Pengertian

Mastitis merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan inflamasi atau peradangan pada jaringan payudara. Keadaan ini mungkin disertai infeksi, namun bisa juga terjadi tanpa adanya infeksi.

Mastitis sering kali dialami oleh ibu menyusui, yang dikenal dengan istilah mastitis laktasi atau mastitis puerperium. Kondisi ini sering kali terjadi pada tiga bulan pertama setelah melahirkan, namun bisa muncul hingga dua tahun setelah melahirkan.

Sedangkan pada wanita yang tidak menyusui, dapat muncul mastitis periduktal. Pria juga bisa terkena mastitis, meskipun sangat jarang ditemui. Umumnya, hanya satu payudara yang terkena kondisi ini.

Penyakit Mastitis (Pathdoc/Shutterstock)

Penyebab

Pada ibu menyusui, mastitis sering kali disebabkan saluran susu yang tersumbat. Hal ini menyebabkan keadaan stasis dari ASI, di mana ASI yang diproduksi tidak dapat dikeluarkan dari payudara. Keadaan stasis sendiri dapat dipengaruhi beberapa faktor. Misalnya latch on yang kurang baik saat menyusui, bayi yang kesulitan menyedot ASI dari payudara, dan kebiasaan menyusui yang tidak teratur.

Selain itu, dapat terjadi sumbatan saluran ASI akibat tekanan pada payudara. Misalnya akibat pakaian yang terlalu ketat. Keadaan stasis menyebabkan rentan muncul infeksi pada payudara. ASI sendiri tidak mengandung bakteri, namun bakteri dari permukaan kulit dapat masuk ke dalam jaringan payudara dan menyebabkan infeksi.

Pada wanita yang tidak menyusui, mastitis sering kali ditemukan pada wanita perokok berusia 20-an akhir hingga awal 30-an. Keadaan ini dinamakan mastitis periduktal dan dipercaya disebabkan kerusakan duktus akibat merokok. Mastitis juga bisa terjadi setelah melakukan tindik pada puting, terutama jika tidak dilakukan oleh tenaga profesional.

Diagnosis

Mastitis mudah dikenali melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik. Data mengenai kebiasaan menyusui sangat membantu. Oleh sebab itu, jangan ragu untuk menjawab dengan jujur pertanyaan dokter seputar kebiasaan menyusui Anda.

Jika diperlukan, sampel ASI Anda dapat diambil untuk diperiksa. Hal ini terutama penting apabila gejala mastitis cukup parah. Gejala mastitis sering kali kambuh atau keadaan Anda tidak membaik setelah mengonsumsi antibiotik.

Jika Anda tidak menyusui, maka diperlukan pemeriksaan penunjang untuk mengevaluasi mastitis. Bentuk pemeriksaan yang bisa dilakukan antara lain mamografi atau USG payudara. Hal ini mungkin diperlukan untuk membedakan mastitis dengan suatu tipe kanker payudara (inflammatory breast cancer) yang memiliki gejala serupa.

Gejala

Gejala yang mungkin ditemukan pada penderita mastitis antara lain:

  • Bagian payudara memerah dan bengkak
  • Area payudara tersebut nyeri apabila disentuh
  • Area payudara tertentu teraba panas
  • Benjolan pada payudara
  • Keluar cairan berwarna putih atau bercampur darah dari puting
  • Sensasi terbakar pada payudara, bisa dirasakan terus menerus atau hanya saat menyusui
  • Gejala serupa flu
  • Demam dan menggigil
  • Kelelahan
  • Tubuh terasa pegal atau nyeri
  • Rasa cemas, merasa stres

Pengobatan

Beberapa hal yang dapat segera Anda lakukan apabila curiga terkena mastitis adalah:

  • Kosongkan payudara yang terkena mastitis. Menyusuilah lebih sering dari biasanya dan awali dengan payudara yang terkena. Tak perlu khawatir, ASI tetap aman dikonsumsi bayi.
  • Gunakan pakaian dan bra yang longgar. Bila perlu, hindari penggunaan bra untuk sementara waktu.
  • Gunakan kompres dingin pada payudara untuk membantu mengurangi nyeri dan pembengkakan. Sesaat sebelum menyusui, Anda bisa menggunakan kompres hangat.
  • Beristirahat sebanyak mungkin.
  • Jika gejala tidak membaik dalam 12–24 jam, segera berkonsultasi dengan dokter. Bila disertai infeksi, umumnya dokter akan meresepkan antibiotik, yang harus dikonsumsi hingga habis.

Pencegahan

Selain itu, penting untuk mengetahui langkah mencegah mastitis. Upaya yang bisa dilakukan yaitu:

  • Memastikan latch on yang baik antara bayi dan payudara, serta bayi bisa menyusu dengan baik.
  • Menyusui sesering mungkin, mengikuti keinginan bayi.
  • Hindari menunda atau melewatkan waktu menyusui.
  • Jangan ragu membangunkan bayi untuk menyusui, terutama jika payudara terasa penuh.
  • Hindari tekanan pada payudara. Misalnya dengan menghindari penggunaan pakaian ketat.
  • Istirahat sebanyak mungkin.
  • Bergantian sisi payudara saat mulai menyusui. Misalnya jika saat ini diawali payudara kanan, maka berikutnya diawali payudara kiri.
  • Hindari memberikan bayi cairan lain selain payudara.