Penyakit Penyakit Autoimun - Gejala, Penyebab, Pengobatan - Klikdokter.com
searchtext customer service
Penyakit Autoimun

Penyakit Autoimun

Penyakit

Pengertian

Sistem daya tahan tubuh normalnya bisa membedakan antara sel tubuh dan sel asing. 

Namun, hal berbeda terjadi pada tubuh penderita penyakit autoimun yang justru bertindak sebaliknya.

Sistem imunitas penderita penyakit autoimun malah mempersepsikan bagian tubuh tertentu, misalnya sendi atau kulit, sebagai sel asing yang mengancam.

Itu sebabnya, sistem daya tahan tubuh memproduksi protein yang disebut autoantibodi untuk menyerang sel sehat tubuh.

Ada banyak sekali jenis penyakit autoimun. Misalnya, diabetes mellitus tipe 1, psoriasis, sclerosis multiple, inflammatory bowel disease (IBD), penyakit Graves, idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP), SLE (systemic lupus erythematosus), dan rheumatoid arthritis.

Jenis Penyakit

Setelah mengetahui apa itu autoimun, Anda juga perlu tahu jenis-jenisnya. Beberapa penyakit autoimun yang cukup sering ditemui adalah:

  • Diabetes melitus tipe 1 

Pada kondisi ini, sistem daya tahan tubuh menyerang sel-sel yang memproduksi insulin di pankreas.

  • Artritis reumatoid

Pada artritis reumatoid, sistem daya tahan tubuh dapat menyerang persendian. Ini kemudian menyebabkan keluhan seperti kemerahan, rasa panas, nyeri, dan kekakuan pada persendian tubuh.

  • Psoriasis

Psoriasis menyebabkan sel kulit menjadi berlipat ganda dengan cepat. Sel yang berlebih tersebut menumpuk dan membentuk ruam merah yang bersisik pada kulit bagian tubuh tertentu.

  • Sklerosis multipel

Penyakit ini menyebabkan kerusakan pada selubung mielin, lapisan pelindung yang menyelimuti sel saraf. Kerusakan pada selubung mielin tersebut dapat menyebabkan tanda dan gejala seperti rasa baal, kelemahan, gangguan keseimbangan, dan kesulitan berjalan.

  • Sistemik lupus eritematosus

Lupus dapat memengaruhi berbagai organ dalam tubuh. Beberapa gejala yang umum terjadi pada individu yang mengalami kondisi ini adalah nyeri pada persendian, rasa lelah, dan ruam pada kulit.

  • Inflammatory bowel disease (IBD)

Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kondisi adanya peradangan pada lapisan usus. Dua tipe IBD yang paling sering terjadi adalah penyakit Crohn, yang dapat terjadi pada bagian saluran cerna mana pun, dan kolitis ulseratif, yang umumnya memengaruhi usus besar dan rektum.

  • Penyakit Addison

Penyakit Addison dapat memengaruhi kelenjar adrenal, yang memproduksi hormon kortisol dan aldosteron. Kekurangan hormon-hormon tersebut dapat memengaruhi cara tubuh menyimpan dan menggunakan karbohidrat dan gula. Beberapa gejala yang dapat timbul adalah kelemahan, penurunan berat badan, dan kadar gula darah rendah.

  • Penyakit Graves

Penyakit Graves dapat menyerang kelenjar tiroid pada leher dan menyebabkan peningkatan produksi hormon tiroid. Hormon tiroid berfungsi mengendalikan penggunaan energi atau metabolisme pada tubuh. Peningkatan kadar hormon tiroid dapat menyebabkan tanda dan gejala berupa rasa gugup, peningkatan denyut jantung, intoleransi terhadap udara panas, dan penurunan berat badan. Salah satu tanda yang cukup sering ditemui pada penyakit Graves adalah kondisi bola mata yang menonjol, yang disebut sebagai eksoftalmus.

  • Sindrom Sjogren

Kondisi ini menyerang persendian dan kelenjar yang memberikan lubrikasi atau pelumasan pada mata dan mulut. Tanda yang khas pada sindrom Sjogren adalah nyeri sendi, mata kering, dan mulut kering.

  • Tiroiditis Hashimoto

Pada penyakit ini, produksi hormon tiroid mengalami penurunan. Beberapa tanda dan gejala dari tiroiditis Hashimoto adalah peningkatan berat badan, sensitivitas terhadap udara dingin, rasa lelah, kerontokan rambut, dan pembesaran kelenjar tiroid.

