tubuh yang menurun juga lebih rentan terkena infeksi jamur, baik pada rongga mulut, permukaan kulit hingga saluran pernapasan atau paru-paru.

5. Meningitis

Peradangan pada selaput otak atau meningitis dapat disebabkan oleh berbagai infeksi pada orang dengan HIV karena daya tahan tubuhnya yang menurun. Paling sering disebabkan oleh infeksi jamur.

6. Gangguan saraf

Meskipun tidak menyerang sel saraf secara langsung, namun kondisi psikologis akan mempengaruhi orang dengan HIV/AIDS dan bahkan bisa juga memicu demensia.

Artikel Lainnya: Penderita HIV/AIDS Berisiko Kena Kanker, Benarkah?

7. Wasting syndrome

Orang yang terinfeksi virus HIV akan mengalami penurunan berat badan yang signifikan, terlebih disertai dengan gejala diare kronis.

8. HIVAN

HIVAN atau HIV-associated nephropathy merupakan salah satu komplikasi yang dapat ditemukan pada orang dengan infeksi HIV yaitu gangguan pada ginjal.

Hal ini menyebabkan gangguan pada fungsi ginjal untuk mengeluarkan zat beracun dari tubuh.

9. Kriptosporidiosis

Pada orang yang mengalami infeksi HIV dapat terjadi penurunan daya tahan tubuh yang signifikan.

Hal ini dapat meningkatkan bakteri maupun parasit dalam tubuh sehingga dapat menyebabkan infeksi pada saluran pencernaan yang cukup berat.

Dapatkan informasi lainnya seputar kesehatan, penyakit, dan obat dengan mengunduh aplikasi KlikDokter.

(HNS/AYU)

Terakhir Diperbaharui: 22 Desember 2021

Diperbaharui oleh:  dr. Valda Gracia

Ditinjau oleh:  dr. Valda Gracia

 

Referensi:

Centers for Disease Control and Prevention. Diakses 2021. What is HIV?

World Health Organization. Diakses 2021. HIV/AIDS.

NHS. Diakses 2021. HIV and AIDS

Reporter dan Editor
Reporter

Klikdokter

KONSULTASI LEBIH LANJUT

avatar

dr. Felix Satwika, Sp. PD

Spesialis Penyakit Dalam
wallet
Rp. 50.000
avatar

dr. Trina Primalia Irawanti, Sp. PD

Spesialis Penyakit Dalam
wallet
Rp. 50.000
avatar

dr. Sahat Ericson Tampubolon, Sp. PD

Spesialis Penyakit Dalam
wallet
Rp. 25.000

ARTIKEL TERKAIT

Fase Gejala HIV yang Wajib Anda Tahu

Info Sehat
10 Mei

Media Digandeng untuk Tekan Kasus HIV

Info Sehat
27 Apr

Peneliti Temukan HIV Jenis Baru, Dinilai Lebih Infeksius

Info Sehat
07 Feb

Inilah Ciri Lidah Penderita HIV yang Patut Diwaspadai

Info Sehat
28 Jan

Waktu Tepat Tes HIV Setelah Berhubungan Tanpa Pelindung

Info Sehat
10 Jan
livechat