Pengertian

Mata dan kulit yang kuning. Dua tanda yang sangat mudah dikenali ini menjadi gejala khas dari penyakit kuning. Penyakit ini terjadi akibat penumpukan bilirubin di darah dan jaringan tubuh lainnya.

Billirubin terbentuk dari pemecahan sel-sel darah merah dan normal yang terdapat dalam darah. Akan tetapi kondisi tertentu dapat mengakibatkan penumpukan zat sisa ini. Berbagai hal dapat menyebabkan sakit kuning –mulai dari infeksi, penyakit kelainan darah, hingga keganasan.

Kendati dapat menyerang siapa saja, dari bayi hingga lansia, risiko penyakit kuning meningkat pada orang-orang tertentu. Beberapa kelompok yang berisiko lebih tinggi di antaranya adalah mereka dengan berat badan berlebih, pengguna narkoba suntik, serta mereka yang mengalami kecanduan alkohol.

Penyakit Kuning

Penyebab

Penyebab umum penyakit kuning di antaranya: 

  • Infeksi
    Di antaranya hepatitis dan malaria.
  • Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti asetaminofen, penisilin, beberapa jenis obat KB, atau obat steroid.
  • Penyalahgunaan alkohol
    Penggunaan alkohol dalam jumlah besar dan jangka waktu lama dapat meningkatkan risiko kerusakan hati.
  • Sumbatan saluran empedu
    Normalnya empedu disalurkan dari hati ke usus lewat suatu saluran kecil. Sumbatan akibat batu, kanker atau tumor di jaringan sekitarnya dapat mengakibatkan sumbatan sehingga terjadi penumpukan empedu dan pemecahan bilirubin yang berlebih.
  • Kanker

Diagnosis

Dalam proses penentuan diagnosis penyakit kuning, dokter akan melihat tanda-tandanya. Ketika dijumpai seseorang dengan mata ataupun kulit yang terlihat kuning, dokter akan melakukan wawancara medis dan serangkaian pemeriksaan penunjang. 

Penggalian informasi medis mendalam dilakukan untuk menelusuri kemungkinan penyakit yang mendasari gejala kuning ini. Pertanyaan yang umum diajukan di antaranya:

  • Adakah nyeri perut, kulit gatal, atau penurunan berat badan secara drastis.
  • Adakah perubahan warna air kencing atau urine menjadi kuning gelap.
  • Apakah ada riwayat perjalanan ke daerah endemis penyakit tertentu, misalnya daerah timur Indonesia untuk melihat kemungkinan malaria.
  • Adakah riwayat konsumsi alkohol dalam jumlah banyak.
  • Adakah riwayat penggunaan narkoba suntik. 

Selain wawancara medis, serangkaian pemeriksaan penunjang juga dibutuhkan untuk mengetahui penyebab pasti penyakit kuning yang terjadi. Pemeriksaan tersebut meliputi:

  • Pemeriksaan darah
    Ini dilakukan untuk mengetahui kadar bilirubin darah, fungsi hati, dan mengevaluasi adanya infeksi seperti malaria atau hepatitis.
  • USG, CT Scan atau MRI
    Berbagai pemeriksaan imaging ini dilakukan untuk melihat langsung bentuk dan struktur hati. Berbagai kelainan fungsi dan struktur hati, misalnya tumor hati atau kanker dapat ditunjukkan lewat gejala kuning.
  • Biopsi hati
    Biopsi dilakukan dengan pengambilan sedikit jaringan hati dan diperiksa di bawah mikroskop. Pemeriksaan ini dilakukan bila terdapat kecurigaan ke arah keganasan. Selain untuk diagnosis, biopsi hati juga dilakukan untuk menentukan stadium kanker.

Gejala

Gejala penyakit kuning yang sangat khas meliputi: 

  • Kulit dan selaput putih mata menjadi kuning
  • Feses berwarna pucat
  • Air kencing berwarna kuning gelap. 

Pengobatan

Pengobatan penyakit kuning didasarkan pada masalah penyebabnya. Bila kuning disebabkan oleh virus hepatitis, umumnya kuning akan berangsur menghilang seiring dengan pulihnya fungsi hati. 

Bila penyebab sakit kuning karena adanya sumbatan saluran empedu, maka salah satu langkah pengobatan yang harus dilakukan adalah operasi. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui penyebabnya terlebih dahulu sebelum menentukan langkah pengobatan yang tepat.

Pencegahan

Gaya hidup sehat merupakan salah satu kunci pencegahan penyakit kuning. Pertahankan berat badan berada dalam kategori ideal. Hindari pula konsumsi alkohol. Kalau sangat terpaksa, pastikan mengonsumsi alkohol pada batas aman, sesekali saja, dan tidak berlebihan. 

Jaga diri dan minimalkan risiko penularan virus hepatitis dari lingkungan sekitar. Penularan virus hepatitis dapat dihindari dengan menjaga kebersihan diri, menghindari penggunaan jarum suntik secara bersamaan, dan menjauhi seks bebas.