  • Miastenia gravis

Miastenia gravis memengaruhi saraf yang membantu otak untuk menggerakkan otot. Saat terjadi kerusakan pada saraf-saraf tersebut, sinyal yang diproduksi oleh otak tidak dapat mengarahkan otot untuk bergerak. Gejala yang paling sering diamati adalah kelemahan otot yang memburuk dan aktivitas dan membaik dengan istirahat. Kondisi ini sering melibatkan otot yang mengendalikan kemampuan mengunyah dan otot pergerakan wajah.

  • Vaskulitis

Vaskulitis dapat terjadi apabila sistem daya tahan tubuh menyerang pembuluh darah. Peradangan yang terjadi dapat mempersempit pembuluh darah arteri dan vena, sehingga darah yang mengalir melalui pembuluh darah menjadi berkurang.

  • Anemia pernisiosa

Kondisi ini memengaruhi protein yang disebut sebagai faktor intrinsik, yang membantu usus untuk menyerap vitamin B12 dari makanan. Tanpa vitamin tersebut, tubuh tidak dapat memproduksi sel darah merah dalam jumlah yang cukup. Anemia pernisiosa lebih sering terjadi pada mereka yang lanjut usia.

  • Penyakit celiac

Mereka dengan kondisi ini tidak dapat mengonsumsi makanan yang mengandung gluten, yakni protein yang ditemukan pada gandum dan produk gandum. Saat sistem daya tahan tubuh mendeteksi adanya gluten di saluran cerna, sistem tersebut akan menyerangnya dan menyebabkan terjadinya peradangan.

Artikel Lainnya: Penyakit Autoimun yang Sering Mengintai Anak

Penyebab

Penyebab penyakit autoimun masih terus diteliti hingga kini oleh para pakar. 

Namun, beberapa sumber menduga bahwa pola makan, riwayat infeksi, dan ekspos terhadap zat kimia tertentu dapat berperan dalam terjadinya penyakit autoimun.

Selain itu, juga diketahui bahwa ada kelompok orang yang memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengalami penyakit autoimun tertentu dibandingkan dengan kelompok lainnya.

Gejala

Autoimun

Terdapat 80 penyakit lebih yang dikategorikan penyakit autoimun. Beberapa di antaranya punya gejala awal, seperti:

  • ruam kulit
  • kelelahan
  • nyeri dan dan kaku persendian 
  • pegal otot
  • demam
  • diare persisten dan gangguan pencernaan
  • rambut rontok
  • sulit konsentrasi
  • kesemutan di tangan dan kaki
  • jantung berdebar dan mudah berkeringat

Meski punya gejala awal yang sama, setiap jenis penyakit autoimun bisa memiliki gejala tersendiri yang spesifik. 

Misalnya, psoriasis, yakni kondisi peradangan di kulit, ditandai dengan ruam merah, kulit kering, tebal, bersisik, dan mudah terkelupas. 

Diabetes tipe 1 bisa membuat penderitanya merasa lemas, sering haus, serta berat badan turun tanpa sebab jelas.

Faktor Risiko

Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko menderita penyakit autoimun, yakni:

  • jenis kelamin perempuan
  • memiliki riwayat penyakit autoimun dalam keluarga
  • memiliki berat badan berlebih atau obesitas
  • merokok
  • menggunakan obat-obatan yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh, seperti golongan steroid
  • terkena paparan bahan kimia atau cahaya matahari
  • menderita infeksi bakteri atau virus, misalnya infeksi virus Epstein Barr

Artikel Lainnya: Jenis Penyakit Autoimun yang Paling Umum Sering Menyerang

Diagnosis

Berkonsultasi dengan dokter

Berikut beberapa tahap untuk mendiagnosis penyakit autoimun.

  • Anamnesis Klinis

Dokter akan melakukan wawancara medis untuk mengetahui apakah ada riwayat penyakit autoimun di keluarga.

Dokter juga akan bertanya apakah pasien mengalami gejala-gejala yang berkaitan dengan penyakit autoimun dengan jenis tertentu. 

  • Pemeriksaan Fisik 

Pemeriksaan fisik meliputi tekanan darah, denyut nadi, suhu, serta menilai ruam/perubahan warna pada kulit, benjolan pada leher, persendian, kekuatan otot dan persepsi.

  • Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan antara lain:

  • tes ANA (antinuclear antibody), untuk mengetahui aktivitas antibodi yang menyerang tubuh;
  • tes autoantibodi, digunakan untuk mengecek karakteristik antibodi di dalam tubuh;
  • C-Reactive protein test, untuk mendeteksi adanya peradangan di dalam tubuh;
  • tes darah lengkap, dilakukan untuk mengetahui jumlah sel darah merah serta sel darah putih;
  • tes sedimentasi eritrosit, dilakukan untuk mengetahui level keparahan peradangan di tubuh; serta
  • lumbal pungsi untuk mengetahui kadar albumin pada cairan otak.
  • Pemeriksaan Penunjang lainnya 

Beberapa pemeriksaan penunjang, misalnya:

  • X-ray
  • CT-Scan
  • EMG

Pengobatan

Penanganan Penyakit Autoimun

Penyakit autoimun pada umumnya belum bisa disembuhkan. Akan tetapi, gejalanya bisa diringankan ataupun dicegah.

Pengobatan penyakit autoimun tergantung jenis penyakit, gejala, serta tingkat keparahan.

Untuk meringankan gejala, dokter juga dapat meresepkan obat-obatan, seperti:

  • obat anti-inflamasi nonsteroid (OAINS), termasuk ibuprofen dan aspirin, yang membantu mengatasi nyeri
  • obat anti-TNF, misalnya infliximab, yang dapat mencegah peradangan karena rheumatoid arthritis serta psoriasis
  • obat penekan sistem kekebalan, contohnya kortikosteroid, yang menghambat perkembangan penyakit serta memelihara fungsi organ

Selain itu, beberapa gaya hidup yang dianjurkan dokter untuk penderita penyakit autoimun antara lain:

  • mengonsumsi makanan sehat
  • berhenti merokok
  • rutin berolahraga
  • menurunkan berat badan
  • menghindari stres
  • menggunakan sunblock saat cuaca terik

Artikel Lainnya: Hidup Sehat Meski dengan Penyakit Autoimun

Pencegahan

Sejauh ini, belum ada cara yang efektif 100 persen mencegah penyakit autoimun. 

Akan tetapi, beberapa upaya bisa dilakukan demi menekan risiko penyakit autoimun, yakni:

  • berolahraga secara rutin
  • tidak merokok
  • menjaga berat badan tetap ideal
  • menggunakan alat pelindung ketika bekerja, agar terhindar dari paparan bahan kimia
  • menjaga kebersihan tubuh agar terhindar infeksi virus dan bakteri

Komplikasi

Beberapa komplikasi penyakit autoimun yang perlu diwaspadai:

  • penyakit jantung
  • depresi atau gangguan kecemasan
  • kerusakan saraf
  • deep vein thrombosis
  • kerusakan organ, seperti hati atau ginjal

Kapan Harus ke Dokter? 

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika Anda masuk dalam kelompok berisiko dan mengalami gejala awal yang telah disebutkan di atas.

Segera periksakan diri ke dokter apabila:

  • terdapat gangguan pada tingkat kesadaran, progresivitas, kardiopulmonal yang tak kunjung membaik, semakin memburuk
  • mengalami gejala yang spesifik

Unduh aplikasi KlikDokter untuk tahu info lengkap seputar kesehatan. Gratis, lho!

(HNS/AYU)

Terakhir Diperbaharui: 22 Februari 2022

Diperbaharui: dr. Rio Aditya

Ditinjau Oleh: dr. Rio Aditya

Referensi:

  • Hopkins Medicine. Diakses 2022. What are common symptoms of autoimmune disease. 
  • Medlineplus. Diakses 2022. Autoimmune diseases.
  • Cleveland Clinic.  Diakses 2022. Autoimmune diseases.
Reporter dan Editor
Reporter

Klikdokter

ARTIKEL TERKAIT

Manfaat Terapi Biologis untuk Penanganan Psoriasis

Info Sehat
15 Mei

Risiko ADHD Bayi Meningkat pada Ibu dengan Penyakit Autoimun?

Info Sehat
19 Feb

Penderita Autoimun Harus Hindari Hal Ini Saat Terkena COVID-19

Info Sehat
18 Feb

Deretan Penyakit Autoimun yang Dapat Menyerang Wanita

Info Sehat
21 Sep

Otot Lemah, Kenali Penyakit Autoimun Myasthenia Gravis

Info Sehat
11 Sep
livechat